Posted in renungan

Rezeki Itu…

Bismillahi,

Sependek yang saya tahu :
….

Rezeki itu,
Saat kita membuka mata..
Saat kita diberi kemampuan untuk membaca …

Rezeki itu,
Ketika kita bisa bangun dari tidur pagi tadi, padahal tak ada satupun yang
bisa menjamin kita untuk sanggup bangun sendiri..

Rezeki itu,
Saat kita pergi ke kantor, dan selamat sampai pulang ke rumah kembali..

Rezeki itu…
Saat kita mau ngetik B di keyboard komputer kita, dan yang keluar di
layar monitor ya huruf B,.. mau ngetik S, ya keluar S…
Bukan M, bukan O, bukan N…, bukan Y, bukan E, dan bukan T…

Rezeki itu,
Saat kita masih bisa tersenyum dan tertawa
Dan saat kita lalu bisa diam lagi setelah tertawa…
Ngeri rasanya kalau kita bisa tertawa, dan terus tertawa… dan kita sama
sekali nggak tahu cara menghentikannya..

Rezeki itu,
Saat HP kita berdering, dengan sepenuh kesadaran, langsung kita tempelkan
di kuping.. bukan di dengkul kita, atau pantat…
Rezeki itu saat kita masih diberi kesadaran penuh untuk bisa bersikap
waras..

Rezeki itu,
Ketika alis, ketika bulu mata, ya segitu-gitu aja, nggak tumbuh pesat
seperti rambut ;
karena bila alis dan bulu mata seperti rambut, nggak tahu gimana jadinya..
tata wajah dan estetikanya bakal berubah sama sekali.. dan entah, mungkin
orang di sekeliling kita bisa saja menganggap kita seperti anak gorila
lepas dari bapaknya…

Rezeki itu,
Ketika kita makan tempe, rasanya senikmat tempe, bukan keras seperti batu.
..

Rezeki itu,
Saat hati kita merasa damai..
Saat perasaan terasa tenang..

Rezeki itu..
Kalau kita mau ngupil, yang masuk ke hidung telunjuk, dan bukan jempol
kaki..

Rezeki itu kalau apa yang ada dalam pikiran selaras dengan kehendak badan
:
Ingin rasanya tertawa saat merenungkan, bagaimana sedihnya kalau kita mau
salaman, yang terjadi malah kita memukul orang.. bagaimana kalau kehendak
akal kita nggak sejalan dengan apa yang dimaui anggota badan..

Rezeki itu,
Kalau kita sadar kita numpang, yang punya tumpangan memberi kebebasan
sepenuhnya kepada kita untuk berbuat sesuka hati..
Dan di bumi ini kita numpang. Badan dan pikiran kita pun numpang, karena
sejuta persen sahamnya bukan punya kita. Makanya kita nggak pernah tahu
kapan si Empunya saham itu mau melikuidasi kita dari dunia.. suka-suka
Dia…Lha wong Dia yang punya..

Rezeki itu,
Saat kita masih diberi nafas entah berapa ribu kali embusan setiap hari,
dan udara sebagai stok dan aset termahal buat kita untuk bisa bertahan
hidup, tak pernah dimintai bayaran oleh yang Punya.. Tak terbayangkan
materi apa yang bisa menggantikan udara…

Rezeki itu,
Saat kita masih bisa sakit gigi..
Saat kita masih mampu duduk, berdiri, berlari,

Rezeki itu,
Ketika dikumpulkan seluruh orang terhebat di dunia, didukung kemampuan
superteknologi dan ultrakomputer sekalipun, tetap tak bisa kita
menghitungnya…

Rezeki itu,
Terlalu kecil bila hanya diartikan materi..

Wallahu A’lam


Ade M

-vied-

sekedar perenungan diambil dari salah satu milis

Posted in renungan

Apa Besuk Pagi Kita Belum Mati ?

Secara harfiah, husnul khatimah berarti akhir atau kesudahan yang baik.
Dalam istilah agama Islam berarti akhir hayat (kehidupan) yang baik.
Kebalikannya adalah su’ul khatimah, artinya akhir hayat yang buruk. Akhir
kehidupan yang dialami oleh manusia itu sering disebut sakaratul maut.

Apakah kita akan mati? Apakah kita akan segera sampai ke garis sakaratul
maut ?

Lebih rasional kalau pertanyaannya kita balik: apakah kita akan tidak
mati? Siapakah yang bisa memastikan bahwa nanti sore atau besok pagi, atau
bahkan lima menit yang akan datang, ia pasti akan masih hidup? Puncak ilmu
orang hidup adalah mengenai maut. Yang paling masuk akal bagi segala
perjalanan ilmu manusia adalah kesadaran bahwa sewaktu-waktu akan mati.
Pengetahuan yang paling substansial dan primer adalah bahwa sekarang juga
setiap manusia harus siap untuk berakhir hidupnya. Bahwa jisim (badan)
manusia tidak hidup abadi.

Seorang pengusaha bisa menuliskan rancangan-rancangan bisnisnya pada skala
jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang, bahkan diproyeksikan
sampai 50 tahun ke depan. Akan tetapi kalimat awal dari teks rancangannya
sesungguhnya berisi kalimat: Dengan catatan bahwa selama jangka waktu
tersebut ia belum meninggal dunia.

Seorang politisi sepenuhnya berhak mentargetkan keinginannya untuk duduk
di kursi kepresidenan. Seorang sarjana mutlak diperbolehkan meniti
karirnya sampai sejauh-jauhnya dan setinggi-tingginya. Tetapi semua itu
dengan catatan bahwa berlakunya hanya kalau mereka pasti masih hidup. Itu
namanya ilmu orang tua.

dari milis sebelah

vied

Posted in humor

Sopir Metro Mini dan Juru Dakwah

Di pintu akherat seorang malaikat menanyai seorang supir metro
mini, “apa kerja kamu selama di dunia ?”
Jawab: “Saya supir metro mini, pak.”
Lalu malaikat itu memberikan kamar yang mewah untuk supir metro
tersebut dan peralatan yang terbuat dari emas.
Lalu datang seorang juru dakwah agama…
Malaikat pun bertanya “apa kerja kamu di dunia ?”
Jawab : “saya seorang juru dakwah, pak..”
Lalu malaikat itu memberikan kamar yang kecil dan peralatan yang
terbuat dari kayu. Melihat itu juru dakwah pun protes.
“Pak kenapa kok saya yang juru dakwah mendapatkan yang lebih rendah
dari seorang supir metro..?”
Dengan tenang malaikat itu menjawab: “Begini Pak.. Pada saat Bapak
ceramah, Bapak membuat orang-orang semua tertidur.. sehingga
melupakan Tuhan. Sedangkan pada saat supir Metro mini mengemudi, ia
membuat orang-orang berdoa….”

Posted in humor

“PENGAKUAN SEBELUM MATI”

Ada sepasang suami istri, sang suami sudah hampir mati dan sang istri
memegangi tangan suaminya. Lalu suaminya berkata…

Suami: “Istriku…”

Istri: “Stss… diamlah sayang… jangan terlalu banyak bicara… karena
nanti akan memperparah kesehatanmu…”

Suami: “Tapi istriku… ada yang perlu aku akui…”

Istri: “Tak ada yang perlu diakui lagi…”

Suami: “TIDAK!! Kalo aku tidak mengakuinya, maka aku tidak akan meninggal
dengan tenang… Taukah kamu, aku telah meniduri kakakmu, ibumu, dan teman
baikmu..”

Istri: “Aku sudah tau sayang… maka dari itu aku meracuni kamu!!”

Posted in humor

Cerita Seratus Kata Diawali Huruf “J”

Sekedar buat senyum simpul dari milis tetangga ….

Abunawas dikasih assignment dari Sultan Baghdad
membuat satu cerita seratus kata tapi setiap kata
mesti dimulai dengan huruf ‘J’. Terperanjat Abunawas,
tapi setelah berfikir keras terutama otak kanannya,
diapun mulai bercerita:

Jeng Juleha janda judes, jelek jerawatan, jari
jempolnya jorok. Jeng Juleha jajal jualan jamu jarak
jauh Jogya-Jakarta. Jamu jagoannya: jamu jahe.
“Jamu-jamuuu…, jamu jahe-jamu jaheee…!” Juleha
jerit-jerit jajakan jamunya, jelajahi jalanan.
Jariknya jatuh, Juleha jatuh jumpalitan.
Jeng Juleha jerit-jerit: “Jarikku jatuh, jarikku
jatuh…” Juleha jengkel, jualan jamunya
jungkir-jungkiran, jadi jemu juga. Juleha jumpa Jack,
jejaka Jawa jomblo, juragan jengkol, jantan, juara
judo. Jantungnya Jeng Juleha janda judes jadi
jedag-jedug. Juleha janji jera jualan jamu, jadi
julietnya Jack.
Johny justru jadi jelous Juleha
jadi juliet-nya Jack.
Johny juga jejaka jomblo, jalang, juga jangkung.
Julukannya, Johny Jago Joget. “Jieehhh, Jack jejaka
Jawa, Jum?” joke-nya johny. Jakunnya jadi
jungkat-jungkit jelalatan jenguk Juleha. “Jangan
jealous, John…” jawab Juleha.
Jumat, Johny jambret, jagoannya jembatan Joglo jarinya
jawil-jawil jerawatnya Juleha. Juleha jerit-jerit:
“Jack, Jack, Johny jahil, jawil-jawil!!!” Jack
jumping-in jalan, jembatan juga jemuran. Jack jegal
Johny, Jebreeet…, Jack jotos Johny. Jidatnya Johny
jenong, jadi jontor juga jendol… jeleekk. “John,
jangan jahilin Juleha…!” jerit Jack…Jantungnya
Johny jedot-jedotan, “Janji, Jack, janji… Johnny
jera…” jawab Johny.
Juni, Jack jadikan Johny join jualan jajanan jejer
Juleha. Jhony jadi jongosnya Jack-Juleha, jagain
jongko, jualan jus jengkol jajanan jurumudi jurusan
Jogja-Jombang, julukannya Jus Jengkol Johny
“jolly-jolly jumper.”
Jumpalagi,

jek…!!! jangan joba-joba jikin jerita
jayak jini jagi ja…!!! jusah jacanya…!!!