Posted in My Journey

Kekuatan Doa dan Perjalanan Menggapai Mimpi

Tahun 2024 menjadi tahun yang sangat berkesan, baik untukku pribadi maupun untuk istriku. Tahun itu menandai tiga tahun perjalanan rumah tangga kami. Aku masih ingat betul, pada tanggal 30 Mei 2021, kami menikah. Saat itu, usiaku sudah melewati angka 37 tahun — usia yang, bisa dibilang, terlalu matang bahkan terlambat untuk menikah menurut banyak orang. Target awalku adalah menikah di usia 27 tahun, tapi ternyata butuh waktu 10 tahun lebih hingga Allah mengabulkan keinginanku itu.

Namun, Allah memang selalu memiliki rencana terbaik. Ada hikmah di balik setiap penantian. Dan tahun 2024 menjadi bukti nyata dari kekuatan doa dan mimpi yang tak pernah padam.

Hadiah Terbesar di Tahun 2024

Di tahun ini, Allah memberiku hadiah yang luar biasa. Aku dan istriku diundang untuk menjadi tamu-Nya di Tanah Suci, Mekkah Al-Mukarramah. Selain itu, kami juga diberi kesempatan untuk berziarah ke makam Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam di Madinah Al-Munawwarah. Rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan — mimpi yang pernah aku panjatkan dalam doa, mimpi yang aku tuliskan dalam diam, bahkan dalam bentuk ucapan-ucapan kecil yang mungkin tak kusadari begitu berarti.

Aku teringat kembali pada doa seorang sahabatku tujuh tahun yang lalu, di tahun 2017. Saat itu, ia sudah lebih dulu diberi kesempatan untuk mengunjungi Ka’bah. Dalam doanya, ia menyebut namaku, memohon kepada Allah agar suatu hari aku juga diberi kesempatan yang sama. Dan ternyata, doa itu Allah kabulkan di waktu terbaik-Nya. Siapa sangka, doa yang dipanjatkan oleh seorang sahabat tujuh tahun lalu menjadi bagian dari perjalanan hidupku hari ini?

Doa yang Tercatat oleh Malaikat

Bukan hanya doa sahabatku, tetapi juga doaku sendiri yang pernah kutuliskan di media sosial dengan nada iseng. Saat itu, aku berharap bisa berangkat ke Tanah Suci bersama istriku. Masih jelas teringat, pada malam setelah akad nikah, aku berkata kepada istriku, “Aku ingin umroh dulu sebelum punya rumah. Paling tidak, tahun ke-3 pernikahan kita, kita bisa berangkat umroh. Tahun ke-5 baru kita punya rumah.”

Siapa sangka, ucapanku itu dicatat oleh malaikat dan benar-benar menjadi kenyataan. Tahun 2024, tepat di tahun ke-3 pernikahan kami, Allah memanggil kami ke Tanah Suci. Perjalanan yang tidak hanya menguatkan iman, tetapi juga mempertegas keyakinanku bahwa doa memiliki kekuatan luar biasa.

Jangan Pernah Meremehkan Kekuatan Doa

Perjalanan ini mengajarkanku satu hal penting: jangan pernah meremehkan kekuatan doa. Setiap doa, baik yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh maupun yang terucap dengan iseng, memiliki peluang untuk dikabulkan oleh Allah. Kita mungkin tidak tahu kapan dan bagaimana doa itu akan terwujud, tetapi satu hal yang pasti, Allah tidak pernah mengabaikan doa hamba-Nya.

Tahun 2024 telah berlalu, namun kenangannya akan terus hidup dalam hati kami. Perjalanan ini menjadi pengingat untuk terus bermimpi, terus berdoa, dan terus percaya pada rencana Allah. Apa pun yang kita harapkan, panjatkanlah dalam doa. Biarkan Allah yang mengatur waktunya.

Januari 2025 Semoga aku bisa terus menulis dan berbagi inspirasi.

Posted in My Journey

Jalan Kaki 10km

Hari minggu tanggal 9 oktober untuk pertama kalinya jalan kaki dari rumah di petemon ke Jl. Tunjungan

setelah ku cek di aplikasi perjalanan pulang pergi sambil istirahat sarapan bubur ayam di arjuna menempuh waktu 2 jam lebih, kita berangkat jam 4.55 dan kembali pulang sampe rumah jam 7.22.

jalan kaki 10kilo itu ternyata wauw banget…

kayaknya perlu di biasain jalan kaki

Posted in My Journey

Tulisan Pertama diawal tahun 2017

Hari ini adalah hari pertama setelah sekian lama aku tidak menulis, aku berharap tulisan ini akan berlanjut ditengah kesibukanku membangun usaha pribadiku yang dulu sempat terhenti. Ya tiga tahun lalu aku sempat merintis usaha percetakan yang hanya berumur kurang dari 6 bulan karena aku harus ke Samarinda selain karena ada project kalender tahuan dari salah satu sekolah di sana, aku juga ingin menyelesaikan beberapa urusan yang tertinggal disana. Saat  itu aku sebenarnya sudah mulai enjoy dengan usaha baruku, punya kios sendiri ngontrak kios fotocopy kecil-kecilan. Saat itu kiosku kuberi nama Viedart Advertising. Ternyata nama yang kuanggap keren malah blunder. Yah karena tempatnya di kampung tak ada yang tau apa itu advertising. Ditambah nama viedart yang tak lain adalah nicknameku yang biasa kupakai untuk chating di internet. Orang malah bener-bener asing. Ga ada yang tahu itu kios apaan. Masih inget aku hari pertama uang yang kudapat waktu itu hanya 20.000, itupun bukan dari jualan desain tapi kudapat dari pulsa yang kebetulan usahanya adikku yang nebeng daripada etalasenya kosong. Saat ini aku memulai lagi tapi dari online, tanpa tempat hanya bermodalkan social media instagram dan beberapa follower yang lumayan tapi mereka aktif dan cukup dekat dengan aku. Jadi ketika aku posting tentang kerjaanku ada beberapa teman yang pesan. Yah Alhamdulillah walau tak banyak tapi omset dari jualan online dapat membantu mencukupi kebutuhan rumah dan kebutuhan pribadiku. Oh iya nama kubuat lebih familiar mudah diucapkan dan yang pasti cukup nyleneh dan bikin orang geleng kepala dan berkomentar “bisa aja”. Nama lapakku adalah Cendol – cetak n desain online-
hehehe logo-cendol-online-merahgimana cukup mudah diucapkan kan? pasti bikin kalian geleng geleng kepala sambil berkata “bisa aja”.

Tulisan ini mungkin akan menjadi awal aku menulis kembali dan mungkin akan menjadi rangkaian tulisan perpisahan. Karena aku tak tahu tinggal berapa lama aku hidup di dunia ini. Saat aku menulis tulisan ini kondisi kesehatanku sedang turun, sepertinya penyakit lama ku sedang kambuh. Tapi aku percaya di sisa usiaku ini aku masih bisa bermanfaat untuk orang lain dan membesarkan usahaku tersebut. Aku yakin masih bisa berkarya untuk seratus tahun lagi. Atau paling tidak karyaku bisa berguna untuk seratus tahun kedepan. Sepertinya  kondisiku ini benar-benar drop, batukku tak mau berhenti, keringat dingin terus mengucur. Rasanya hari ini cukup sampai disini. Sampai jumpa besok, mudahan besok aku masih bisa menulis dan bertemu kalian walau hanya memalui tulisan.

Surabaya, 4 Januari 2017

Roy Fibrianto

Posted in My Journey

Menikmati Sunrise di pantai Pampuma

image

Ga ada angin ga ada hujan, tiba-tiba Qowy, salah satu temen dari SSChild Surabaya mengajak kami pengajar ambengan batu untuk jalan-jalan ke Pantai Pampuma di Jember. Kebetulan juga sih ada temen kita yang kerja di jember yaitu mas Andy yang siap menjadi penunjuk jalan ke sana. Rencana awal sih yang mau berangkat qowy, Saad, Fahmi, aku dan mbak Mhee. Kami berencana berangkat naik kereta Api tapi karena waktunya terlalu mepet, tiket kereta pun habis terpaksa kita naik bus. Malam sebelum berangkat mbak Mhee sudah memastikan ga ikut berangkat kalau naik bus, tapi qowy masih sempet ngabari, kalo dia tetep ikut tapi ga tahu kenapa pagi hari menjelang Berangkat, dia membatalkan untuk berangkat. Coba dia bilangnya malam mungkin kita semua batal berangkat, tapi karena paginya kita sudah siap, maka perjalanan pun berlanjut walau hanya bertiga, Aku, Fahmi, dan Saad. Sebelum berangkat kita berkumpul dulu di tempat kostnya qowy untuk ambil Tenda yang sudah disewanya semalam untuk ngecamp di pantai Pampuma. Sampai di kostnya eh dia malah membelikan kita snack untuk cemilan kita, padahal dianya sendiri ga ikut.

image

Kami bertiga pun akhirnya berangkat menuju terminal Purabaya (bungurasih) untuk parkir motor dan berlanjut naik bus berangkat ke Jember. Sampai di terminal, bus yang tarif biasa sudah berangkat dan adanya bus patas dengan tarif sedikit lebih mahal, Rp52.000,-. Sedang tarif bus biasa hanya Rp.35.000,-. Di dalam Bus fahmi duduk bersebelahan dengan seorang bule kebangsaan Jerman, yang ternyata mereka hendak ke gunung Bromo. Kita lupakan sejenak soal bule dari Jerman itu, toh yang duduk bersebelahan bukan aku tapi Fahmi, entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti aku menikmati perjalananku di bus sambil tidur-tiduran di iringi lagu Mp3 dari hp. Kira-kira jam 1an kita sampai di terminal jember, sambil menunggu mas Andy menjemput di terminal kami makan siang dulu di terminal. Yang membuat kami terkejut ada seorang penjual jagung rebus yang menawarkan jagungnya hanya 1000 rupiah, sementara di surabaya jagung rebus masih dijual dengan harga 3000 rupiah, murah juga ya hidup di jember. Setelah kita makan Mas Andy dan kedua temannya akhirnya datang menjemput kami di terminal. Dan kita berenam pun langsung menuju ke pantai, setelah sebelumnya Mas Andy dan kedua temennya mampir makan siang mie kopyok khas jember yang harganya ga kalah murahnya juga. Sesampai di Jember kita mendirikan Tenda di bibir pantai deket parkiran mobil.

image

Malamnya harinya sambil mendengarkan suasana dentuman ombal di malam hari membuat hati tenang, jauh dari hiruk pikuk suara kendaraan di jalan. Baru kali ini aku bermalam di tepi pantai sambil mendengarkan suara ombak bersahut-sahutan. Sensasinya memang berbeda dengan di gunung, kalo di gunung suara jangkrik dan udara menusuk kulit biasa menghampiri, sedang di tepi pantai dengan tiupan angin yang cukup kencang namun dinginnya tidak setajam udara gunung. Sambil menikmati irama ombak yang bersahut-sahutan kami membuat api unggun dengan membakar kayu di sekitar pantai.

image

Posted in My Journey

Cerita dari Delta

IMG_9462Waktu menunjukkan pukul 22.00 waktu Surabaya, saat aku pulang dari nonton film di bioskop plaza Surabaya kulihat seorang gadis kecil yang berusia belum genap 10 tahun, dan bocah laki-laki yang belum genap 5 tahun, sedang tidur tanpa alas di lantai plaza yang cukup dingin menurutku. Disampingnya ada gelas plastik untuk tempat uang receh bagi siapapun yang iba dan memberikan recehan padanya juga beberapa lembar Koran yang belum laku tampak tergeletak digunakan sebagai bantal. Saat pertama kali berjumpa aku sempat berikir kemana ibunya, kok tega sampai larut malam kok anaknya dibiarkan tidur di emperan mall, hingga akhirnya aku bergabung dengan komunitas yang peduli dengan nasib mereka, ya komunitas itu bernama Save Street Child Surabaya.

Komunitas SSC Surabaya inilah yang mengenalkanku pada Rahma gadis kecil yang kujumpai pertama kali di Plaza Surabaya waktu itu. Dan ternyata bocah laki-laki yang disampingnya yang cukup aktif adalah adiknya bernama Fano. Aku bergabung menjadi volunter SSC Surabaya sebagai tenaga pengajar yang dikenal dengan sebutan Pengajar Keren dari program KAU Mengajar (Kami Ada Untuk Mengajar). Salah satu program yang digagas SSC Surabaya yang bertujuan untuk kepedulian terhadap dunia pendidikan anak-anak terutama bagi mereka anak-anak jalanan. Ya karena mereka hampir tidak memiliki waktu untuk belajar dirumah ataupun untuk mengikuti bimbingan belajar yang harganya terbilang mahal untuk kondisi perekonomian keluarga mereka.

Sejak bergabung dengan SSC Surabaya aku mulai mengenal siapa Rahma, karena 2 kali semingu tiap selasa dan Rabu jam 19.00 malam, aku turut serta mengajar di wilayah Delta (sebutan untuk Plaza Suabaya) sebagai pengajar keren, awalnya yang mengajar di delta hanya kami berlima bersama Mas Gito, Mas Andy, Mas John, dan si cantik Mbak Aurora di temani dengan pengajar lama yang keibuan Mbak Anis. Sebelum mengajar di Delta kami berlima sebenarnya sudah saling kenal karena dipertemukan di Open Rekrutmen Pengajar Keren SSC Surabaya, yang kebetulan kami berempat yaitu aku, Mas John , Mas Andy juga Mbak Aurora adalah satu kelompok. Seiring berjalannya waktu kakak-kakak pengajar yang turut perpartisipasi di Delta semakin banyak diantaranya ada Bang Jo, Mbak Reny, Mbak Okta, Mbak Wundri, Mbak Intan, Mbak Aulia, Mbak Qowy, Mbak Puspita, Mbak Lala, Mas Indra, Mas Sandy, Mas Fahmi, Mas Ghosy, dan masih banyak lagi yang aku ga kenal namanya satu persatu.

Bersama sahabat-sahabat seperjuangan itulah, aku mulai mengenal siapa sosok Rahma. Seorang gadis kecil yang gigih di usianya yang masih belia, walau kadang sedikit rewel seperti anak-anak pada umumnya. Dan kadang jika dia mulai rewel dan ga mau belajar, kami kakak – kakak pengajar yang laki-laki kadang ga sanggup menghadapi tingkahnya tapi Mbak Aurora yang mungkin sama-sama perempuan sanggup meluluhkan hati Rahma dan mau belajar. Lain Rahma lain lagi dengan adiknya Fano, bocah laki-laki yang super aktif itu paling susah untuk diam, dia mau belajar jika suasana hatinya mau belajar, walau akhir-akhir ini sudah bisa menulis angka 1-10 dengan benar. Bahkan kadang-kadang kakak pengajar yang baru bergabung sering dibuat kerepotan dengan tingkahnya yang ga bisa diam. Sebenarnya ada salah satu pengajar yang mampu menakhlukkan hati Fano, dia salah satu Pengajar Keren yang akhir-akhir ini jarang ngajar. Mungkin karena kesibukannya bekerja atau yang lain aku tak tahu. Yang pasti setiap aku ke Delta yang dicari Fano adalah kakak tersebut bukan kakak pengajar yang lain.

Kelas Delta… ya, mungkin itulah seklumit cerita tentang kelas Delta yang kini hanya mengajar 2 adik, Rahma dan Fano. Sebelumnya ada 4 anak bersaudara dari Ambengan Batu yang ikut meramaikan kegiatan belajar di Delta ini, mereka adalah Putri, Amel, Arya dan Putra dan 3 anak lainnya namun seiring dibukanya kelas baru di dekat rumah mereka, sehingga mereka ikut belajar di Ambengan Batu. Kini di Delta mulai sepi, namun kami tetap datang untuk bertemu Rahma dan Fano sambil tetap belajar sambil bermain. Terima kasih untuk kakak-kakak pengajar yang turut meramaikan Delta.

-Roy-

Pengajar Keren Delta yang masih belum merasa keren.

Posted in My Journey

Senja di “Harina”

Bukan tempat wisata, bukan juga sebuah café, hanya kereta api eksekutif Surabaya-Bandung, ya Kereta Api Harina Expres, seperti nama seorang perempuan memang. Temanku di komunitas SSC bernama Arina juga temanku waktu di SMA dulu namanya juga Arina. Tapi ini bukan membahas soal kedua temanku yang kebetulan namanya hampir mirip dengan kereta api Eksekutif itu. Namun ini adalah perjalananku yang tidak kusengaja, perjalanan yang tak seorangpun tahu, keluargaku pun tak tahu teman-temanku tak tahu, yang tahu hanya Allah dan seorang teman “kecilku” yang kebetulan sedang KKN di Bojonegoro yang akhir-akhir ini aku semakin dekat dengannya justru saat dia jauh dariku.
16.00 WIB. Start
Aku berangkat naik “harina” meninggalkan kota yang semakin hari semakin sejuk. Mungkiin tak lama lagi kota Surabaya ga akan kalah dari sejuknya kota malang karena hadirnya berbagai taman yang berada di seluruh pelosok kota Surabaya. Aku lama tidak melakukan perjalanan. Perjalanan terakhirku di bulan oktober tahun lalu memberikanku pengalaman – pengalaman untuk menemukan keajaiban keajaiban yang ada di sekitar selama kita yakin akan Kebesaran-Nya. Saat ini pun aku melakukan perjalanan juga ingin merasakan keajaiban-keajaiban yang sama saat aku ke Samarinda beberapa bulan lalu.

Awal perjalanku di temani Koran pagi Jawa Pos yang akhir-akhir ini aku lama tidak mengikuti perkembangan beritanya. Hari ini kebetulan berita utamanya tentang perkembangan operasi Face Of pertama di Indonesia yang dimulai sejak 2006 lalu. Kulihat foto terakhir setelah operasi sepertinya akan kembali cantik seperti semula walaupun buatan manusia tak akan sesempurna buatan Illahi. Tapi syukurlah setidaknya perkembangan duni kesehatan di indonseia semakin maju. Setidaknya itulah hal positif yang kuambil dari jawapos hari ini di tengah berita bencana banjir dan gempa yang melanda Indonesia akhir-akhir ini.

Kok malah bicara soal berita sih ya…. Sory prolognya kelamaan… hehehe… aku naik di satu-satunya gerbong ekonomi ber AC dengan tarif 200ribu. Harga yang lumayan mahal untuk dompetku saat ini karena duit di dompet tersisa 430 ribu kalo di potong uang tiket 200 ribu jadi tersisa 230 ribu, mepet sekali … tapi aku percaya dengan keajaiban. Aku pernah pergi ke Berau tanpa uang sama sekali dan masih tetap bisa pulang kok… aku juga pernah ga pegang uang samasekali ketika mau berangkat ke Samarinda eh nggak tahunya beberapa jam sebelum berangkat aku dapat kiriman transfer dari orang yang tak ku duga. Jadi dengan modal 230ribu aku rasa cukup untuk bisa kembali ke Surabaya dengan keajaiban-Nya tentunya.

Di dalam kereta saat aku mulai menulis ini waktu menunjukkan pukul 17.00 waktu setempat aku tak tahu aku berada dimana? Kulihat di luar baru saja aku meninggalkan Lamongan. Makanya di judul aku tulis “Senja di Harina” karena aku mulai menulis ini sambil menikmati senja di dalam kereta api eksekutif ini walau aku naik gerbong ekonomi hehehehe….

Ditemani dengan Cappucino
Sudah sekian lama aku tak naik kereta api. Terakhir aku naik kereta api saat itu kalau ga salah tahun 2007 saat pulang dari Lamongan ke Surabaya bersama bude dengan naik kereta api aku lupa namanya yang pasti saat itu tarifnya Rp.1500,- ya ga salah lagi memang seribu lima ratus rupiah sudah sampai Surabaya dari desa kelahiranku Kabupaten Lamongan . tapi apa yang kurasakan selama satu setengah jam perjalanan itu rasanya ingin muntah, sumpek, sesak, berjubel dengan pedagang ayam yang baunya minta Ampun…, bahkan dalam hati aku masih ingat aku bergumam “ enggak lagi deh naik kereta api”. Tapi sekarang entah kenapa setelah perusahaan kereta api mulai berbenah dan aku mendengar cerita dari saudara iparku (istri kakakku) yang dari blitar yang mengatakan bahwa “kereta api sekarang lebih nyaman ndari pada dulu” membuat aku jadi ingin merasakan naik kereta api lagi , dan sekarang secara tidak terduga dan tanpa kurencanakan sebelumnya aku merasakan kereta api lagi walau kelas ekonomi tapi sudah lebih nyaman daripada dulu. Bahkan saat ini ada “pramugari” yang cantik juga layaknya pesawat yang ikut melayani. Walau hidangannya bukan gratis karena untuk menikmati segelas cappucino aku harus merogoh kocek Rp.12.000/gelasnya cukup untuk menemaniku menulis di kereta di waktu senja, ya “Senja di Harina”

-Roy –
Ditulis di dalam kereta Harina dibaca dimana saja

Posted in My Journey

Menebus Dosa

foto-foto dari pictweet @SSChildSurabaya
perkenalan workshop “kau mengajar” di rumah cita-cita

Minggu kemarin mudahan menjadi titik awal bagiku untuk memulai sesuatu yang baru, suatu kegiatan untuk “Menebus Dosa”, mengapa saya katakan menebus dosa karena  aku pernah melakukan suatu kesalahan yang sengaja namun tidak kusadari kalau apa yang kulakukan itu salah.

Kesalahan itu aku lakukan kira-kira 10 tahun yang lalu ketika aku pertama kali menginjak bumi Borneo (Kalimantan Timur). Saat itu ketika aku memulai karir di perusahaan media saya yang saat itu sebagai staf marketing pemasaran dari koran lokal di samarinda yang di tugasi untuk membuat sebuah rancangan pemasaran untuk pengembagan koran agar tiras koran bisa tumbuh subur dengan oplah yang tinggi. Saat itu aku yang terbiasa hidup di jalalan kota surabaya karena aku besar di kota surabaya yang penuh dengan kehidupan jalanan namun aku tak melihat satu anakpun yang bekerja di jalanan untuk berjualan koran. Berbeda sekali dengan kota surabaya yang sehari-hari aku selalu menjumpai anak-anak jalan yang jualan asongan di lampu merah perempata jalan serta jualan koran. Untuk itu aku mencoba melakukan survei kecil kecilan untuk berjualan dio lampu merah selama 3 hari berturut-turut dibantu ketiga temen kuliah ku yang muka badak (alias tahan malu/gengsi) untuk jualan dilampu merah. Selama tiga hari menjual koran di lampu merah ternyata respon pembeli luar biasa dalam waktu kurang dari setengah hari 100 ekps koran ludes hanya di satu persingpangan lampu merah.

Kemudian langkah selanjutnya kami mencari anak putus sekolah di sekitar pemukiman kumuh yang ada di samarinda, mencari anak-anak dari keluarga miskin yang mau berjualan koran. Kita tempatkan mereka di beberapa titik lampu merah yang cukup ramai. Kita kelola mereka bahkan keuntungan mereja jauh lebih besar daripada pengejec karena harga mereka harga pabrik bukan harga agen. Lambat laun jumlah anak jalanan yang menjadi penjaja koran di lampu merah semakin banyak, jadi secara tidak langsung yang menciptakan anak jalanan di kota samarinda adalah kami dari media atas dasar ide dariku. padahal saat itu samarinda akan menerapkan kota zona bebas pekerja anak seperti kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Bontang tetangganya.

Minggu kemarin saat bergabung dengan temen-temen Save Street Child Surabaya membuat diri ini teramat sangat berdosa dan ingin menebus dosa yang talah aku lakukan di Samarinda dengan menjadi volunter “pengajar keren” bersama teman-teman muda Save Street Child Surabaya. Kenapa aku mulai di Surabaya bukan di samarinda karena saat ini aku tinggal di Kota Pahlawan yang panas ini. Mudahan ini menjadi awal yang baik untukku agar menjadi manusia yang lebih baik yang bisa memberi manfaat untuk orang lain

Surabaya, 25 September 2013
Roy Febrianto
yang ingin menebus dosa