Dalam dunia bisnis modern, sering kali orientasi kita hanya terpaku pada laba dan rugi. Namun bila menelusuri jejak para pelaku bisnis yang bergerak dengan pandangan spiritual, kita menemukan pola berbeda: bisnis tidak berdiri semata untuk memperkaya diri, melainkan sebagai sarana menghadirkan kemaslahatan.
Tiga tokoh yang menarik untuk dikaji dalam konteks ini adalah Sholah Athiyah (atau Solah Attiah), Utsman bin ‘Affan, dan Abdurrahman bin ‘Auf. Keduanya tidak berada dalam satu masa sejarah, tetapi ketiganya menunjukkan pola serupa: melibatkan Tuhan dalam pengambilan keputusan dan mengutamakan kepentingan masyarakat luas.
Siapa Sholah Athiyah?
Sholah Athiyah bukan tokoh fiksi atau karakter novel. Ia adalah seorang pengusaha yang dikenal di dunia modern, salah satu public figure yang membangun bisnis dengan prinsip bahwa keuntungan terbesar adalah manfaat bagi manusia lain. Bila ditelusuri di internet, banyak liputan jurnalistik mengenai sepak terjang bisnis dan filantropinya yang menjadikan faktor nilai ketimbang sekadar margin keuntungan.
Utsman bin ‘Affan: Bisnis sebagai Kemaslahatan Publik
Dalam sejarah Islam, Utsman bin ‘Affan dikenal sebagai pedagang sukses sekaligus khalifah ketiga. Salah satu kisah yang paling masyhur adalah pembelian Sumur Raumah (atau sumur milik seorang Yahudi pada masa itu). Sumur tersebut awalnya dimonopoli dan airnya dijual dengan harga mahal. Utsman membeli sumur tersebut bukan untuk keuntungan komersial, melainkan agar masyarakat dapat mengambil air secara gratis.
Menariknya, aset tersebut terus berkembang sepanjang sejarah. Di era modern, lahan wakaf Sumur Raumah tersebut tercatat dikelola sebagai aset produktif, termasuk hotel, dan hasilnya masuk ke rekening wakaf atas nama Utsman bin ‘Affan sampai saat ini. Ini adalah salah satu kasus nyata bagaimana orientasi kebermanfaatan dapat menciptakan keberlanjutan lintas zaman.
Rujukan historis:
- Sunan an-Nasa’i no. 3575 (Riwayat tentang Sumur Raumah)
- Ibn Sa’d, at-Thabaqat al-Kubra, jilid III
- Abdul Wahhab Ibrahim Ghoneim, Waqf in Islamic History and its Influence, 2003
- Laporan Kementerian Wakaf Saudi (data pengelolaan wakaf Sumur Raumah, publikasi modern)
Abdurrahman bin ‘Auf: Menjaga Rantai Ekonomi agar Tidak Ada yang Rugi
Abdurrahman bin ‘Auf juga merupakan pengusaha besar pada masa Nabi. Dalam riwayat yang banyak dikenal di karya-karya kisah motivasi bisnis Islam, terdapat cerita mengenai kurma busuk pada musim gagal panen. Ketika para petani merugi, ia membeli stok mereka agar tidak ada yang bangkrut. Secara ekonomi, ini disebut intervensi pasar berbasis filantropi, yaitu tindakan menyerap kelebihan pasokan demi menjaga petani tetap bertahan.
Dalam kisah tersebut, disebutkan bahwa tak lama kemudian muncul kebutuhan di wilayah lain karena adanya wabah, dan kurma jenis tersebut menjadi barang yang sangat dicari sehingga Abdurrahman justru mendapatkan keuntungan besar. Pesan moral yang muncul: niat menolong tidak menghalangi keberkahan keuntungan.
Catatan historiografi:
Kisah ini populer dalam literatur adab dan kisah hikmah, meskipun tidak termasuk riwayat sahih dalam kitab hadis primer. Namun tokoh Abdurrahman bin ‘Auf memang faktual tercatat sebagai pedagang dermawan dengan data sejarah kuat. Ia termasuk sahabat kaya yang menyelesaikan persoalan sosial melalui intervensi ekonomi. Misalnya, ia membagikan kafilah dagang kepada masyarakat Madinah ketika terjadi kesulitan pangan.
Rujukan primer dan sekunder:
- Ibn Sa’d, at-Thabaqat al-Kubra, jilid III
- Ibn Hajar al-Asqalani, al-Ishabah fi Tamyiz as-Sahabah
- Al-Baladzuri, Ansab al-Ashraf
- Seyyed Hossein Nasr (ed.), The Study Quran, HarperOne, 2015 (konteks ekonomi)
- Hamidullah, The Prophet’s Establishing a State and His Succession, Istanbul, 1998
Menarik Garis Belajar
Dari ketiga sosok di atas, ada satu benang merah yang sangat kuat, bisnis bukan semata mencari keuntungan, tetapi melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan dan mengutamakan kepentingan umum.
Orientasi ini membuat bisnis menjadi lebih tenang, berkelanjutan, dan justru membuka pintu keberkahan dalam bentuk yang tidak selalu bisa diprediksi oleh kalkulasi manusia.
Dalam era kapitalisme modern yang serba transaksional, cara pandang ini adalah alternatif yang tidak hanya relevan tetapi penting. Karena pada akhirnya, kemampuan sebuah bisnis untuk bertahan panjang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengakumulasi laba, tetapi oleh kemampuan menciptakan manfaat bagi banyak orang.
-Roy Fibrianto-
ditulis di surabaya dibaca dimana saja