Pernahkah Anda membaca sebuah buku yang memberikan “resep” spiritual saat sedang terdesak? Saya pernah. Di buku itu, sang penulis bercerita bahwa ketika kita sedang dalam kondisi terjepit, bacalah Surah Al-Fatihah sebanyak-banyaknya. Beliau mempraktikkannya saat hampir tertinggal kereta karena macet. Keajaiban terjadi: sesampainya di stasiun, ternyata keretanya delay. Ia pun batal tertinggal.
Kisah itu membekas di kepala saya, sampai akhirnya saya mengalaminya sendiri.
Keajaiban di Jalur Samarinda-Balikpapan
Waktu itu saya masih tinggal di Samarinda. Saya sudah bersiap 3-4 jam sebelum keberangkatan menuju Balikpapan untuk mengejar pesawat. Namun, rencana manusia seringkali bertemu dengan ujian. Terjadi kebakaran di jalur yang saya lalui, mengakibatkan macet total.
Di tengah kepanikan di dalam mobil travel, saya teringat kisah di buku itu. Saya mulai mengamalkan Al-Fatihah sepanjang perjalanan. Terus menerus, tanpa putus. Sesampainya di bandara, secara logika saya sudah pasti tertinggal pesawat. Tapi keajaiban itu benar-benar nyata: pesawat saya delay.
Dalam hati, saya takjub. “Luar biasa, ternyata benar-benar ajaib ya fadhilah Al-Fatihah ini,” gumam saya saat itu.
Jebakan “Mengatur” Tuhan
Beberapa waktu kemudian, saya kembali harus ke bandara. Namun kali ini, ada sedikit rasa percaya diri yang berlebihan. Saya sengaja mempetkan waktu keberangkatan agar tidak terlalu lama menunggu di bandara. Pikir saya sederhana: “Ah, kalau ada apa-apa, kan tinggal baca Al-Fatihah saja seperti kemarin.”
Dan benar saja, macet kembali menghadang. Saya kembali “merapal” Al-Fatihah dengan harapan keajaiban yang sama akan terulang. Namun, sesampainya di bandara, kenyataannya pahit: pesawat sudah terbang.
Tidak ada delay. Tidak ada keajaiban instan.
Sempat ada rasa kecewa dan bingung, “Kok kali ini nggak manjur?” Namun, saya mencoba tetap husnudzon (berprasangka baik). Saya terus membaca Al-Fatihah sambil mengurus tiket di konter maskapai.
Sebuah “Teguran” yang Indah
Allah ternyata punya cara lain untuk memberikan jalan keluar. Petugas maskapai memberikan solusi yang tidak terduga: tiket saya yang hangus itu tidak perlu dibuang. Saya cukup membayar selisih harga untuk penerbangan berikutnya tanpa harus membeli tiket baru dari nol.
Di titik itulah, saya merasa seperti mendapat “teguran” yang sangat halus namun dalam.
Saya merasa malu. Saya sadar bahwa selama perjalanan tadi, saya bukan sedang berserah diri, melainkan sedang mencoba mendikte Allah. Saya melakukan amalan bukan karena tulus bersandar, tapi karena ingin Allah mengikuti skenario yang saya inginkan (yaitu pesawatnya delay).
Pelajaran Berharga: Amalkan, Tapi Jangan Mengatur
Sejak kejadian itu, perspektif saya berubah total. Poin penting yang saya pelajari adalah:
- Lakukan Amalannya, Tapi Jangan Mengatur Hasilnya. Allah tahu apa yang terbaik, apakah itu berupa kemudahan instan atau jalan keluar melalui proses lain.
- Yakin Itu Mutlak, Mendikte Itu Ego. Kita boleh sangat yakin dengan pertolongan Allah, tapi jangan pernah merasa kita bisa mengatur bagaimana cara Allah menyelesaikan masalah kita.
- Pasrah yang Total. Kini, setiap kali ada masalah, saya tetap membaca Al-Fatihah, namun dengan hati yang pasrah. “Ya Allah, saya lakukan amalan ini, terserah bagaimana Engkau akan menyelesaikan urusanku.”
Ternyata, ketenangan yang sesungguhnya bukan datang saat kita mendapatkan apa yang kita mau, melainkan saat kita berhenti mengatur Tuhan dan mulai menikmati setiap skenario yang Engkau berikan.
Bagaimana dengan Anda? Pernahkah merasa “menagih” keajaiban tapi justru diberi pelajaran lain yang lebih berharga?

