Bukan langkah besar, bukan target muluk. Cukup satu yang benar-benar dijalani.
Tahun ini, pertanyaan yang sama muncul lagi: “Apakah tahun ini bisa lebih baik dari tahun sebelumnya?” Jawabannya belum perlu sekarang. Yang penting dimulai.
Bismillah. Untuk olahraga, Januari sudah dicentang ✔️ Bukan soal sempurna, tapi soal konsisten hadir. Di saat banyak rencana masih berupa niat, satu kebiasaan ini sudah berjalan.
Bidang lain? Religi, mental, disiplin, arah hidup—belum semuanya rapi. Tapi tidak apa-apa. Tahun masih panjang, dan bulan pertama bahkan belum benar-benar selesai. Masih hitungan jam, masih ruang untuk memperbaiki niat.
Tahun lalu, tantangan itu hanya bertahan 7 bulan dari 12 bulan. Bukan gagal—itu data. Bukti bahwa kamu bisa berjalan sejauh itu.
Sekarang, tahun ini dimulai dengan bekal pengalaman, bukan angan-angan. Bukan janji keras di awal tahun, tapi langkah nyata di bulan pertama.
Apakah tahun ini bisa lebih baik? Belum perlu dijawab. Biarkan waktu yang membuktikan.
Yang jelas hari ini:
Sudah bergerak
Sudah mencoba
Sudah belajar dari tahun lalu
Dan itu cukup untuk melanjutkan ke bulan berikutnya.
Pelan, sadar, dan konsisten. Lihat nanti—barangkali tahun ini, centangnya tidak berhenti di angka tujuh.
Dalam dunia bisnis modern, sering kali orientasi kita hanya terpaku pada laba dan rugi. Namun bila menelusuri jejak para pelaku bisnis yang bergerak dengan pandangan spiritual, kita menemukan pola berbeda: bisnis tidak berdiri semata untuk memperkaya diri, melainkan sebagai sarana menghadirkan kemaslahatan.
Tiga tokoh yang menarik untuk dikaji dalam konteks ini adalah Sholah Athiyah (atau Solah Attiah), Utsman bin ‘Affan, dan Abdurrahman bin ‘Auf. Keduanya tidak berada dalam satu masa sejarah, tetapi ketiganya menunjukkan pola serupa: melibatkan Tuhan dalam pengambilan keputusan dan mengutamakan kepentingan masyarakat luas.
Siapa Sholah Athiyah?
Sholah Athiyah bukan tokoh fiksi atau karakter novel. Ia adalah seorang pengusaha yang dikenal di dunia modern, salah satu public figure yang membangun bisnis dengan prinsip bahwa keuntungan terbesar adalah manfaat bagi manusia lain. Bila ditelusuri di internet, banyak liputan jurnalistik mengenai sepak terjang bisnis dan filantropinya yang menjadikan faktor nilai ketimbang sekadar margin keuntungan.
Utsman bin ‘Affan: Bisnis sebagai Kemaslahatan Publik
Dalam sejarah Islam, Utsman bin ‘Affan dikenal sebagai pedagang sukses sekaligus khalifah ketiga. Salah satu kisah yang paling masyhur adalah pembelian Sumur Raumah (atau sumur milik seorang Yahudi pada masa itu). Sumur tersebut awalnya dimonopoli dan airnya dijual dengan harga mahal. Utsman membeli sumur tersebut bukan untuk keuntungan komersial, melainkan agar masyarakat dapat mengambil air secara gratis.
Menariknya, aset tersebut terus berkembang sepanjang sejarah. Di era modern, lahan wakaf Sumur Raumah tersebut tercatat dikelola sebagai aset produktif, termasuk hotel, dan hasilnya masuk ke rekening wakaf atas nama Utsman bin ‘Affan sampai saat ini. Ini adalah salah satu kasus nyata bagaimana orientasi kebermanfaatan dapat menciptakan keberlanjutan lintas zaman.
Rujukan historis:
Sunan an-Nasa’i no. 3575 (Riwayat tentang Sumur Raumah)
Ibn Sa’d, at-Thabaqat al-Kubra, jilid III
Abdul Wahhab Ibrahim Ghoneim, Waqf in Islamic History and its Influence, 2003
Laporan Kementerian Wakaf Saudi (data pengelolaan wakaf Sumur Raumah, publikasi modern)
Abdurrahman bin ‘Auf: Menjaga Rantai Ekonomi agar Tidak Ada yang Rugi
Abdurrahman bin ‘Auf juga merupakan pengusaha besar pada masa Nabi. Dalam riwayat yang banyak dikenal di karya-karya kisah motivasi bisnis Islam, terdapat cerita mengenai kurma busuk pada musim gagal panen. Ketika para petani merugi, ia membeli stok mereka agar tidak ada yang bangkrut. Secara ekonomi, ini disebut intervensi pasar berbasis filantropi, yaitu tindakan menyerap kelebihan pasokan demi menjaga petani tetap bertahan.
Dalam kisah tersebut, disebutkan bahwa tak lama kemudian muncul kebutuhan di wilayah lain karena adanya wabah, dan kurma jenis tersebut menjadi barang yang sangat dicari sehingga Abdurrahman justru mendapatkan keuntungan besar. Pesan moral yang muncul: niat menolong tidak menghalangi keberkahan keuntungan.
Catatan historiografi: Kisah ini populer dalam literatur adab dan kisah hikmah, meskipun tidak termasuk riwayat sahih dalam kitab hadis primer. Namun tokoh Abdurrahman bin ‘Auf memang faktual tercatat sebagai pedagang dermawan dengan data sejarah kuat. Ia termasuk sahabat kaya yang menyelesaikan persoalan sosial melalui intervensi ekonomi. Misalnya, ia membagikan kafilah dagang kepada masyarakat Madinah ketika terjadi kesulitan pangan.
Rujukan primer dan sekunder:
Ibn Sa’d, at-Thabaqat al-Kubra, jilid III
Ibn Hajar al-Asqalani, al-Ishabah fi Tamyiz as-Sahabah
Al-Baladzuri, Ansab al-Ashraf
Seyyed Hossein Nasr (ed.), The Study Quran, HarperOne, 2015 (konteks ekonomi)
Hamidullah, The Prophet’s Establishing a State and His Succession, Istanbul, 1998
Menarik Garis Belajar
Dari ketiga sosok di atas, ada satu benang merah yang sangat kuat, bisnis bukan semata mencari keuntungan, tetapi melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan dan mengutamakan kepentingan umum.
Orientasi ini membuat bisnis menjadi lebih tenang, berkelanjutan, dan justru membuka pintu keberkahan dalam bentuk yang tidak selalu bisa diprediksi oleh kalkulasi manusia.
Dalam era kapitalisme modern yang serba transaksional, cara pandang ini adalah alternatif yang tidak hanya relevan tetapi penting. Karena pada akhirnya, kemampuan sebuah bisnis untuk bertahan panjang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengakumulasi laba, tetapi oleh kemampuan menciptakan manfaat bagi banyak orang.
-Roy Fibrianto- ditulis di surabaya dibaca dimana saja
Tahun 2025 sudah berlalu, meninggalkan jejak harapan dan rencana yang sebagian besar masih tertunda. Aku sempat menuliskan banyak wishlist: berangkat umroh lagi, membuka stand usaha, menambah karyawan yang sevisi. Namun kenyataannya, belum ada yang benar-benar terwujud. Meski begitu, bukan berarti semuanya berhenti. Ada langkah-langkah kecil yang mulai terlihat.
Di usaha, aku sudah punya kandidat yang selama ini membantu di bagian finishing. Memang dia belum bisa desain, tapi itu bisa sambil belajar. Ada juga sepupu yang lumayan jago marketing, dan aku mulai berpikir untuk merekrutnya dengan sistem bagi hasil keuntungan sebelum masuk ke sistem gaji. Rasanya seperti puzzle yang mulai menemukan potongan-potongan baru, meski belum lengkap.
Tahun ini juga membawa tantangan lain: aku dan istri harus menjalani LDR. Sejak Desember kemarin, ia diterima bekerja di BPDLH selama 10 bulan. Itu berarti mobilitas kami Surabaya–Jakarta, entah aku yang ke Jakarta atau ia yang pulang ke Surabaya. Konsekuensinya, rencana memiliki momongan harus tertunda lagi. Tapi kami berdua sepakat, anak bukan prioritas jangka pendek. Fokus kami sekarang adalah membangun pondasi ekonomi keluarga: dana darurat, dana pensiun, dan kestabilan finansial. Usia kami memang masih produktif, aku 42 tahun dan istriku 40 tahun, tapi kami ingin menyiapkan masa depan sejak sekarang.
Menulis juga menjadi bagian penting dari perjalanan ini. Tahun 2025 aku hanya menulis 5 tulisan. Sedikit sekali dibandingkan harapanku yang ingin menulis minimal 1 tulisan per minggu. Maka di tahun 2026 aku menargetkan minimal 12 tulisan, satu tulisan setiap bulan. Aku punya blog ini untuk menampung tulisan-tulisan itu, dan aku tidak peduli apakah dibaca orang atau tidak. Tujuanku sederhana: mengabdi dan mengabadikan diri. Kalau ada yang membaca dan mendapat manfaat, itu bonus. Aku juga punya akun threads yang followernya ga seberapa, mirip X, interaksinya lumayan bagus, jadi bisa jadi tempat berbagi tulisan.
Olahraga, lagi-lagi, menjadi resolusi yang belum sempurna. Tahun lalu hanya 7 bulan aku berhasil memenuhi challenge di iPhone, padahal tahun 2024 ada 8 bulan. Targetku tahun ini minimal 8–10 bulan bisa konsisten. Aku juga punya hobi baru: berenang. Rasanya menyenangkan, sekaligus menambah semangat untuk hidup lebih sehat.
Di sisi religi, aku ingin memperbaiki lagi. Terakhir kali ikut belajar membaca Al-Qur’an ternyata tahun 2024. Tahun 2025 aku tidak sempat melanjutkan. Maka di tahun 2026 ini aku ingin kembali ikut ngaji di Masjid Al-Falah. Rasanya rindu duduk bersama jamaah selepas subuh, membuka mushaf, dan belajar pelan-pelan.
Begitulah perjalanan resolusi dari tahun lalu yang masih ingin aku capai tahun ini. Tidak semua berjalan sesuai rencana, tapi aku percaya setiap langkah kecil tetap berarti. Semoga di tahun 2026 ini, Allah memudahkan jalanku untuk mewujudkan apa yang sudah lama aku impikan.
Jadi apakah resolusimu tahun lalu sudah tercapai, tahun ini masih sama kah?
Tahun 2017, aku memutuskan untuk membuka usaha sendiri dengan nama brand “Cendol” kepanjangan dari jasa yang kujual yaitu “cetak n desain online” dari segi nama itu sudah aku utak-atik bahkan sejak 2015 aku buat akun instagramnya, bahkan posting logo pertama di tanggal 13 Oktober 2015 tepat 10 tahun yang lalu, dari 2015 hingga 2017 belum mikir untuk nyatat pelanggan, jadi di pelanggan yang tercatat itu sejak tahun 2017 yang hanya 58 orang.
Sebagian masih teman sendiri, sebagian lagi datang karena penasaran. Aku nggak tahu apakah mereka akan kembali lagi di nantinya — yang aku tahu cuma satu hal: aku harus melayani sebaik mungkin. Tahun 2018, jumlahnya naik sedikit jadi dari tahun sebelumnya 58 orang menjadi 63 orang. Masih belum banyak, tapi setiap pesanan terasa berarti. Setiap desain yang aku kirim, setiap cetakan yang aku antar, selalu aku anggap ujian kecil: apakah mereka akan percaya lagi di proyek berikutnya?
Lalu, 2019 datang dengan kenyataan yang nggak enak. Jumlah pelanggan turun drastis — hanya 32 orang yang memesan sepanjang tahun. Rasanya seperti mundur beberapa langkah. Tapi di situ aku belajar: bisnis bukan sekadar ramai order, tapi tentang siapa yang tetap percaya meski dunia sedang sepi.
Masuk tahun 2020, justru di tengah pandemi, semuanya berubah. Entah karena banyak yang mulai jualan, entah karena komunikasi digital makin aktif, pelanggan melonjak jadi 79 orang. Aku mulai sadar, pelayanan yang tulus bisa menembus jarak.
2021 sempat turun lagi, hanya 43. Mungkin karena kondisi ekonomi belum pulih penuh. tahun itu aku juga baru saja menikah, dan aku bekerja dari depok, dan jakarta, jadi mungkin pelangganku tau aku ga bisa ngerjakan projeck cetak dan desain dari jauh, padahal. walaupun aku posisi di luar kota, aku punya tim yang bisa bantu handle. Tapi di situ aku justru memperkuat pondasi dan membuatk sistem kerja, komunikasi, dan cara menjaga pelanggan lama.
Dan benar saja — di 2022, hasilnya terasa luar biasa. Naik dua kali lipat lebih: 101 pelanggan. Tahun itu jadi turning point. Pelanggan lama balik lagi, bawa teman baru. Aku nggak cuma jual produk desain dan cetak, tapi mulai membangun hubungan.
2023 dan 2024, jumlah pelanggan stabil di atas 100 orang per tahun. Itu bukan sekadar angka, itu bukti kalau bisnis kecil pun bisa tumbuh lewat pelayanan yang konsisten, komunikasi yang hangat, dan rasa percaya yang dijaga.
Padahal akun bisnis ini kecil saja. Sejak 2017, hingga sekarang pengikutku di media sosial cuma 447 orang. mungkin karena aku jarang psting story kali yah, hanya sesekali posting feeds. Nggak viral, nggak heboh juga, tapi dari sanalah muncul pelanggan-pelanggan yang loyal. Aku belajar bahwa yang penting bukan seberapa banyak orang melihatmu, tapi seberapa dalam kamu melayani orang yang sudah percaya.
Sekarang 2025 belum selesai, tapi sudah ada 91 pelanggan yang datang. kebanyakan wajah lama yang rasanya sudah seperti keluarga. Aku nggak lagi sekadar mencatat order, aku mencatat cerita dan kepercayaan yang mereka berikan.
Bisnis kecilku mungkin belum besar, tapi aku bangga karena tiap angka di tabel itu punya nama, punya cerita, dan punya kenangan.
Bisnis bukan soal cepat viral atau ramai sesaat. Tapi soal bagaimana membuat orang mau datang lagi. karena mereka tahu, di tempatmu, pelayanan bukan cuma transaksi. Itu tentang trust, care, dan commitment yang tumbuh pelan-pelan, tapi pasti.
tulisan ini aku tulis 21 Okt 2025, sebagai pengingat 10 tahun perjalananku membangun bisnis, 8 tahun aku mulai mencoba jalan sendiri, karena dari 2015-2017 awal aku masih tercatat sebagai karyawan primaprint. (*)
Senin kemarin aku bikin konten tentang seputar inspirasi. Kenapa membahas soal inspirasi? Karena biasanya hari Senin adalah hari yang cukup dibenci para karyawan untuk memulai aktivitas. Bahkan, ada ungkapan yang cukup terkenal, “I don’t like Monday, but I like money.” Ungkapan ini menggambarkan betapa beratnya memulai minggu baru setelah akhir pekan yang menyenangkan.
Aku paham betul perasaan itu. Rasa malas, berat hati, bahkan kadang muncul rasa cemas menghadapi deadline yang menumpuk. Tapi aku percaya, setiap awal adalah kesempatan untuk memulai sesuatu yang lebih baik. Kalau kita terus mengeluh soal hari Senin, rasanya minggu itu jadi terasa lebih panjang dan berat. Maka dari itu, aku mencoba menghadirkan konten yang memberi semangat dan mengubah sudut pandang tentang hari Senin.
Konten Senin Inspirasi ini aku buat untuk membantu orang-orang mengisi hari pertama mereka dengan hal-hal yang positif. Aku percaya, inspirasi tidak melulu datang dari hal-hal besar. Kadang, hal sederhana seperti cerita pengalaman, kutipan bijak, atau ide kreatif bisa memantik semangat yang luar biasa. Di konten kemarin, aku membagikan cerita tentang Johanes Guttenberg bagaimana dia menciptakan awal mula mesin cetak yang merevolusi dunia.
ada kutipan yang sangat berarti bagiku: “Monday is a fresh start, a chance to set a new tone for the week.” Kutipan ini mengingatkanku bahwa meskipun hari Senin terasa berat, sebenarnya hari ini adalah peluang. Peluang untuk memulai sesuatu yang lebih baik, mencoba hal baru, dan menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.
Selain itu, aku mengajak followersku untuk melihat Senin sebagai kesempatan. Kalau kita mengubah cara pandang, hari ini bisa jadi momen yang paling berarti. Bayangkan, kalau kita memulai minggu dengan energi positif, ada kemungkinan besar sisa minggu itu akan berjalan lebih lancar. Sebaliknya, kalau kita awali dengan keluhan, minggu itu akan terasa lebih sulit.
Aku harap dari konten ini Ada yang terinspirasi untuk membuat rutinitas pagi baru, ada yang mencoba menulis jurnal syukur, dan ada pula yang sekadar mencoba tersenyum di pagi hari meskipun masih mengantuk.
Tentu, aku tidak berharap semua orang langsung menyukai Senin. Tapi kalau konten ini bisa membuat satu orang saja merasa lebih baik, itu sudah cukup bagiku. Karena itulah tujuan dari Senin Inspirasi—menginspirasi, meski hanya sedikit, agar hari-hari kita bisa lebih berarti.
Bagiku, inspirasi adalah energi. Semakin sering kita berbagi, semakin besar dampaknya. Jadi, kalau kamu membaca ini dan merasa hari Senin berat, coba tanyakan pada dirimu: apa yang bisa aku lakukan untuk membuat hari ini lebih menyenangkan? Kadang jawabannya sederhana. Cobalah, dan lihat bagaimana Seninmu berubah.
Arti sahabat buat kamu itu apa sih…? Kalo buat aku sih, arti sahabat adalah seorang teman yang bener benar temen, teman yang ketika aku sedang ada dibawah, sahabatku tersebut masih tetap disampingku, ketika aku berbuat salah, dia orang yang tetap berada di pihakku walau pada akhirnya dia juga yang mengingatkan kesalahanku. Dan memberi suport apa yang dimilikinya walaupun hanya suport kehadiran, seorang sahabat bagiku pribadi adalah seorang yang rela jauh jauh datang di acara pernikahan temennya walau beda kota. Seorang yang walau dimintai pertolongan apapun dia mau hadir walaupun malah ngerecokin, setidaknya dia bisa bisa bikin aku ketawa, dan sampai saat ini ada satu orang teman yang layak kusebut sahabat, walau kadang-kadang aku lebih banyak ngerepotin dia karena sering aku pinjem dulu 50ribu dulu yah wkwkwk…
Dia ini datang jauh-jauh datang ke Jakarta setelah tau aku mau nikah dan lokasinya ada di kota lain dari tempat tinggalnya yaitu di Sidoarjo. Dia juga dateng tengah malam saat aku perlu bantuan buat sortir buku yang dikejar deadline esok paginya, walau pada akhirnya dia cuman bantu ngerecokin supaya aku ga ngantuk. Tapi jangan salah, dia juga sering minta tolong ke aku di saat saat yang ga tepat. Kalo lagi perlu desain ga kenal waktu juga, bisa tengah malam saat mau tidur kalo aku masih online atau disaat-saat lagi repot-repotnya selalu minta desainan yang alasannya urgent entah seurgen apa yang bikin kerjaanku yang lain kupending dulu buat ngerjain desainan nih orang.
Dwi Prasetyo (tengah) jauh-jauh datang dari Sidoarjo untuk menghadiri akad nikahku di Jakarta.
siapa kah dia? ya tak lain tak bukan namanya Dwi Prasetyo, dia rela datang ke jakarta dan menemaniku saat akad, selain Pras, ada juga salah satu sabahatku yang lain lagi yang hadir yaitu Ony yang kebetulan memang kuminta sebagai fotograferku. tapi ini bukan kisah tentang Ony, mungkin di cerita lain bakal kuceritakan sosok Ony.
Banyak sekali temenku yang cukup dekat tapi yang ingin kuceritakan saat ini adalah Pras salah seorang sahabatku ini yang bisa dikatakan konco plek, bahkan istriku pun mengenal Pras, pernah sekali waktu aku makan di warung makan, dia tiba-tiba kirim pesan whatsapp kalo dia lagi di Surabaya mau mampir, kubilang aja “aku lagi keluar rumah” toh memang aku lagi diluar rumah, makan di gang depan, eh malah disamperin sampai setengah jam aku nungguin bahkan hujan-hujan ternyata dia dateng juga, akhirnya dia malah bayarin makananku hahaha, makasih masbrooo…
Sebagai seorang sahabat apakah kami pernah berselisih pendapat, pastinya cuman aku herannya ga bisa marah sama nih orang, ga tau juga kalo dia marah sama aku, tapi alhamdulillah kami sampai saat ini masih berhubungan baik, sekalipun aku sering membully dia yang udah kepala tiga ga nikah-nikah.
Oh ya, buat teman-teman yang lagi nyari jodoh, aku sangat merekomendasikan temanku yang satu ini. Dwi Prasetyo, sahabat sejati yang nggak tergantikan. Siapa tahu dia berjodoh dengan salah satu dari kalian. 🙂
Bagiku, sahabat adalah sosok yang melengkapi hidup. Mereka ada di saat suka dan duka, tanpa pamrih dan tanpa banyak alasan. Pras, makasih sudah jadi sahabat yang luar biasa!
Apa resolusimu tahun ini? aku biasanya ga pernah menulis resolusi, biasanya aku manjalani hari tanpa rencana, namun saat ini aku coba untuk melakukan sesuatu yang berbeda yaitu menulis resolusi di tahun 2025, apa itu? yang pertama yaitu berangkat umroh sekali lagi bersama istri dan keluarga besar, entah keluarga istri atau bersama keluargaku, walau tahun lalu sudah pernah berangkat umroh, rasanya ingin sekali kembali lagi kesana setiap tahunnya. Rasanya rindu sekali dengan suasana di kota madinah dan mekah, lebih tenang tidak diburu-buru kerjaan, tidak diburu-buru deadline. Untuk itu langkah yang mulai saya terapkan yang pertama tentu saja menaikkan income pemasukan, selain itu juga memanfaatkan “Jalur Langit” dengan sedekah setiap hari. aku juga akan mencoba melamar menjadi Tour Leader dari biro umroh siapa tau bisa keterima. Bahkan saat ini saya sendiri terdaftar sebagai agen dari biro perjalanan umroh dari Ahlan Travel Agency. Semoga ini menjadi jalan untuk mewujudkan resolusi ini
Sebelum resolusi berangkat umroh lagi tahun ini,aku sadar bahwa ibadahku masih perlu banyak perbaikan. Tahun kemarin aku sempet mengikuti kegiatan mengaji Al Qur’an di masjid Al-Falah setiap seminggu 2 kali setiap hari senin dan rabu bersama istri selepas sholat subuh namun rutinitas itu semoet terhenti di akhir tahun. Tahun ini aku juga ingin melanjutkan lagi mengaji Al Quran lagi di masjid Al-Falah atau di masjid yang lain, dan mencoba belajar konsisten membaca Qur’an setiap selesai sholat minimal 1 lembar setiap selesai sholat fardhu. selain membaca Al-Qur’an, ternyata sholatku selama ini masih berantakan. Berantakannya dimana? Memang selama ini sholatku nggak pernah bolong, tapi untuk Sholat berjamaah masih seringkali berantakan, bahkan kadang Adzan jam berapa sholatku jam berapa, mungkin karena ini aku jadi sering dibuat terlambat sukses oleh Allah, karena sholatku aja terlambat gimana mau sukses. Ada pepatah yang selalu terngiang ” Perbaiki Sholatmu, Allah akan Perbaiki Hidupmu”
Berikutnya yang menjadi resolusi tahun ini adalah memiliki stand/lapak atau tempat yang terpisah dari rumah untuk bekerja. Selama ini aku bekerja dirumah, mulai dari desain, finishing bahkan packing aku lakukan di rumah. Untuk ukuran aku serahkan sama Allah aja diberikan cukup besar alhamdulillah, Diberikan lebih besar lagi juga ga papa, tujuannya untuk menjaring pembeli baru di sekitaran wilayah petemon yeng terkenal dengan kampung percetakan. dan menambahkan lokasi di google maps supaya bisa mendapatkan review dari pelanggan, supaya bisa meningkatkan trust/kepercayaan sekaligus bisa meningkatkan omset. Langkah yang saya lakukan adalah pencari dan mencatat tempat yang dikontrakkan, mencoba menghubungi dan belajar bernegoisasi syukur syukur bisa kerjasama sewa stand gratis, atau sewanya bayar belakang, atau sewanya bisa bayar dicicil, yah semoga saja, ada lokasi yang cocok, dan harga yang sanggup aku bayar. Semoga Allah memudahkan jalanku dalam menemukan tempat yang cocok.
Selanjutnya resolusiku tahun ini adalah ingin memiliki seorang karyawan atau partner kerja yang sevisi dengan saya, syukur-syukur bisa desain jadi bisa menjadi tandem dan bantuan misal ada desain yang numpuk serta teman diskusi. Kenapa kok saya ingin punya karyawan atau partner, karena jika ingin usahamu ini cendol online bisa terus berkembang, maka kamu harus bisa memberi manfaat untuk orang lain, mungkin saat ini cendol online baru bisa memberi manfaat kepada para pelanggan, dan para suplyer, tapi karena belum memiliki karyawan, seluruh keuntungan hanya untuk aku pribadi dan kadang di sedekahkan untuk yang membutuhkan. jika cendol online memiliki karyawan, otomatis bisa memberi manfaat lebih untuk karyawan tersebut dan orang sekitarnya, seperti keluarga karyawan itu sendiri atau paling tidak sudah turut mengurangi angka pengangguran.
Kemudian yang ingin saya lakukan di tahun ini adalah tetap sehat dengan berolahraga minimal sesuai target yang ditetapkan oleh aplikasi di HP, tahun lalu aku akhirnya mencapai target 100x jalan kaki pada tangggal 28 Desember kemarin. Bulan oktober bahkan sempet 1 bulan Full sempurna tiap hari jalan kaki, aku ingin tahu ini semua target tiap bulan di aplikasi bisa terpenuhi. tentu saja tujuannya agar hiidup bisa lebih sehat. jadi ingat pada saat melakukan towaf dan sa’i pas umroh tahun lalu rasanya capek banget, mungkin karena kurang olahraga. apalagi saat itu sambil ndorong istri yang karena kondisi fisiknya lagi drop terpaksa thowaf sambil naik kursi roda. makanya tahun ini aku ingin lebih sehat. dan kembali berangkat umroh lagi menyempurnakan umroh tahun lalu, yang menurutku masih kurang.
Tanggal 28 Desember kemarin akhirnya tercapai juga 100 hari berjalan. Tahun lalu, dari 12 bulan challange hanya 8 bulan yang memenuhi target, bulan maret, april, juni, dan desember akhir tahun kemarin justru malah gagal memenuhi tantangannya.
Salah satu resolusi yang ingin terus aku lakukan tiap tahun adalah menulis, resolusiku tahun ini adalah ingin kembali menulis, menulis apapun, menulis opini yang terjadi di sekitar, menulis resolusi seperti ini, menulis cerita masa lalu buat mengenang perjalanan di masa silam, menulis pengalaman apapun. apalagi saat ini usiaku sudah menginjak kepala 4, aku ingin tulisan-tulisanku bisa dibaca oleh anak cucuku kelak. sykur-syukur anakku nanti juga mau menulis melanjutkan tulisan-tulisanku dan menjadi perjalanan sejarah dari sebuah keluarga. yah minimal menulis seminggu 1 kali aja.
Yang terakhir, sebenernya ini bukan Resolusi, tapi keinginan setelah menikah, yaitu memiliki seorang anak baik anak laki-laki atau anak perempuan buatku sama saja. yah usia pernikahanku tahun ini bulan mei nanti memang baru memasukin tahun ke 4, memang wajar kalo masih belum di karuniai seorang anak. tapi banyak juga keluarga yang baru menikah 1 tahun lalu istrinya mengandung, memang rejeki tiap keluarga berbeda-beda, ada yang baru menikah sudah diberikan momongan, ada yang puluhan tahun baru diberi rejeki anak oleh Allah. Tapi sebagai manusia kita diwajibkan untuk berusaha, berikhtiar.
Itulah yag terpikirkan saat ini untuk resolusiku tahun 2025, mungkin di perjalanannya nanti ada beberapa keinginan yang berbeda muncul, atau ada resolusi bakalan berubah yang sekiranya terlalu berat. kita lihat saja nanti.
Tahun 2024 menjadi tahun yang sangat berkesan, baik untukku pribadi maupun untuk istriku. Tahun itu menandai tiga tahun perjalanan rumah tangga kami. Aku masih ingat betul, pada tanggal 30 Mei 2021, kami menikah. Saat itu, usiaku sudah melewati angka 37 tahun — usia yang, bisa dibilang, terlalu matang bahkan terlambat untuk menikah menurut banyak orang. Target awalku adalah menikah di usia 27 tahun, tapi ternyata butuh waktu 10 tahun lebih hingga Allah mengabulkan keinginanku itu.
Namun, Allah memang selalu memiliki rencana terbaik. Ada hikmah di balik setiap penantian. Dan tahun 2024 menjadi bukti nyata dari kekuatan doa dan mimpi yang tak pernah padam.
Hadiah Terbesar di Tahun 2024
Di tahun ini, Allah memberiku hadiah yang luar biasa. Aku dan istriku diundang untuk menjadi tamu-Nya di Tanah Suci, Mekkah Al-Mukarramah. Selain itu, kami juga diberi kesempatan untuk berziarah ke makam Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam di Madinah Al-Munawwarah. Rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan — mimpi yang pernah aku panjatkan dalam doa, mimpi yang aku tuliskan dalam diam, bahkan dalam bentuk ucapan-ucapan kecil yang mungkin tak kusadari begitu berarti.
Aku teringat kembali pada doa seorang sahabatku tujuh tahun yang lalu, di tahun 2017. Saat itu, ia sudah lebih dulu diberi kesempatan untuk mengunjungi Ka’bah. Dalam doanya, ia menyebut namaku, memohon kepada Allah agar suatu hari aku juga diberi kesempatan yang sama. Dan ternyata, doa itu Allah kabulkan di waktu terbaik-Nya. Siapa sangka, doa yang dipanjatkan oleh seorang sahabat tujuh tahun lalu menjadi bagian dari perjalanan hidupku hari ini?
Doa yang Tercatat oleh Malaikat
Bukan hanya doa sahabatku, tetapi juga doaku sendiri yang pernah kutuliskan di media sosial dengan nada iseng. Saat itu, aku berharap bisa berangkat ke Tanah Suci bersama istriku. Masih jelas teringat, pada malam setelah akad nikah, aku berkata kepada istriku, “Aku ingin umroh dulu sebelum punya rumah. Paling tidak, tahun ke-3 pernikahan kita, kita bisa berangkat umroh. Tahun ke-5 baru kita punya rumah.”
Siapa sangka, ucapanku itu dicatat oleh malaikat dan benar-benar menjadi kenyataan. Tahun 2024, tepat di tahun ke-3 pernikahan kami, Allah memanggil kami ke Tanah Suci. Perjalanan yang tidak hanya menguatkan iman, tetapi juga mempertegas keyakinanku bahwa doa memiliki kekuatan luar biasa.
Jangan Pernah Meremehkan Kekuatan Doa
Perjalanan ini mengajarkanku satu hal penting: jangan pernah meremehkan kekuatan doa. Setiap doa, baik yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh maupun yang terucap dengan iseng, memiliki peluang untuk dikabulkan oleh Allah. Kita mungkin tidak tahu kapan dan bagaimana doa itu akan terwujud, tetapi satu hal yang pasti, Allah tidak pernah mengabaikan doa hamba-Nya.
Tahun 2024 telah berlalu, namun kenangannya akan terus hidup dalam hati kami. Perjalanan ini menjadi pengingat untuk terus bermimpi, terus berdoa, dan terus percaya pada rencana Allah. Apa pun yang kita harapkan, panjatkanlah dalam doa. Biarkan Allah yang mengatur waktunya.
Januari 2025 Semoga aku bisa terus menulis dan berbagi inspirasi.
Hari minggu tanggal 9 oktober untuk pertama kalinya jalan kaki dari rumah di petemon ke Jl. Tunjungan
setelah ku cek di aplikasi perjalanan pulang pergi sambil istirahat sarapan bubur ayam di arjuna menempuh waktu 2 jam lebih, kita berangkat jam 4.55 dan kembali pulang sampe rumah jam 7.22.
Selamat pagi, teman-teman! Semoga hari ini menjadi salah satu hari yang penuh kebahagiaan dan keberkahan bagi kalian yang membaca pesan ini.
Pernahkah kalian mendengar tentang kekuatan doa untuk orang lain? Saya terinspirasi oleh sebuah tips dari Pak Ari Ginanjar yang sangat sederhana, namun begitu bermakna. Beliau mengajarkan kita untuk bersedekah doa kepada orang lain—khususnya kepada mereka yang mungkin tidak kita kenal, yang kita temui secara acak dalam perjalanan hidup kita.
Caranya mudah: pilih lima orang yang kalian temui hari ini secara acak—entah di jalan, di tempat kerja, atau di mana pun. Kemudian, doakan kebaikan untuk mereka secara diam-diam, dalam hati, atau dengan lirih. Tidak perlu doa yang panjang, cukup yang tulus dan penuh harapan baik.
Misalnya, saat melihat seorang tukang becak, kita bisa mendoakan, “Semoga hari ini beliau mendapatkan rezeki yang melimpah dan perjalanannya dipenuhi keberkahan.” Atau ketika berpapasan dengan seseorang yang tersenyum ramah, ucapkan dalam hati, “Semoga kebahagiaannya terus bertahan, dan ia selalu bertemu orang-orang baik di hidupnya.”
Dengan mendoakan orang lain, kita sebenarnya juga sedang menyebarkan energi positif ke semesta. Tanpa kita sadari, kebaikan itu akan berbalik kepada kita dalam bentuk yang indah dan tak terduga.
Mari mulai hari ini dengan hati yang lapang dan doa-doa yang tulus. Siapa tahu, doa kecil kita menjadi alasan bagi seseorang untuk tersenyum hari ini. 🌟