Posted in My Journey

Lahir di Lamongan, Ditempa di Surabaya: Cerita yang Nggak Dramatis Tapi Nyata

Perjalanan Hidup (Part 1)

Dari Lamongan ke Surabaya

Aku lahir di Lamongan, 19 Februari 1984. terlahir sebagai anak kedua dari 3 bersaudara.
Tapi besar di Surabaya. Lamongan buatku waktu itu lebih seperti “kampung halaman” yang dikunjungi setahun sekali—biasanya saat hari raya.

Masa kecilku banyak dihabiskan di Surabaya, sekolah di SDN Dukuh Kupang IV/491. Sekolah ini juga tempat kakakku dulu belajar, bahkan sepupuku yang sekarang jadi wartawan juga sekolah di sana. Lokasinya dekat rumah Budheku—yang sekarang sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri.

Ya, hidup memang kadang punya jalan cerita yang tidak biasa.
Setelah Ibu kandungku meninggal, Bapakku menikah lagi dengan Budhe—kakak kandung dari Ibu kandungku sendiri. Dari situ, sosok ibu dalam hidupku tetap ada, meskipun dengan cerita yang berbeda.


Soal Pintar… atau Nggak?

Kalau ditanya soal prestasi di sekolah, jujur saja aku bukan tipe anak yang menonjol.
Dulu, menjelang pulang sekolah, biasanya ada pengelompokan. Aku hampir selalu ada di kelompok C, kadang naik ke B, tapi nggak pernah sampai ke kelompok A—yang isinya anak-anak peringkat 10 besar.

Makanya aku agak heran waktu beberapa waktu lalu ada teman SD yang nyeletuk di grup WhatsApp alumni SD, nyebut nama lengkapku lalu bilang, “pinter areke yo.”
Dalam hati aku mikir, serius? aku?
Karena dari yang aku rasakan, aku nggak pernah merasa jadi anak pintar.


Hidup di Pinggir Tol

Aku tinggal di rumah kontrakan di daerah Putat Gede Indah, persis di sebelah jalan tol.
Saking dekatnya, kalau ada kecelakaan di tol, kadang barang-barang yang jatuh bisa sampai ke sekitar kami. Dan iya, jujur saja—dulu kami pernah mengambil barang-barang itu. Seingatku pernah ada beras dan minyak.

Kalau diingat sekarang, rasanya campur aduk. Tapi saat itu, ya memang begitulah kondisi kehidupan kami.


Masuk SMP Negeri: Sebuah Keberuntungan

Setelah lulus SD, aku masuk SMP Negeri 25 Surabaya di Simo Mulyo.
Buatku, ini termasuk keberuntungan. Karena kakakku dulu sempat mencoba masuk SMP Negeri 33, tapi nilainya belum cukup.

Kalau melihat kondisi ekonomi waktu itu, sebenarnya kami benar-benar di bawah. Tapi anehnya, kami tidak pernah merasa miskin. Mungkin karena lingkungan sekitar juga sama—semua berjuang dengan caranya masing-masing.

Ibuku bekerja sebagai pembantu di rumah pemilik kontrakan.
Bapakku seorang sopir Angguna (angkutan serba guna).

Bahkan, saking lekatnya dengan pekerjaan itu, nama “Angguna” jadi bagian dari nama adikku.
Adikku lahir di dalam mobil Angguna saat perjalanan ke rumah sakit. Namanya:
Fitri Anggasari Oktaviani — “Anggasari” diambil dari kata Angguna.


Jualan Air & Jadi Wakar

Sejak SD sampai SMP, aku dan kakakku sudah bantu orang tua cari tambahan.
Salah satunya jualan air PDAM.

Dulu, belum semua rumah punya sambungan air sendiri seperti sekarang. Jadi banyak orang harus beli air pakai jerigen. Awalnya kami cuma beli untuk kebutuhan sendiri, tapi lama-lama banyak yang nitip, akhirnya sekalian dijual.

Waktu SMP, aku juga pernah jadi “wakar”—penjaga malam di sebuah pegadaian milik “tuan rumah” (pemilik kontrakan tempat kami tinggal).

Awalnya bukan aku yang jaga, tapi tetangga sebelah.
Sayangnya, dia nggak amanah. Beberapa kali dia pamit berangkat habis maghrib, tapi ternyata nggak pernah sampai ke lokasi.

Akhirnya aku diminta menggantikan.

Di sana aku nggak sendirian. Ada satu orang lagi, orang Batak—namanya Saragih (kalau nggak salah ingat). Sepertinya dia yang melaporkan ke tuan rumah kalau penjaga sebelumnya sering nggak datang.

Dari situ, aku mulai belajar satu hal sederhana:
kadang kepercayaan datang bukan karena kita paling hebat, tapi karena kita dianggap bisa diandalkan.

bersambung…..

Posted in renungan

Jangan Mengatur Cara Allah Menolong

Pernahkah Anda membaca sebuah buku yang memberikan “resep” spiritual saat sedang terdesak? Saya pernah. Di buku itu, sang penulis bercerita bahwa ketika kita sedang dalam kondisi terjepit, bacalah Surah Al-Fatihah sebanyak-banyaknya. Beliau mempraktikkannya saat hampir tertinggal kereta karena macet. Keajaiban terjadi: sesampainya di stasiun, ternyata keretanya delay. Ia pun batal tertinggal.

Kisah itu membekas di kepala saya, sampai akhirnya saya mengalaminya sendiri.

Keajaiban di Jalur Samarinda-Balikpapan

Waktu itu saya masih tinggal di Samarinda. Saya sudah bersiap 3-4 jam sebelum keberangkatan menuju Balikpapan untuk mengejar pesawat. Namun, rencana manusia seringkali bertemu dengan ujian. Terjadi kebakaran di jalur yang saya lalui, mengakibatkan macet total.

Di tengah kepanikan di dalam mobil travel, saya teringat kisah di buku itu. Saya mulai mengamalkan Al-Fatihah sepanjang perjalanan. Terus menerus, tanpa putus. Sesampainya di bandara, secara logika saya sudah pasti tertinggal pesawat. Tapi keajaiban itu benar-benar nyata: pesawat saya delay.

Dalam hati, saya takjub. “Luar biasa, ternyata benar-benar ajaib ya fadhilah Al-Fatihah ini,” gumam saya saat itu.

Jebakan “Mengatur” Tuhan

Beberapa waktu kemudian, saya kembali harus ke bandara. Namun kali ini, ada sedikit rasa percaya diri yang berlebihan. Saya sengaja mempetkan waktu keberangkatan agar tidak terlalu lama menunggu di bandara. Pikir saya sederhana: “Ah, kalau ada apa-apa, kan tinggal baca Al-Fatihah saja seperti kemarin.”

Dan benar saja, macet kembali menghadang. Saya kembali “merapal” Al-Fatihah dengan harapan keajaiban yang sama akan terulang. Namun, sesampainya di bandara, kenyataannya pahit: pesawat sudah terbang.

Tidak ada delay. Tidak ada keajaiban instan.

Sempat ada rasa kecewa dan bingung, “Kok kali ini nggak manjur?” Namun, saya mencoba tetap husnudzon (berprasangka baik). Saya terus membaca Al-Fatihah sambil mengurus tiket di konter maskapai.

Sebuah “Teguran” yang Indah

Allah ternyata punya cara lain untuk memberikan jalan keluar. Petugas maskapai memberikan solusi yang tidak terduga: tiket saya yang hangus itu tidak perlu dibuang. Saya cukup membayar selisih harga untuk penerbangan berikutnya tanpa harus membeli tiket baru dari nol.

Di titik itulah, saya merasa seperti mendapat “teguran” yang sangat halus namun dalam.

Saya merasa malu. Saya sadar bahwa selama perjalanan tadi, saya bukan sedang berserah diri, melainkan sedang mencoba mendikte Allah. Saya melakukan amalan bukan karena tulus bersandar, tapi karena ingin Allah mengikuti skenario yang saya inginkan (yaitu pesawatnya delay).

Pelajaran Berharga: Amalkan, Tapi Jangan Mengatur

Sejak kejadian itu, perspektif saya berubah total. Poin penting yang saya pelajari adalah:

  1. Lakukan Amalannya, Tapi Jangan Mengatur Hasilnya. Allah tahu apa yang terbaik, apakah itu berupa kemudahan instan atau jalan keluar melalui proses lain.
  2. Yakin Itu Mutlak, Mendikte Itu Ego. Kita boleh sangat yakin dengan pertolongan Allah, tapi jangan pernah merasa kita bisa mengatur bagaimana cara Allah menyelesaikan masalah kita.
  3. Pasrah yang Total. Kini, setiap kali ada masalah, saya tetap membaca Al-Fatihah, namun dengan hati yang pasrah. “Ya Allah, saya lakukan amalan ini, terserah bagaimana Engkau akan menyelesaikan urusanku.”

Ternyata, ketenangan yang sesungguhnya bukan datang saat kita mendapatkan apa yang kita mau, melainkan saat kita berhenti mengatur Tuhan dan mulai menikmati setiap skenario yang Engkau berikan.
Bagaimana dengan Anda? Pernahkah merasa “menagih” keajaiban tapi justru diberi pelajaran lain yang lebih berharga?