Posted in Blog

Mulai dari 1 langkah

Bukan langkah besar, bukan target muluk. Cukup satu yang benar-benar dijalani.

Tahun ini, pertanyaan yang sama muncul lagi:
“Apakah tahun ini bisa lebih baik dari tahun sebelumnya?”
Jawabannya belum perlu sekarang. Yang penting dimulai.

Bismillah.
Untuk olahraga, Januari sudah dicentang ✔️
Bukan soal sempurna, tapi soal konsisten hadir.
Di saat banyak rencana masih berupa niat, satu kebiasaan ini sudah berjalan.

Bidang lain?
Religi, mental, disiplin, arah hidup—belum semuanya rapi.
Tapi tidak apa-apa.
Tahun masih panjang, dan bulan pertama bahkan belum benar-benar selesai.
Masih hitungan jam, masih ruang untuk memperbaiki niat.

Tahun lalu, tantangan itu hanya bertahan 7 bulan dari 12 bulan.
Bukan gagal—itu data.
Bukti bahwa kamu bisa berjalan sejauh itu.

Sekarang, tahun ini dimulai dengan bekal pengalaman, bukan angan-angan.
Bukan janji keras di awal tahun, tapi langkah nyata di bulan pertama.

Apakah tahun ini bisa lebih baik?
Belum perlu dijawab.
Biarkan waktu yang membuktikan.

Yang jelas hari ini:

  • Sudah bergerak
  • Sudah mencoba
  • Sudah belajar dari tahun lalu

Dan itu cukup untuk melanjutkan ke bulan berikutnya.

Pelan, sadar, dan konsisten.
Lihat nanti—barangkali tahun ini, centangnya tidak berhenti di angka tujuh.

Roy Ribrianto

Ditulis di surabaya dibaca dimana saja

Posted in Blog

Belajar Bisnis dari Sholah Athiyah, Utsman bin ‘Affan, dan Abdurrahman bin ‘Auf

Dalam dunia bisnis modern, sering kali orientasi kita hanya terpaku pada laba dan rugi. Namun bila menelusuri jejak para pelaku bisnis yang bergerak dengan pandangan spiritual, kita menemukan pola berbeda: bisnis tidak berdiri semata untuk memperkaya diri, melainkan sebagai sarana menghadirkan kemaslahatan.

Tiga tokoh yang menarik untuk dikaji dalam konteks ini adalah Sholah Athiyah (atau Solah Attiah), Utsman bin ‘Affan, dan Abdurrahman bin ‘Auf. Keduanya tidak berada dalam satu masa sejarah, tetapi ketiganya menunjukkan pola serupa: melibatkan Tuhan dalam pengambilan keputusan dan mengutamakan kepentingan masyarakat luas.

Siapa Sholah Athiyah?

Sholah Athiyah bukan tokoh fiksi atau karakter novel. Ia adalah seorang pengusaha yang dikenal di dunia modern, salah satu public figure yang membangun bisnis dengan prinsip bahwa keuntungan terbesar adalah manfaat bagi manusia lain. Bila ditelusuri di internet, banyak liputan jurnalistik mengenai sepak terjang bisnis dan filantropinya yang menjadikan faktor nilai ketimbang sekadar margin keuntungan.

Utsman bin ‘Affan: Bisnis sebagai Kemaslahatan Publik

Dalam sejarah Islam, Utsman bin ‘Affan dikenal sebagai pedagang sukses sekaligus khalifah ketiga. Salah satu kisah yang paling masyhur adalah pembelian Sumur Raumah (atau sumur milik seorang Yahudi pada masa itu). Sumur tersebut awalnya dimonopoli dan airnya dijual dengan harga mahal. Utsman membeli sumur tersebut bukan untuk keuntungan komersial, melainkan agar masyarakat dapat mengambil air secara gratis.

Menariknya, aset tersebut terus berkembang sepanjang sejarah. Di era modern, lahan wakaf Sumur Raumah tersebut tercatat dikelola sebagai aset produktif, termasuk hotel, dan hasilnya masuk ke rekening wakaf atas nama Utsman bin ‘Affan sampai saat ini. Ini adalah salah satu kasus nyata bagaimana orientasi kebermanfaatan dapat menciptakan keberlanjutan lintas zaman.

Rujukan historis:

  • Sunan an-Nasa’i no. 3575 (Riwayat tentang Sumur Raumah)
  • Ibn Sa’d, at-Thabaqat al-Kubra, jilid III
  • Abdul Wahhab Ibrahim Ghoneim, Waqf in Islamic History and its Influence, 2003
  • Laporan Kementerian Wakaf Saudi (data pengelolaan wakaf Sumur Raumah, publikasi modern)

Abdurrahman bin ‘Auf: Menjaga Rantai Ekonomi agar Tidak Ada yang Rugi

Abdurrahman bin ‘Auf juga merupakan pengusaha besar pada masa Nabi. Dalam riwayat yang banyak dikenal di karya-karya kisah motivasi bisnis Islam, terdapat cerita mengenai kurma busuk pada musim gagal panen. Ketika para petani merugi, ia membeli stok mereka agar tidak ada yang bangkrut. Secara ekonomi, ini disebut intervensi pasar berbasis filantropi, yaitu tindakan menyerap kelebihan pasokan demi menjaga petani tetap bertahan.

Dalam kisah tersebut, disebutkan bahwa tak lama kemudian muncul kebutuhan di wilayah lain karena adanya wabah, dan kurma jenis tersebut menjadi barang yang sangat dicari sehingga Abdurrahman justru mendapatkan keuntungan besar. Pesan moral yang muncul: niat menolong tidak menghalangi keberkahan keuntungan.

Catatan historiografi:
Kisah ini populer dalam literatur adab dan kisah hikmah, meskipun tidak termasuk riwayat sahih dalam kitab hadis primer. Namun tokoh Abdurrahman bin ‘Auf memang faktual tercatat sebagai pedagang dermawan dengan data sejarah kuat. Ia termasuk sahabat kaya yang menyelesaikan persoalan sosial melalui intervensi ekonomi. Misalnya, ia membagikan kafilah dagang kepada masyarakat Madinah ketika terjadi kesulitan pangan.

Rujukan primer dan sekunder:

  • Ibn Sa’d, at-Thabaqat al-Kubra, jilid III
  • Ibn Hajar al-Asqalani, al-Ishabah fi Tamyiz as-Sahabah
  • Al-Baladzuri, Ansab al-Ashraf
  • Seyyed Hossein Nasr (ed.), The Study Quran, HarperOne, 2015 (konteks ekonomi)
  • Hamidullah, The Prophet’s Establishing a State and His Succession, Istanbul, 1998

Menarik Garis Belajar

Dari ketiga sosok di atas, ada satu benang merah yang sangat kuat, bisnis bukan semata mencari keuntungan, tetapi melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan dan mengutamakan kepentingan umum.

Orientasi ini membuat bisnis menjadi lebih tenang, berkelanjutan, dan justru membuka pintu keberkahan dalam bentuk yang tidak selalu bisa diprediksi oleh kalkulasi manusia.

Dalam era kapitalisme modern yang serba transaksional, cara pandang ini adalah alternatif yang tidak hanya relevan tetapi penting. Karena pada akhirnya, kemampuan sebuah bisnis untuk bertahan panjang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengakumulasi laba, tetapi oleh kemampuan menciptakan manfaat bagi banyak orang.

-Roy Fibrianto-
ditulis di surabaya dibaca dimana saja

Posted in Blog

Catatan Resolusi 2026

Tahun 2025 sudah berlalu, meninggalkan jejak harapan dan rencana yang sebagian besar masih tertunda. Aku sempat menuliskan banyak wishlist: berangkat umroh lagi, membuka stand usaha, menambah karyawan yang sevisi. Namun kenyataannya, belum ada yang benar-benar terwujud. Meski begitu, bukan berarti semuanya berhenti. Ada langkah-langkah kecil yang mulai terlihat.

Di usaha, aku sudah punya kandidat yang selama ini membantu di bagian finishing. Memang dia belum bisa desain, tapi itu bisa sambil belajar. Ada juga sepupu yang lumayan jago marketing, dan aku mulai berpikir untuk merekrutnya dengan sistem bagi hasil keuntungan sebelum masuk ke sistem gaji. Rasanya seperti puzzle yang mulai menemukan potongan-potongan baru, meski belum lengkap.

Tahun ini juga membawa tantangan lain: aku dan istri harus menjalani LDR. Sejak Desember kemarin, ia diterima bekerja di BPDLH selama 10 bulan. Itu berarti mobilitas kami Surabaya–Jakarta, entah aku yang ke Jakarta atau ia yang pulang ke Surabaya. Konsekuensinya, rencana memiliki momongan harus tertunda lagi. Tapi kami berdua sepakat, anak bukan prioritas jangka pendek. Fokus kami sekarang adalah membangun pondasi ekonomi keluarga: dana darurat, dana pensiun, dan kestabilan finansial. Usia kami memang masih produktif, aku 42 tahun dan istriku 40 tahun, tapi kami ingin menyiapkan masa depan sejak sekarang.

Menulis juga menjadi bagian penting dari perjalanan ini. Tahun 2025 aku hanya menulis 5 tulisan. Sedikit sekali dibandingkan harapanku yang ingin menulis minimal 1 tulisan per minggu. Maka di tahun 2026 aku menargetkan minimal 12 tulisan, satu tulisan setiap bulan. Aku punya blog ini untuk menampung tulisan-tulisan itu, dan aku tidak peduli apakah dibaca orang atau tidak. Tujuanku sederhana: mengabdi dan mengabadikan diri. Kalau ada yang membaca dan mendapat manfaat, itu bonus. Aku juga punya akun threads yang followernya ga seberapa, mirip X, interaksinya lumayan bagus, jadi bisa jadi tempat berbagi tulisan.

Olahraga, lagi-lagi, menjadi resolusi yang belum sempurna. Tahun lalu hanya 7 bulan aku berhasil memenuhi challenge di iPhone, padahal tahun 2024 ada 8 bulan. Targetku tahun ini minimal 8–10 bulan bisa konsisten. Aku juga punya hobi baru: berenang. Rasanya menyenangkan, sekaligus menambah semangat untuk hidup lebih sehat.

Di sisi religi, aku ingin memperbaiki lagi. Terakhir kali ikut belajar membaca Al-Qur’an ternyata tahun 2024. Tahun 2025 aku tidak sempat melanjutkan. Maka di tahun 2026 ini aku ingin kembali ikut ngaji di Masjid Al-Falah. Rasanya rindu duduk bersama jamaah selepas subuh, membuka mushaf, dan belajar pelan-pelan.

Begitulah perjalanan resolusi dari tahun lalu yang masih ingin aku capai tahun ini. Tidak semua berjalan sesuai rencana, tapi aku percaya setiap langkah kecil tetap berarti. Semoga di tahun 2026 ini, Allah memudahkan jalanku untuk mewujudkan apa yang sudah lama aku impikan.

Jadi apakah resolusimu tahun lalu sudah tercapai, tahun ini masih sama kah?

Posted in Blog

Cinta

Sudah lama aku kehilangan cinta
Sejak seseorang meninggalkanku
Satu persatu orang meninggalkanku
Atau aku yang meninggalkan mereka
Satu persatu aku pun tak tahu
Saat ini aku sendirian
Atau aku sendiri yang merasa kesepian
Ditengah pedulinya sahabatku
Selama ini aku meninggalkan cinta
Selama ini aku menyerahkan cinta
Namun kali ini aku ditinggalkan cinta
Mampukah aku menemukan cinta
Yang telah lama kulupakan…