Posted in My Journey

Jalan Kaki 10km

Hari minggu tanggal 9 oktober untuk pertama kalinya jalan kaki dari rumah di petemon ke Jl. Tunjungan

setelah ku cek di aplikasi perjalanan pulang pergi sambil istirahat sarapan bubur ayam di arjuna menempuh waktu 2 jam lebih, kita berangkat jam 4.55 dan kembali pulang sampe rumah jam 7.22.

jalan kaki 10kilo itu ternyata wauw banget…

kayaknya perlu di biasain jalan kaki

Posted in renungan

Sedekah Doa di Pagi Hari

Selamat pagi, teman-teman!
Semoga hari ini menjadi salah satu hari yang penuh kebahagiaan dan keberkahan bagi kalian yang membaca pesan ini.

Pernahkah kalian mendengar tentang kekuatan doa untuk orang lain? Saya terinspirasi oleh sebuah tips dari Pak Ari Ginanjar yang sangat sederhana, namun begitu bermakna. Beliau mengajarkan kita untuk bersedekah doa kepada orang lain—khususnya kepada mereka yang mungkin tidak kita kenal, yang kita temui secara acak dalam perjalanan hidup kita.

Caranya mudah: pilih lima orang yang kalian temui hari ini secara acak—entah di jalan, di tempat kerja, atau di mana pun. Kemudian, doakan kebaikan untuk mereka secara diam-diam, dalam hati, atau dengan lirih. Tidak perlu doa yang panjang, cukup yang tulus dan penuh harapan baik.

Misalnya, saat melihat seorang tukang becak, kita bisa mendoakan, “Semoga hari ini beliau mendapatkan rezeki yang melimpah dan perjalanannya dipenuhi keberkahan.” Atau ketika berpapasan dengan seseorang yang tersenyum ramah, ucapkan dalam hati, “Semoga kebahagiaannya terus bertahan, dan ia selalu bertemu orang-orang baik di hidupnya.”

Dengan mendoakan orang lain, kita sebenarnya juga sedang menyebarkan energi positif ke semesta. Tanpa kita sadari, kebaikan itu akan berbalik kepada kita dalam bentuk yang indah dan tak terduga.

Mari mulai hari ini dengan hati yang lapang dan doa-doa yang tulus. Siapa tahu, doa kecil kita menjadi alasan bagi seseorang untuk tersenyum hari ini. 🌟

Posted in inspirasi

Komik Lokal Pupus Putus Sekolah

Sejak kecil, saya selalu suka membaca komik. Hobi ini bahkan terus berlanjut hingga sekarang, saat usia saya sudah menginjak kepala empat. Saya lahir tahun 1984, dan meskipun usia saya kini 40 tahun, saya tetap menikmati dunia komik seperti dulu. Ketika masih kecil, saya sering membaca “Kungfu Boy” dengan tokoh utamanya, Chinmi, juga “Dragon Ball” — meski untuk yang satu ini, saya lebih sering menikmati versi animenya. Ada pula “Detektif Conan” yang masih menemani hingga sekarang, dan tentu saja “One Piece”, sebuah karya besar dari Jepang yang terus saya ikuti.

Di era digital saat ini, hobi saya membaca komik semakin dimudahkan dengan kehadiran aplikasi seperti Webtoon. Di sana, saya mulai mengenal berbagai komik Korea yang biasa disebut manhwa, komik Jepang yang disebut manga, dan komik Tiongkok yang dikenal sebagai manhua. Pengetahuan ini saya dapat karena hingga sekarang, saya tetap setia mengikuti cerita-cerita komik dari berbagai negara. Tak hanya itu, saya juga menikmati karya-karya lokal, seperti “Grey & Jingga” karya Sweta Kartika dan “Pupus Putus Sekolah” karya Kurnia Harta.

Kenapa saya begitu menyukai komik? Karena saya tumbuh bersama mereka. Ketika tinggal di Samarinda, saya sering menyewa komik untuk dibaca dalam 2-3 hari sebelum dikembalikan. Hal serupa saya lakukan saat pindah ke Surabaya, mulai dari SMP hingga SMA. Waktu itu, membeli komik terasa terlalu mahal bagi saya, sehingga menyewa menjadi solusi terbaik. Saya tak keberatan membaca komik yang plastik pembungkusnya sudah robek, karena yang terpenting adalah cerita di dalamnya.

Dari komik, saya belajar banyak hal. Entah itu kisah roman, fiksi, hingga cerita yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu komik yang sangat berkesan bagi saya adalah “Pupus Putus Sekolah”. Karya lokal ini bisa kalian baca di Webtoon. Saya tak akan mengulas ceritanya secara detail — silakan baca sendiri jika penasaran. Namun, ada pelajaran besar yang ingin saya bagikan setelah membaca komik ini: dunia pendidikan itu sangat luas, dan belajar bisa dilakukan di mana saja, dengan siapa saja.

Komik ini membuka mata saya. Kadang kita merasa tahu segalanya, tetapi sebenarnya kita tidak tahu apa-apa. Contohnya, ada kisah tentang Bagus yang diminta mencuci piring. Bagi sebagian orang, pekerjaan ini mungkin dianggap remeh. Namun, jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, mencuci piring bisa menjadi peran yang sangat dihargai di dapur. Tidak semua koki suka mencuci piring, dan keberadaan seseorang yang bersedia melakukannya bisa menjadi sangat berarti.

Ada juga karakter Tomas, anak yang cerdas karena ia suka mencicipi makanan di dapur. Lewat Tomas, kita diajak melihat bahwa kecerdasan itu bisa muncul dari rasa ingin tahu dan pengalaman, bukan hanya dari teori di buku. Selain itu, ada cerita tentang ayah Bagus yang dianggap bodoh oleh banyak orang, bahkan oleh Bagus sendiri. Namun, Tomas memberikan sudut pandang berbeda: label “bodoh” atau “pintar” yang diberikan orang kota hanyalah pandangan sepihak yang tidak perlu terlalu dianggap.

Yang paling menyentuh adalah karakter Mak Luwe dengan kutipannya, “Hidup itu susah, tapi orang-orang baik bisa bikin hidup jadi lebih gampang.” Kalimat ini begitu sederhana, tetapi penuh makna. Ia mengingatkan kita untuk tidak pernah lelah menjadi orang baik. Kebaikan, sekecil apa pun, selalu punya dampak besar bagi kehidupan orang lain.

Melalui komik, saya belajar bahwa pelajaran hidup bisa datang dari mana saja. Komik bukan hanya hiburan; ia juga bisa menjadi guru yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Jadi, jangan pernah berhenti belajar — di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja.

Posted in renungan

Belajar dari Viral “Candaan/Hinaan” Gus Miftah kepada Penjual Es Teh

Beberapa hari terakhir, media sosial ramai membahas peristiwa yang melibatkan Gus Miftah, seorang pendakwah yang dikenal luas. Dalam ceramahnya, ia melontarkan pernyataan yang dianggap netizen sebagai hinaan terhadap penjual es teh. Meski Gus Miftah kemudian mengklarifikasi bahwa itu hanya candaan dalam konteks dakwah, dan ia pun telah meminta maaf kepada pihak yang bersangkutan, kejadian ini meninggalkan sejumlah pelajaran penting untuk kita renungkan.

1. Ucapan adalah cerminan kebiasaan

Apa yang keluar dari lisan seseorang seringkali mencerminkan lingkungan dan kebiasaan yang mereka jalani. Dalam kasus ini, banyak yang menilai bahwa candaan Gus Miftah bisa jadi merupakan refleksi dari kata-kata yang sering ia dengar di lingkungannya. Sebagai pendakwah yang aktif berdakwah di tempat-tempat seperti diskotik, klub malam, dan lokasi lainnya yang identik dengan kultur bebas, tidak heran jika bahasa yang biasa digunakan oleh orang-orang di sana sedikit banyak berpengaruh pada dirinya. Ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih berhati-hati menjaga lingkungan yang dapat memengaruhi pola pikir dan ucapan kita.

2. Viral: Jalan pintas untuk pansos

Fenomena viral kerap menjadi “tangga emas” bagi banyak pihak untuk menaikkan popularitas atau engagement di media sosial. Dalam kasus ini, tidak sedikit akun yang memanfaatkan isu tersebut untuk tujuan tertentu—baik untuk membantu penjual es teh maupun sekadar mencari perhatian. Bahkan akun-akun desain grafis turut membuat konten seputar “branding” es teh. Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial menjadi arena yang dinamis, namun seringkali diwarnai motif beragam, termasuk pansos.

3. Cara Allah mengangkat dan menjatuhkan derajat manusia

Kejadian ini juga menjadi pelajaran tentang kehendak Allah dalam menentukan nasib seseorang. Penjual es teh yang awalnya mungkin dianggap sederhana kini mendapat simpati besar dan bahkan peluang untuk maju berkat peristiwa ini. Sebaliknya, seseorang yang berada di posisi terhormat bisa tergelincir oleh kesombongan atau ucapan yang tidak dijaga. Ini menjadi pengingat untuk selalu rendah hati, karena sebagaimana Iblis dihukum karena kesombongannya, kita pun bisa mengalami hal serupa jika lupa diri.

4. Adab lebih utama daripada ilmu

Ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan keangkuhan. Dalam Islam, adab (akhlak) adalah hal mendasar yang bahkan mendahului ilmu. Seorang alim tanpa adab tidak akan dihormati, sedangkan seseorang dengan adab yang baik akan selalu dikenang meski ilmunya terbatas. Dalam konteks ini, ucapan yang terkesan merendahkan menunjukkan bahwa kecerdasan atau ilmu seseorang tidak cukup tanpa sikap yang santun. Sebagai seorang pendakwah yang seharusnya menjadi teladan, menjaga adab saat berbicara, terutama di depan publik, adalah kewajiban. Hal ini mengingatkan kita untuk selalu mengedepankan kelembutan, tidak hanya dalam kata-kata tetapi juga dalam perbuatan. Rasulullah SAW sendiri adalah contoh sempurna bagaimana ilmu dan adab berpadu dalam setiap dakwahnya.

5. Berita viral sebagai pengalihan isu

Tidak dapat dipungkiri, banyak kasus viral yang kemudian dimanfaatkan sebagai pengalihan perhatian dari isu yang lebih serius. Dalam situasi ini, perbincangan hangat seputar “candaan” Gus Miftah bisa jadi menutupi perhatian masyarakat terhadap kasus penembakan siswa oleh oknum polisi di Semarang, atau isu-isu krusial lainnya. Fenomena ini mengingatkan kita untuk tetap bijak memilah mana yang harus menjadi fokus utama.


Kesimpulan
Kasus ini menjadi pelajaran besar, tidak hanya bagi Gus Miftah tetapi juga bagi kita semua. Menjaga ucapan, mengutamakan adab, dan selalu rendah hati adalah kunci agar kita tetap dihormati dan menjadi pribadi yang lebih baik. Viral di media sosial boleh jadi mencuri perhatian, tetapi jangan sampai melalaikan kita dari isu yang lebih penting dan prinsip-prinsip dasar kehidupan.