Posted in My Journey

Kekuatan Doa dan Perjalanan Menggapai Mimpi

Tahun 2024 menjadi tahun yang sangat berkesan, baik untukku pribadi maupun untuk istriku. Tahun itu menandai tiga tahun perjalanan rumah tangga kami. Aku masih ingat betul, pada tanggal 30 Mei 2021, kami menikah. Saat itu, usiaku sudah melewati angka 37 tahun — usia yang, bisa dibilang, terlalu matang bahkan terlambat untuk menikah menurut banyak orang. Target awalku adalah menikah di usia 27 tahun, tapi ternyata butuh waktu 10 tahun lebih hingga Allah mengabulkan keinginanku itu.

Namun, Allah memang selalu memiliki rencana terbaik. Ada hikmah di balik setiap penantian. Dan tahun 2024 menjadi bukti nyata dari kekuatan doa dan mimpi yang tak pernah padam.

Hadiah Terbesar di Tahun 2024

Di tahun ini, Allah memberiku hadiah yang luar biasa. Aku dan istriku diundang untuk menjadi tamu-Nya di Tanah Suci, Mekkah Al-Mukarramah. Selain itu, kami juga diberi kesempatan untuk berziarah ke makam Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam di Madinah Al-Munawwarah. Rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan — mimpi yang pernah aku panjatkan dalam doa, mimpi yang aku tuliskan dalam diam, bahkan dalam bentuk ucapan-ucapan kecil yang mungkin tak kusadari begitu berarti.

Aku teringat kembali pada doa seorang sahabatku tujuh tahun yang lalu, di tahun 2017. Saat itu, ia sudah lebih dulu diberi kesempatan untuk mengunjungi Ka’bah. Dalam doanya, ia menyebut namaku, memohon kepada Allah agar suatu hari aku juga diberi kesempatan yang sama. Dan ternyata, doa itu Allah kabulkan di waktu terbaik-Nya. Siapa sangka, doa yang dipanjatkan oleh seorang sahabat tujuh tahun lalu menjadi bagian dari perjalanan hidupku hari ini?

Doa yang Tercatat oleh Malaikat

Bukan hanya doa sahabatku, tetapi juga doaku sendiri yang pernah kutuliskan di media sosial dengan nada iseng. Saat itu, aku berharap bisa berangkat ke Tanah Suci bersama istriku. Masih jelas teringat, pada malam setelah akad nikah, aku berkata kepada istriku, “Aku ingin umroh dulu sebelum punya rumah. Paling tidak, tahun ke-3 pernikahan kita, kita bisa berangkat umroh. Tahun ke-5 baru kita punya rumah.”

Siapa sangka, ucapanku itu dicatat oleh malaikat dan benar-benar menjadi kenyataan. Tahun 2024, tepat di tahun ke-3 pernikahan kami, Allah memanggil kami ke Tanah Suci. Perjalanan yang tidak hanya menguatkan iman, tetapi juga mempertegas keyakinanku bahwa doa memiliki kekuatan luar biasa.

Jangan Pernah Meremehkan Kekuatan Doa

Perjalanan ini mengajarkanku satu hal penting: jangan pernah meremehkan kekuatan doa. Setiap doa, baik yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh maupun yang terucap dengan iseng, memiliki peluang untuk dikabulkan oleh Allah. Kita mungkin tidak tahu kapan dan bagaimana doa itu akan terwujud, tetapi satu hal yang pasti, Allah tidak pernah mengabaikan doa hamba-Nya.

Tahun 2024 telah berlalu, namun kenangannya akan terus hidup dalam hati kami. Perjalanan ini menjadi pengingat untuk terus bermimpi, terus berdoa, dan terus percaya pada rencana Allah. Apa pun yang kita harapkan, panjatkanlah dalam doa. Biarkan Allah yang mengatur waktunya.

Januari 2025 Semoga aku bisa terus menulis dan berbagi inspirasi.

Posted in My Journey

Jalan Kaki 10km

Hari minggu tanggal 9 oktober untuk pertama kalinya jalan kaki dari rumah di petemon ke Jl. Tunjungan

setelah ku cek di aplikasi perjalanan pulang pergi sambil istirahat sarapan bubur ayam di arjuna menempuh waktu 2 jam lebih, kita berangkat jam 4.55 dan kembali pulang sampe rumah jam 7.22.

jalan kaki 10kilo itu ternyata wauw banget…

kayaknya perlu di biasain jalan kaki

Posted in renungan

Sedekah Doa di Pagi Hari

Selamat pagi, teman-teman!
Semoga hari ini menjadi salah satu hari yang penuh kebahagiaan dan keberkahan bagi kalian yang membaca pesan ini.

Pernahkah kalian mendengar tentang kekuatan doa untuk orang lain? Saya terinspirasi oleh sebuah tips dari Pak Ari Ginanjar yang sangat sederhana, namun begitu bermakna. Beliau mengajarkan kita untuk bersedekah doa kepada orang lain—khususnya kepada mereka yang mungkin tidak kita kenal, yang kita temui secara acak dalam perjalanan hidup kita.

Caranya mudah: pilih lima orang yang kalian temui hari ini secara acak—entah di jalan, di tempat kerja, atau di mana pun. Kemudian, doakan kebaikan untuk mereka secara diam-diam, dalam hati, atau dengan lirih. Tidak perlu doa yang panjang, cukup yang tulus dan penuh harapan baik.

Misalnya, saat melihat seorang tukang becak, kita bisa mendoakan, “Semoga hari ini beliau mendapatkan rezeki yang melimpah dan perjalanannya dipenuhi keberkahan.” Atau ketika berpapasan dengan seseorang yang tersenyum ramah, ucapkan dalam hati, “Semoga kebahagiaannya terus bertahan, dan ia selalu bertemu orang-orang baik di hidupnya.”

Dengan mendoakan orang lain, kita sebenarnya juga sedang menyebarkan energi positif ke semesta. Tanpa kita sadari, kebaikan itu akan berbalik kepada kita dalam bentuk yang indah dan tak terduga.

Mari mulai hari ini dengan hati yang lapang dan doa-doa yang tulus. Siapa tahu, doa kecil kita menjadi alasan bagi seseorang untuk tersenyum hari ini. 🌟

Posted in inspirasi

Komik Lokal Pupus Putus Sekolah

Sejak kecil, saya selalu suka membaca komik. Hobi ini bahkan terus berlanjut hingga sekarang, saat usia saya sudah menginjak kepala empat. Saya lahir tahun 1984, dan meskipun usia saya kini 40 tahun, saya tetap menikmati dunia komik seperti dulu. Ketika masih kecil, saya sering membaca “Kungfu Boy” dengan tokoh utamanya, Chinmi, juga “Dragon Ball” — meski untuk yang satu ini, saya lebih sering menikmati versi animenya. Ada pula “Detektif Conan” yang masih menemani hingga sekarang, dan tentu saja “One Piece”, sebuah karya besar dari Jepang yang terus saya ikuti.

Di era digital saat ini, hobi saya membaca komik semakin dimudahkan dengan kehadiran aplikasi seperti Webtoon. Di sana, saya mulai mengenal berbagai komik Korea yang biasa disebut manhwa, komik Jepang yang disebut manga, dan komik Tiongkok yang dikenal sebagai manhua. Pengetahuan ini saya dapat karena hingga sekarang, saya tetap setia mengikuti cerita-cerita komik dari berbagai negara. Tak hanya itu, saya juga menikmati karya-karya lokal, seperti “Grey & Jingga” karya Sweta Kartika dan “Pupus Putus Sekolah” karya Kurnia Harta.

Kenapa saya begitu menyukai komik? Karena saya tumbuh bersama mereka. Ketika tinggal di Samarinda, saya sering menyewa komik untuk dibaca dalam 2-3 hari sebelum dikembalikan. Hal serupa saya lakukan saat pindah ke Surabaya, mulai dari SMP hingga SMA. Waktu itu, membeli komik terasa terlalu mahal bagi saya, sehingga menyewa menjadi solusi terbaik. Saya tak keberatan membaca komik yang plastik pembungkusnya sudah robek, karena yang terpenting adalah cerita di dalamnya.

Dari komik, saya belajar banyak hal. Entah itu kisah roman, fiksi, hingga cerita yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu komik yang sangat berkesan bagi saya adalah “Pupus Putus Sekolah”. Karya lokal ini bisa kalian baca di Webtoon. Saya tak akan mengulas ceritanya secara detail — silakan baca sendiri jika penasaran. Namun, ada pelajaran besar yang ingin saya bagikan setelah membaca komik ini: dunia pendidikan itu sangat luas, dan belajar bisa dilakukan di mana saja, dengan siapa saja.

Komik ini membuka mata saya. Kadang kita merasa tahu segalanya, tetapi sebenarnya kita tidak tahu apa-apa. Contohnya, ada kisah tentang Bagus yang diminta mencuci piring. Bagi sebagian orang, pekerjaan ini mungkin dianggap remeh. Namun, jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, mencuci piring bisa menjadi peran yang sangat dihargai di dapur. Tidak semua koki suka mencuci piring, dan keberadaan seseorang yang bersedia melakukannya bisa menjadi sangat berarti.

Ada juga karakter Tomas, anak yang cerdas karena ia suka mencicipi makanan di dapur. Lewat Tomas, kita diajak melihat bahwa kecerdasan itu bisa muncul dari rasa ingin tahu dan pengalaman, bukan hanya dari teori di buku. Selain itu, ada cerita tentang ayah Bagus yang dianggap bodoh oleh banyak orang, bahkan oleh Bagus sendiri. Namun, Tomas memberikan sudut pandang berbeda: label “bodoh” atau “pintar” yang diberikan orang kota hanyalah pandangan sepihak yang tidak perlu terlalu dianggap.

Yang paling menyentuh adalah karakter Mak Luwe dengan kutipannya, “Hidup itu susah, tapi orang-orang baik bisa bikin hidup jadi lebih gampang.” Kalimat ini begitu sederhana, tetapi penuh makna. Ia mengingatkan kita untuk tidak pernah lelah menjadi orang baik. Kebaikan, sekecil apa pun, selalu punya dampak besar bagi kehidupan orang lain.

Melalui komik, saya belajar bahwa pelajaran hidup bisa datang dari mana saja. Komik bukan hanya hiburan; ia juga bisa menjadi guru yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Jadi, jangan pernah berhenti belajar — di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja.

Posted in renungan

Belajar dari Viral “Candaan/Hinaan” Gus Miftah kepada Penjual Es Teh

Beberapa hari terakhir, media sosial ramai membahas peristiwa yang melibatkan Gus Miftah, seorang pendakwah yang dikenal luas. Dalam ceramahnya, ia melontarkan pernyataan yang dianggap netizen sebagai hinaan terhadap penjual es teh. Meski Gus Miftah kemudian mengklarifikasi bahwa itu hanya candaan dalam konteks dakwah, dan ia pun telah meminta maaf kepada pihak yang bersangkutan, kejadian ini meninggalkan sejumlah pelajaran penting untuk kita renungkan.

1. Ucapan adalah cerminan kebiasaan

Apa yang keluar dari lisan seseorang seringkali mencerminkan lingkungan dan kebiasaan yang mereka jalani. Dalam kasus ini, banyak yang menilai bahwa candaan Gus Miftah bisa jadi merupakan refleksi dari kata-kata yang sering ia dengar di lingkungannya. Sebagai pendakwah yang aktif berdakwah di tempat-tempat seperti diskotik, klub malam, dan lokasi lainnya yang identik dengan kultur bebas, tidak heran jika bahasa yang biasa digunakan oleh orang-orang di sana sedikit banyak berpengaruh pada dirinya. Ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih berhati-hati menjaga lingkungan yang dapat memengaruhi pola pikir dan ucapan kita.

2. Viral: Jalan pintas untuk pansos

Fenomena viral kerap menjadi “tangga emas” bagi banyak pihak untuk menaikkan popularitas atau engagement di media sosial. Dalam kasus ini, tidak sedikit akun yang memanfaatkan isu tersebut untuk tujuan tertentu—baik untuk membantu penjual es teh maupun sekadar mencari perhatian. Bahkan akun-akun desain grafis turut membuat konten seputar “branding” es teh. Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial menjadi arena yang dinamis, namun seringkali diwarnai motif beragam, termasuk pansos.

3. Cara Allah mengangkat dan menjatuhkan derajat manusia

Kejadian ini juga menjadi pelajaran tentang kehendak Allah dalam menentukan nasib seseorang. Penjual es teh yang awalnya mungkin dianggap sederhana kini mendapat simpati besar dan bahkan peluang untuk maju berkat peristiwa ini. Sebaliknya, seseorang yang berada di posisi terhormat bisa tergelincir oleh kesombongan atau ucapan yang tidak dijaga. Ini menjadi pengingat untuk selalu rendah hati, karena sebagaimana Iblis dihukum karena kesombongannya, kita pun bisa mengalami hal serupa jika lupa diri.

4. Adab lebih utama daripada ilmu

Ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan keangkuhan. Dalam Islam, adab (akhlak) adalah hal mendasar yang bahkan mendahului ilmu. Seorang alim tanpa adab tidak akan dihormati, sedangkan seseorang dengan adab yang baik akan selalu dikenang meski ilmunya terbatas. Dalam konteks ini, ucapan yang terkesan merendahkan menunjukkan bahwa kecerdasan atau ilmu seseorang tidak cukup tanpa sikap yang santun. Sebagai seorang pendakwah yang seharusnya menjadi teladan, menjaga adab saat berbicara, terutama di depan publik, adalah kewajiban. Hal ini mengingatkan kita untuk selalu mengedepankan kelembutan, tidak hanya dalam kata-kata tetapi juga dalam perbuatan. Rasulullah SAW sendiri adalah contoh sempurna bagaimana ilmu dan adab berpadu dalam setiap dakwahnya.

5. Berita viral sebagai pengalihan isu

Tidak dapat dipungkiri, banyak kasus viral yang kemudian dimanfaatkan sebagai pengalihan perhatian dari isu yang lebih serius. Dalam situasi ini, perbincangan hangat seputar “candaan” Gus Miftah bisa jadi menutupi perhatian masyarakat terhadap kasus penembakan siswa oleh oknum polisi di Semarang, atau isu-isu krusial lainnya. Fenomena ini mengingatkan kita untuk tetap bijak memilah mana yang harus menjadi fokus utama.


Kesimpulan
Kasus ini menjadi pelajaran besar, tidak hanya bagi Gus Miftah tetapi juga bagi kita semua. Menjaga ucapan, mengutamakan adab, dan selalu rendah hati adalah kunci agar kita tetap dihormati dan menjadi pribadi yang lebih baik. Viral di media sosial boleh jadi mencuri perhatian, tetapi jangan sampai melalaikan kita dari isu yang lebih penting dan prinsip-prinsip dasar kehidupan.

Posted in renungan

“Belajar dari Kisah Umar dan Sepotong Tulang”

Tulisan ini dibuat menanggapi insiden ricuhnya deklarasi #2019gantipresiden di surabaya tanggal 26 agustus 2018. Mungkin sudah terlambat untuk dipublikasikan tapi bisa dijadikan pelajaran untuk kedepannya.

Hari minggu 26 Agustus 2018 lalu terjadi satu insiden saat deklarasi #2019gantipresiden wilayah jawatimur yang rencananya di adakan di tugu pahlawan dan berakhir ricuh dengan golongan yang tidak setuju dengan acara tersebut.

Mungkin sebagian umat muslim masih ingat cerita klalifah Umar bin khotob meluruskan Amr bin Ash dengan sepotong tulang dengan kekuasaanya untuk menggusur rumah reyot milik yahudi tua guna pembangunan masjid untuk kepentingan umat islam. Disitu umar bin khatab mengingatkan Amr bin Ash dengan mengirimkan sepotong tulang dan diberi garis lurus dari pedangnya untuk mengingatkan jangan pernah menggunakan kekuasaan walau untuk kepantingan umat islam tapi sampai mengorbankan orang lain sekalipun itu orang Yahudi.

Apa persamaan deklarasi #2019gantipresiden dengan kisah itu?
1. Acara deklarasi banyak merugikan banyak orang dengan hanya menguntungkan 1 pihak saja.
Siapa saja yang dirugikan ?
1. Masyarakat yang jualan di tugu pahlawan dan CFD di beberapa tempat seperti di tugu pahlawan, bungkul, jl. Tunjungan dan MER.
2. Masyarakat yang olahraga setiap minggu di CFD
3. Beberapa komunitas sosial yang punya aksi sosial seperti donasi lombok dll di acara CFD
4. Polisi yang bertugas ekstra bila terjadi kerusuhan.
5. Pengguna lalu lintas yang terpaksa harus cari jalan alternatif.

Kisah Umar yang dirugikan hanya 1 orang yahudi saja, bukan umat islam. tapi umar begitu marah karena ketidakadilan.

Disini saya tidak membela para cebonger atau menolak deklarasi #2019gantipresiden cuman cara yang digunakan kurang santun mengingat ini kota surabaya, kota yang sangat kondusif untuk tidak terlibat praktis dengan isu politik. Dan tempat yang akan digunakan sebagai deklarasi adalah tugu pahlawan icon perjuangan kota surabaya. Dimana icon kota surabaya sangat bersejarah dan tidak pantas ditunggangi oleh kelompok kelompok politik yang haus kekuasaan.

Andai lokasinya di hotel atau kalo memang kurang besar bisa menggunakan Gelora Bung Tomo yang lokasinya di ujung barat kota surabaya mungkin insiden kerusuhan ini tidak bakal terjadi. Karena kalo lokasinya di gelora bung tomo acara CFD di berbagai tempat tidak perlu diliburkan. Karena tak ada yang dirugikan ya ga ada yang protes dengan deklarasi #2019gantipresiden.

Jadi kalo ingin melakukan deklarasi politik, sebisa mungkin tidak mengganggu kepentingan publik, jika kepentingan publik diganggu, bukan salah publik untuk membubarkan acara tersebut.

-roy-

#antipolitikpraktis

Posted in coretanku

My Blog Im Sorry

Tanpa terasa, saat aku buka blog ini ada notifikasi dari WordPress yang mengucapkan selamat karena sudah 6 tahun aku menggunanakan layanan blog darinya. walaupun dalam perjalanannya aku hampir samasekali tak pernah menengoknya. aku mengenal Blog 6 tahun lalu saat rame-ramenya blog bisa menghasilkan uang. Tapi aku yang awalnya juga menginginkan itu dari blog ternyata wordpress memberikan ruang yang lain ruang yang membebaskan aku bercerita apapun.bercerita tentang kegelisahan kegembiraan atau hanya sekedar menyadur informasi dari situs lain. maaf…. sekali lagi maaf aku sangat jarang berkunjung ke blog ini padahal nih blog adalah sarana curhatku yang paling tepat.

1 karena jarang pengunjung yang kedua semua tulisanku yang disini menggambarkan perjalananku mulai dari titik nol, sejak 6 tahun yang lalu aku mengenal blog.

Tulisan tersebut terakhir tahun 2013

Dan sekarang aku ingin melanjutkan tulisanku lagi. Saat ini desember 2018 yang artinya sudah 5 tahun sejak tulisan ini dibuat dan berarti aku memulai nulis di wordpress sudah 11 tahun… waw… apa yang telah terjadi setelah 11 tahun aku melupakan tentang menulis, apakah aku sudah jauh berkembang dalam berfikir atau justru aku semakin jauh tertinggal dengan teman temen yang baru memulai menulis.

Buatku menulis hanya sebagai pelarian, ya pelarian. Bagi seorang wartawan menulis sama seperti mencari uang, tidak menulis tidak bisa makan, bagi sebagian orang menulis adalah cara menyampaikan pendapat terserah mau dibaca orang atau tidak, mau di terima orang atau tidak. Bagi seorang entrepreneur menulis adalah jejak, yaitu jejak dia menuliskan mimpi, menuliskan ide dan gagasan hingga menjadi sesuatu yang memberi nilai jual.

Tapi bagiku menulis adalah sebuah pelarian dimana aku bisa menulis banyak hal, mulai yang konyol dan absurd sampai yang serius menjurus ideologi cara berfikir kapitalis yang hanya memikirkan keuntungan.

So, I’m really sorry

Posted in inspirasi

Jadi Inspirasi

Rasanya masih belum pantas diri ini untuk menjadi inspirasi bagi orang lain, masih terlalu banyak cela, terlalu buruk, terlalu bodoh untuk memberikan inspirasi untuk orang lain. Rasanya pengalaman yang aku miliki belum ada apa apanya, bahkan profesi yang aku geluti belum menjadikanku expert di bidangnya. Lalu untuk apa aku mengikuti kelas inspirasi yang katanya memberikan inspirasi untuk anak-anak yang sekolah di pelosok untuk tetap gigih dalam belajar dan mencapai cita-cita. Jawabnya karena aku ingin mencari inspirasi dari mereka adik-adik yang terus berjuang, terus belajar di tengah kondisi sekolah yang masih jauh dari kesempurnaan, mereka terus berusaha meraih mimpi mereka dengan kondisi apa adanya dan penuh keterbatasan. Aku mencari inspirasi dari mereka-mereka anak-anak muda relawan pengajar dan relawan fasilitator dalam mengemas kegiatan sosial yang fun namun tetap mendidik.

imageSehari menginspirasi selamanya memberi artiSehari menginspirasi selamanya memberi artiSehari menginspirasi selamanya memberi arti
Sehari menginspirasi selamanya memberi arti

Di kelas inspirasi ini aku mengenal anak-anak muda yang berjiwa sosial tinggi yang kreatif dan pantang menyerah, pengalaman yang sama juga aku peroleh dari komunitas Save Street Child Surabaya ternyata juga bisa membantuku untuk ikut berperan aktif di dunia pendidikan terutama untuk menghadapi anak-anak.

image

Posted in inspirasi

Memulai joging

Aku Joging? Kayaknya ga ada yang percaya deh. Aku sendiri masih belum percaya kalo aku mau bangun pagi terus olahraga. Kalo sholat subuh sih pasti, cuman biasanya tidur lagi. Kalo kakakku semenjak menikah setiap selesai sholat subuh dia udah mulai rajin baca Quran, tapi untuk aku, yang sholat subuhnya harus menunggu mood dulu kayaknya berat untuk keluar cari angin dan sekedar joging. Tapi dua hari ini aku coba untuk memulai memperbaiki pola hidup sehat.

Posted in My Journey

Tulisan Pertama diawal tahun 2017

Hari ini adalah hari pertama setelah sekian lama aku tidak menulis, aku berharap tulisan ini akan berlanjut ditengah kesibukanku membangun usaha pribadiku yang dulu sempat terhenti. Ya tiga tahun lalu aku sempat merintis usaha percetakan yang hanya berumur kurang dari 6 bulan karena aku harus ke Samarinda selain karena ada project kalender tahuan dari salah satu sekolah di sana, aku juga ingin menyelesaikan beberapa urusan yang tertinggal disana. Saat  itu aku sebenarnya sudah mulai enjoy dengan usaha baruku, punya kios sendiri ngontrak kios fotocopy kecil-kecilan. Saat itu kiosku kuberi nama Viedart Advertising. Ternyata nama yang kuanggap keren malah blunder. Yah karena tempatnya di kampung tak ada yang tau apa itu advertising. Ditambah nama viedart yang tak lain adalah nicknameku yang biasa kupakai untuk chating di internet. Orang malah bener-bener asing. Ga ada yang tahu itu kios apaan. Masih inget aku hari pertama uang yang kudapat waktu itu hanya 20.000, itupun bukan dari jualan desain tapi kudapat dari pulsa yang kebetulan usahanya adikku yang nebeng daripada etalasenya kosong. Saat ini aku memulai lagi tapi dari online, tanpa tempat hanya bermodalkan social media instagram dan beberapa follower yang lumayan tapi mereka aktif dan cukup dekat dengan aku. Jadi ketika aku posting tentang kerjaanku ada beberapa teman yang pesan. Yah Alhamdulillah walau tak banyak tapi omset dari jualan online dapat membantu mencukupi kebutuhan rumah dan kebutuhan pribadiku. Oh iya nama kubuat lebih familiar mudah diucapkan dan yang pasti cukup nyleneh dan bikin orang geleng kepala dan berkomentar “bisa aja”. Nama lapakku adalah Cendol – cetak n desain online-
hehehe logo-cendol-online-merahgimana cukup mudah diucapkan kan? pasti bikin kalian geleng geleng kepala sambil berkata “bisa aja”.

Tulisan ini mungkin akan menjadi awal aku menulis kembali dan mungkin akan menjadi rangkaian tulisan perpisahan. Karena aku tak tahu tinggal berapa lama aku hidup di dunia ini. Saat aku menulis tulisan ini kondisi kesehatanku sedang turun, sepertinya penyakit lama ku sedang kambuh. Tapi aku percaya di sisa usiaku ini aku masih bisa bermanfaat untuk orang lain dan membesarkan usahaku tersebut. Aku yakin masih bisa berkarya untuk seratus tahun lagi. Atau paling tidak karyaku bisa berguna untuk seratus tahun kedepan. Sepertinya  kondisiku ini benar-benar drop, batukku tak mau berhenti, keringat dingin terus mengucur. Rasanya hari ini cukup sampai disini. Sampai jumpa besok, mudahan besok aku masih bisa menulis dan bertemu kalian walau hanya memalui tulisan.

Surabaya, 4 Januari 2017

Roy Fibrianto