Posted in renungan

Sedekah Doa di Pagi Hari

Selamat pagi, teman-teman!
Semoga hari ini menjadi salah satu hari yang penuh kebahagiaan dan keberkahan bagi kalian yang membaca pesan ini.

Pernahkah kalian mendengar tentang kekuatan doa untuk orang lain? Saya terinspirasi oleh sebuah tips dari Pak Ari Ginanjar yang sangat sederhana, namun begitu bermakna. Beliau mengajarkan kita untuk bersedekah doa kepada orang lain—khususnya kepada mereka yang mungkin tidak kita kenal, yang kita temui secara acak dalam perjalanan hidup kita.

Caranya mudah: pilih lima orang yang kalian temui hari ini secara acak—entah di jalan, di tempat kerja, atau di mana pun. Kemudian, doakan kebaikan untuk mereka secara diam-diam, dalam hati, atau dengan lirih. Tidak perlu doa yang panjang, cukup yang tulus dan penuh harapan baik.

Misalnya, saat melihat seorang tukang becak, kita bisa mendoakan, “Semoga hari ini beliau mendapatkan rezeki yang melimpah dan perjalanannya dipenuhi keberkahan.” Atau ketika berpapasan dengan seseorang yang tersenyum ramah, ucapkan dalam hati, “Semoga kebahagiaannya terus bertahan, dan ia selalu bertemu orang-orang baik di hidupnya.”

Dengan mendoakan orang lain, kita sebenarnya juga sedang menyebarkan energi positif ke semesta. Tanpa kita sadari, kebaikan itu akan berbalik kepada kita dalam bentuk yang indah dan tak terduga.

Mari mulai hari ini dengan hati yang lapang dan doa-doa yang tulus. Siapa tahu, doa kecil kita menjadi alasan bagi seseorang untuk tersenyum hari ini. 🌟

Posted in renungan

Belajar dari Viral “Candaan/Hinaan” Gus Miftah kepada Penjual Es Teh

Beberapa hari terakhir, media sosial ramai membahas peristiwa yang melibatkan Gus Miftah, seorang pendakwah yang dikenal luas. Dalam ceramahnya, ia melontarkan pernyataan yang dianggap netizen sebagai hinaan terhadap penjual es teh. Meski Gus Miftah kemudian mengklarifikasi bahwa itu hanya candaan dalam konteks dakwah, dan ia pun telah meminta maaf kepada pihak yang bersangkutan, kejadian ini meninggalkan sejumlah pelajaran penting untuk kita renungkan.

1. Ucapan adalah cerminan kebiasaan

Apa yang keluar dari lisan seseorang seringkali mencerminkan lingkungan dan kebiasaan yang mereka jalani. Dalam kasus ini, banyak yang menilai bahwa candaan Gus Miftah bisa jadi merupakan refleksi dari kata-kata yang sering ia dengar di lingkungannya. Sebagai pendakwah yang aktif berdakwah di tempat-tempat seperti diskotik, klub malam, dan lokasi lainnya yang identik dengan kultur bebas, tidak heran jika bahasa yang biasa digunakan oleh orang-orang di sana sedikit banyak berpengaruh pada dirinya. Ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih berhati-hati menjaga lingkungan yang dapat memengaruhi pola pikir dan ucapan kita.

2. Viral: Jalan pintas untuk pansos

Fenomena viral kerap menjadi “tangga emas” bagi banyak pihak untuk menaikkan popularitas atau engagement di media sosial. Dalam kasus ini, tidak sedikit akun yang memanfaatkan isu tersebut untuk tujuan tertentu—baik untuk membantu penjual es teh maupun sekadar mencari perhatian. Bahkan akun-akun desain grafis turut membuat konten seputar “branding” es teh. Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial menjadi arena yang dinamis, namun seringkali diwarnai motif beragam, termasuk pansos.

3. Cara Allah mengangkat dan menjatuhkan derajat manusia

Kejadian ini juga menjadi pelajaran tentang kehendak Allah dalam menentukan nasib seseorang. Penjual es teh yang awalnya mungkin dianggap sederhana kini mendapat simpati besar dan bahkan peluang untuk maju berkat peristiwa ini. Sebaliknya, seseorang yang berada di posisi terhormat bisa tergelincir oleh kesombongan atau ucapan yang tidak dijaga. Ini menjadi pengingat untuk selalu rendah hati, karena sebagaimana Iblis dihukum karena kesombongannya, kita pun bisa mengalami hal serupa jika lupa diri.

4. Adab lebih utama daripada ilmu

Ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan keangkuhan. Dalam Islam, adab (akhlak) adalah hal mendasar yang bahkan mendahului ilmu. Seorang alim tanpa adab tidak akan dihormati, sedangkan seseorang dengan adab yang baik akan selalu dikenang meski ilmunya terbatas. Dalam konteks ini, ucapan yang terkesan merendahkan menunjukkan bahwa kecerdasan atau ilmu seseorang tidak cukup tanpa sikap yang santun. Sebagai seorang pendakwah yang seharusnya menjadi teladan, menjaga adab saat berbicara, terutama di depan publik, adalah kewajiban. Hal ini mengingatkan kita untuk selalu mengedepankan kelembutan, tidak hanya dalam kata-kata tetapi juga dalam perbuatan. Rasulullah SAW sendiri adalah contoh sempurna bagaimana ilmu dan adab berpadu dalam setiap dakwahnya.

5. Berita viral sebagai pengalihan isu

Tidak dapat dipungkiri, banyak kasus viral yang kemudian dimanfaatkan sebagai pengalihan perhatian dari isu yang lebih serius. Dalam situasi ini, perbincangan hangat seputar “candaan” Gus Miftah bisa jadi menutupi perhatian masyarakat terhadap kasus penembakan siswa oleh oknum polisi di Semarang, atau isu-isu krusial lainnya. Fenomena ini mengingatkan kita untuk tetap bijak memilah mana yang harus menjadi fokus utama.


Kesimpulan
Kasus ini menjadi pelajaran besar, tidak hanya bagi Gus Miftah tetapi juga bagi kita semua. Menjaga ucapan, mengutamakan adab, dan selalu rendah hati adalah kunci agar kita tetap dihormati dan menjadi pribadi yang lebih baik. Viral di media sosial boleh jadi mencuri perhatian, tetapi jangan sampai melalaikan kita dari isu yang lebih penting dan prinsip-prinsip dasar kehidupan.

Posted in renungan

“Belajar dari Kisah Umar dan Sepotong Tulang”

Tulisan ini dibuat menanggapi insiden ricuhnya deklarasi #2019gantipresiden di surabaya tanggal 26 agustus 2018. Mungkin sudah terlambat untuk dipublikasikan tapi bisa dijadikan pelajaran untuk kedepannya.

Hari minggu 26 Agustus 2018 lalu terjadi satu insiden saat deklarasi #2019gantipresiden wilayah jawatimur yang rencananya di adakan di tugu pahlawan dan berakhir ricuh dengan golongan yang tidak setuju dengan acara tersebut.

Mungkin sebagian umat muslim masih ingat cerita klalifah Umar bin khotob meluruskan Amr bin Ash dengan sepotong tulang dengan kekuasaanya untuk menggusur rumah reyot milik yahudi tua guna pembangunan masjid untuk kepentingan umat islam. Disitu umar bin khatab mengingatkan Amr bin Ash dengan mengirimkan sepotong tulang dan diberi garis lurus dari pedangnya untuk mengingatkan jangan pernah menggunakan kekuasaan walau untuk kepantingan umat islam tapi sampai mengorbankan orang lain sekalipun itu orang Yahudi.

Apa persamaan deklarasi #2019gantipresiden dengan kisah itu?
1. Acara deklarasi banyak merugikan banyak orang dengan hanya menguntungkan 1 pihak saja.
Siapa saja yang dirugikan ?
1. Masyarakat yang jualan di tugu pahlawan dan CFD di beberapa tempat seperti di tugu pahlawan, bungkul, jl. Tunjungan dan MER.
2. Masyarakat yang olahraga setiap minggu di CFD
3. Beberapa komunitas sosial yang punya aksi sosial seperti donasi lombok dll di acara CFD
4. Polisi yang bertugas ekstra bila terjadi kerusuhan.
5. Pengguna lalu lintas yang terpaksa harus cari jalan alternatif.

Kisah Umar yang dirugikan hanya 1 orang yahudi saja, bukan umat islam. tapi umar begitu marah karena ketidakadilan.

Disini saya tidak membela para cebonger atau menolak deklarasi #2019gantipresiden cuman cara yang digunakan kurang santun mengingat ini kota surabaya, kota yang sangat kondusif untuk tidak terlibat praktis dengan isu politik. Dan tempat yang akan digunakan sebagai deklarasi adalah tugu pahlawan icon perjuangan kota surabaya. Dimana icon kota surabaya sangat bersejarah dan tidak pantas ditunggangi oleh kelompok kelompok politik yang haus kekuasaan.

Andai lokasinya di hotel atau kalo memang kurang besar bisa menggunakan Gelora Bung Tomo yang lokasinya di ujung barat kota surabaya mungkin insiden kerusuhan ini tidak bakal terjadi. Karena kalo lokasinya di gelora bung tomo acara CFD di berbagai tempat tidak perlu diliburkan. Karena tak ada yang dirugikan ya ga ada yang protes dengan deklarasi #2019gantipresiden.

Jadi kalo ingin melakukan deklarasi politik, sebisa mungkin tidak mengganggu kepentingan publik, jika kepentingan publik diganggu, bukan salah publik untuk membubarkan acara tersebut.

-roy-

#antipolitikpraktis

Posted in renungan

“Kisah Tokoh Muhammadiyyah yang Membaca Qunut Shubuh dan Tokoh NU yang Tidak Membaca Qunut Shubuh”

kiaiKeakraban dan keharmonisan para tokoh pendahulu dari kalangan NU dan Muhammadiyyah sudah terjalin semenjak dahulu, hanya saja kita kurang mengetahui tentangnya. Walau berbeda organisasi hingga berbeda dalam tata cara amaliah ibadahnya, kedua organisasi itu mampu menunjukkan eksistensinya sehingga sekarang.

Kisah berikut begitu menginspirasi kita semua tentang arti sebuah perbedaan, persaudaraan dan penghormatan. Kisah yang dialami oleh dua tokoh utama Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyyah, KH. DR. Idham Chalid dengan Buya Hamka (Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah).

Syahdan, dulu KH. Idham Chalid (Pimpinan PBNU) pernah satu kapal dengan Buya Hamka (tokoh Muhammadiyah) dengan tujuan yang sama menuju tanah suci Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Tidak ada kisah istimewa dari kedua tokoh berbeda paham tersebut hingga waktu shalat Shubuh menjelang.

Di saat hendak melakukan shalat Shubuh berjamaah, KH. Idham Chalid dipersilakan maju untuk mengimami. Secara tiba-tiba, pada rakaat kedua, KH. Idham Chalid meninggalkan praktek Qunut Shubuh, padahal Qunut Shubuh bagi kalangan NU seperti suatu kewajiban. Semua makmun mengikutinya dengan patuh. Tak ada nada protes yang keluar walau ada yang mengganjal di hati.

Sehingga seusai salat Buya Hamka bertanya: “Mengapa Pak Kyai Idham Chalid tidak membaca Qunut.”

Jawab KH. Idham Chalid: “Saya tidak membaca doa Qunut karena yang menjadi makmum adalah Pak Hamka. Saya tak mau memaksa orang yang tak berqunut agar ikut berqunut.”

Keesokan harinya, pada hari kedua, Buya Hamka yang giliran mengimami shalat Shubuh berjamaah. Ketika rakaat kedua, mendadak Buya Hamka mengangkat kedua tangannya, beliau membaca doa Qunut Shubuh yang panjang dan fasih. Padahal bagi kalangan Muhammadiyah Qunut Shubuh hampir tidak pernah diamalkan.

Seusai shalat, KH. Idham Chalid pun bertanya: “Mengapa Pak Hamka tadi membaca doa Qunut Shubuh saat mengimami salat?”

“Karena saya mengimami Pak Kyai Idham Chalid, tokoh NU yang biasa berqunut saat shalat Shubuh. Saya tak mau memaksa orang yang berqunut untuk tidak berqunut,” jawab Buya Hamka merendah.

Akhirnya kedua ulama tersebut saling berpelukan mesra. Jamaah pun menjadi berkaca-kaca menyaksikan kejadian yang mengharukan, air mata tak dapat mereka tahan.

Lihatlah, betapa kebesaran jiwa mereka terbukti melalui kisah ini, betapa besar jiwa kedua pemimpin umat Islam Indonesia itu. Coba kita bandingkan dengan saat ini, dimana masing-masing pengikutnya merasa dirinya yang paling benar dan kadang memaksakan pendapatnya atas yang lain.

Di masa sekarang, sering terjadi pertengkaran bahkan permusuhan hanya karena soal-soal kecil antara orang-orang NU dan orang-orang Muhammadiyah seperti soal Qunut, melafalkan niat shalat dengan ushalli, tahlilan, ziarah kubur, maulidan, manaqiban dan lainnya. Padahal itu semua sama sekali tidak menyangkut ihwal prinsip dalam akidah, tapi hanya menyangkut ihwal yang sunnah, mubah atau makruh, bukan terkait hal yang diharamkan.

(Kisah ini juga tertulis dalam buku “99 Detik Menunggang Harimau Lapar”, pada bab kedua tentang silaturahim dan persaudaraan).

sumber
https://www.facebook.com/gusdurhumor

Posted in renungan

Hikmah Ramadhan

Ramadhan tahun ini ramadhan yang cukup berat kulalui, mungkin karena kesehatanku yang lumayan terganggu dan berbagai masalah yang kualami selama setengah tahun ini serta berbagai rencana yang kususun tidak berjalan dengan lancar. Namun ramadhan kali ini juga membawa hikmah kepadaku terutama tentang arti sebuah keihlasan.

Ketika aku kehilangan motor, Allah menggantinya dengan motor yang sama bahkan baru lagi keluar dari dealer langsung, Asuransi Allah jauh lebih terpercaya daripada Asuransi yang ditawarkan para sales asuransi. bahkan sorang temen ada yang berseloroh, “gila baru kehilangan motor sudah bisa beli motor baru lagi padahal belum sebulan”, yup Allah menggantinya ga terlau lama ga sampe 1 bulan  ga seperti asuransi yang janjinya diproses dalam waktu 2 bulan tapi sampai 6 bulan ga ada kabarnya.

Kesehatanku yang mulai terpuruk sampai aku terpaksa masuk rumah sakit, saat ramadhan ini justru semakin membaik. Entah karena kegiatanku yang mulai kukurangi atau karena aku resign dari salah satu pekerjaan yang menyita tenaga tapi yang pasti sejak ramadhan ini Allah sudah memberikan nikmat kesehatan yang lebih baik dari sebelumnya.

Dompetku yang hilang pun dikembalikan oleh si pencuri walau isinya dikuras abis dan kartu kredit dipake sampai abis limit tapi alhamdulilah setidaknya ATM dan KTPku bisa kembali tanpa harus ngurus ulang karena untuk ngurus ulang ternyata super-super ribet. Mungkin Allah telah membuat si pencuri kasian makanya dikembalikan (wallahu alam)

Dan yang terakhir modal utamaku untuk bekerja yaitu laptop yang bener-bener kusesalkan, karena hilangnya dikantor saat aku sedang sakit, bener-bener membuatku ga habis pikir terhadap yang nyuri, kok ya tega ngambil barang orang yang sedang kena musibah. Tapi di bulan ramadhan ini Allah telah menggantinya walaupun bukan dengan yang baru namun dapat spesifikasi yang lebih tinggi dari yang hilang. Itupun tanpa mengeluarkan uang sepeserpun malahan dapat job lagi.

Hikmah yang lain, aku juga dapet job tadi  setelah aku resign dari pekerjaanku sebelumnya, aku katakan job karena kerjaannya tak mengikat seperti layaknya kerja kantoran namun dapet penghasilan yang jauh lebih  besar dari orang yang bekerja di kantoran. Yup kerjaan freelance design dan orderan cetak sudah mulai mengalir dari pelanggan lama. ternyata rezeki Allah ga bakalan lari kemana-mana selama kita mau berusaha. Seperti  kata pepatah ” ketika pintu rezeki yang satu ditutup maka pintu rezeki yang lain akan terbuka”.

 

-vied-

masih belajar untuk selalu ikhlas

Posted in renungan, Uncategorized

Arti Kebahagiaan….

Apasih arti sebuah kebahagiaan buat anda…? Apakah hidup kaya, segalanya terpenuhi, dihormati orang, atau hanya sekedar hidup tenang tanpa masalah…. Mungkin sebagian dari kalian berfikir seperti itu. Itu tidak salah namun sejatinya itu hanyalah nafsu dan keinginan semu, sebenarnya kebahagiaan adalah suatu “proses” menuju pencapaian atau cita-cita. Mengapa saya mengatakan demikian karena baru- baru ini aku mengalami beberapa peristiwa serupa yang awalnya itu kujadikan sebagai tujuan kebahagiaan.

Baiklah untuk lebih jelasnya kita ambil contoh seorang Atlet olahraga apapun, misalnya seorang pembalap, dia akan bahagia ketika di bisa menyalip lawan-lawanya di lintasan sirkuit dan menjadi juara hanyalah bonus dari kebahagiaan itu sendiri. Saya rasa pembalap manapun takkan mau menerima piala tanpa membalap lawan-lawanya terlebih dahulu… karena sejatinya kebahagiaan pembalap itu sendiri terletak pada saat melaju pada kecepatan tertingi dan mampu melampaui lawannya. Atlet olahraga lain pun sama  dia akan merasa bahagia atau puas ketika bisa mengalahkan rival terberat mereka bukan ketika dia mendapat piala tanpa bertanding. Seorang IT misalnya dia akan bahagia ketika komputernya yang rusak berhasil di perbaiki, bukan ketika di dipromosikan menjadi kepala IT itu hanyalah bonus dari kebahagian yang diperolehnya, seperti seorang hacker yang bahagia ketika berhasil membobol system keamanan bank, persolanan dia dapat uang dari hasil membobol bank itu lagi-lagi hanyalah bonus dari kebahagiaan yang diperoleh dari usaha kerasnya.

Lalu ada sebagian orang yang ingin kaya namun tak mau melalui proses susahnya dahulu justru itu aneh…., aku pernah dengar ungkapan menarik ketika baca buku “The Power Of Kepepet” yang mengatakan bahwa “orang yang ingin kaya tanpa proses sama seperti orang yang ingin punya anak namun ga melalui prosesnya, Rugi dong…”. Aku masih ingat juga ketika nonton film “Click” yang diperankan oleh Adam Sandler di film itu seolah menyindir kita yang ingin sukses namun nggak mau merasakan prosesnya lebih dahulu dan berakhir dengan tanpa kebahagiaan sama sekali. Dengan kata lain kebahagiaan adalah suatu proses kalaupun berhasil itu adalah bonusnya, Kalau gagal berarti kita akan jauh lebih bahagia ketika berhasil nanti karena kita bisa merasakan semuanya. Kita bisa melihat kesalahan kita, kita bisa membimbing orang lain jauh lebih baik dari kita tanpa melalui kesalahan yang pernah kita alami… justru itu Kebahagiaan tertinggi yang akan kita peroleh kelak.

-vied/roy-

sedang mancari kebahagiaan hakiki….

Posted in renungan

Kata- kata Kasar

Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. “Oh, maafkan
saya” adalah reaksi saya. Ia berkata, “Maafkan saya juga;  Saya  tidak
melihat Anda.”  Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat
sopan.
Akhirnya  kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.  Namun cerita
lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita  memperlakukan orang-orang
yang kita kasihi, tua dan muda.

Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki
saya
berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya  berbalik, hampir saja
saya
membuatnya jatuh. “Minggir,” kata saya  dengan  marah. Ia pergi, hati
kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa  kasarnya  kata-kata saya
kepadanya.  Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan
berbicara padaku, “Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau
kenal,
etika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi,
sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang. Coba lihat ke lantai
dapur,  engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu.”
“Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda,
kuning
dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak  menggagalkan kejutan
yang
akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah
saat
itu.”

Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes.  Saya
pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya,
“Bangun, nak, bangun,” kataku.  “Apakah bunga-bunga ini engkau petik
untukku?” Ia tersenyum, ” Aku  menemukannya jatuh dari pohon. ”  “Aku
mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu.  Aku tahu Ibu
akan menyukainya, terutama yang berwarna biru.”  Aku berkata,  “Anakku,
Ibu
sangat menyesal karena telah kasar  padamu; Ibu seharusnya tidak
membentakmu
seperti tadi.”

Si kecilku berkata, “Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap  mencintaimu.” Aku
pun membalas, “Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku  benar-benar
menyukai
bunga-bunga ini, apalagi yang biru.”  Apakah anda menyadari bahwa jika
kita
mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan
mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Tetapi keluarga yang
kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.  Mari
kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita
ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang
bijaksana, bukan?  Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di
atas? Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA?

Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.  FAMILY = (F)ATHER (A)ND
(M)OTHER,
(I), (L)OVE, (Y)OU

Posted in renungan

Pitutur Boso Jowo

Ngene iki sing diarani Manungso,

Okeh sing digayuh,koyo-koyo ndonyo iki iso dipecaki,
Podo ora ngerti,yen manungso iku sejatine ringkih,ora duwe doyo,
Sing kudu kito weruhi,sing jenenge manungso iku dititahake podo
Dek wiwit biyen ngati saiki,ojo ngunggung marang sapodo-podone titah
Yen kito iki diparingi weruh krungu lan kroso samumbarang iku wis kinodrat
Lan tansah melu mbarengi karo mlakune kahanan.

Dadi siro ora usah kuwatir,piye lan piye.
Kabeh iku, elek apike kahanan ndonyo,
Gusti Ingkang Moho Kuwoso sing ngersakake.

Ayo ngetutne ae koyo miline banyu,
Duweni gegahuyuan iku ora kudu dijaluk,disuwun ning
Isoo dimangerteni ubah musike kahanan iki lan iso ngetukne kanthi bener.

Sing kudu siro weruhi ndonyo iki ora langgeng
Dadi yen rumongso urung kaleksanan anggone
Nggayuh kamulyanning ndonyo,ojo cilik ati.

Mulo soko iku onone beban nang alam ndoyo iki,
ayo podo dipasrahne marang Gusti Kang Murbeng Dumadi.
Gusti Alloh wis weruh sekabehe.

“Duh Gusti Ingkang Moho Agung,
Matur sembah nuwun sanget
Sekathahe kanugrahan,kamulyan,
Ingkang sampun panjenengan paring aken dumaten kulo,
Soho kulo tansah nyuwun gungnge pangapunten ingkang Agung
Sakathahe doso lan kalepatan kulo.Matur nuwun”.

Posted in renungan

Indonesia ada di Komik Jepang

Selama ini komik jepang banyak beredar di Indonesia…

Mungkin itu pula yang mendasari pikiran Soda Masahito pengarang komik Firefighter Daigo memasukkan negara Indonesia kedalam cerita komiknya biar laku atau biar introspeksi diri kali. Komik yang bercerita sosok kepahlawanan masa kini yang dikemas dalam cerita seorang pemadam kebakaran yang berjuang menyelamatkan korban dari ganasnya si jago merah dan penanggulangan pencegahan terhadap kebakaran. Kehidupan sehari-hari bahkan ada dalam lingkungan kita sendiri itulah tema yang diangkat pengarang melalui komik ini. Ternyata menjadi pahlawan tak harus berkostum dan memiliki banyak kekuatan layaknya superman atau batman yang memiliki peralatan super lengkap. oke cukup sekian prolong tentang komiknya… selanjutnya kita masuk ke topik awal yaitu tentang setting indonesia yang dipakai sebagai latar belakang tempat dicerita komik.

Pada Volume 18 dan 19 dan mungkin juga di volume berikutnya (karena sampai saat saya menulis di blog ini baru sampai volume 19) Indonesia sebagai latar belakang tempatdi komik, di ceritakan sedang mengalami kebakaran hutan yang terjadi di sumatra. Sayangnya bukan kebaikan/keindahan alam maupun keramahtamahan warga indonesia yang di tonjolkan, melainkan keburukan negara kita, terutama terhadap penanggulangan masalah kebakaran hutan. Di komik di ceritakan bahwa negara kita hampir tiap tahun terjadi kebakaran namaun warga dan pemerintah negara kita menganggap biasa dan cenderung acuh.

Bahkan diceritakan juga melakukan penanggulangan kebakaran kecil saja pemadam kebakaran kita mengalami kesulitan dan di bantu pemadam kebakaran dari jepang yang hanya 2 orang menggunakan alat impulse (alat semprot air yang sangat keras yang bentuknya seperti bazooka). Entah di Indonesia ada atau belum alat macam ini. di situ juga diceritakan bahwa pihak pemerintah tidak mampu menangani kebakaran hutan yang bahkan mengganggu aktivitas warga singapura hingga pihak singapura sendiri yang turun tangan membantu penanggulanagn kebakaran hutan guna mengurangi asap yang mengganggu warga negaranya.

Apa kita tidak malu sesuatu yang buruk dipublikasikan bahkan lewat komik yang kemudian dijual kembali ke negara kita. Mungkin tujuannya baik supaya anak-anak indonesia tahu dan sadar akan pentingnya bahaya kebakaran hutan. Tapi apakah pemerintah kita sendiri tak mampu menanggulangi bencana kebakaran hutan yang terjadi tiap tahun. Apakah kita harus selalu minta bantuan luar negeri…

Untuk apa kekayaan alam yang luar biasa besar ini jika kita sendiri tak mampu menjaganya, apalagi saat ini sedang gencar-gencarnya masalah global warming. Lalu pa yang bisa kita perbuat untuk menjaga alam lingkungan sekitar kita jangan sampai apa yang kita miliki hancur hanya karena kelalaian kita sendiri.

-vied-

yang masih suka baca komik

Posted in renungan

Rezeki Itu…

Bismillahi,

Sependek yang saya tahu :
….

Rezeki itu,
Saat kita membuka mata..
Saat kita diberi kemampuan untuk membaca …

Rezeki itu,
Ketika kita bisa bangun dari tidur pagi tadi, padahal tak ada satupun yang
bisa menjamin kita untuk sanggup bangun sendiri..

Rezeki itu,
Saat kita pergi ke kantor, dan selamat sampai pulang ke rumah kembali..

Rezeki itu…
Saat kita mau ngetik B di keyboard komputer kita, dan yang keluar di
layar monitor ya huruf B,.. mau ngetik S, ya keluar S…
Bukan M, bukan O, bukan N…, bukan Y, bukan E, dan bukan T…

Rezeki itu,
Saat kita masih bisa tersenyum dan tertawa
Dan saat kita lalu bisa diam lagi setelah tertawa…
Ngeri rasanya kalau kita bisa tertawa, dan terus tertawa… dan kita sama
sekali nggak tahu cara menghentikannya..

Rezeki itu,
Saat HP kita berdering, dengan sepenuh kesadaran, langsung kita tempelkan
di kuping.. bukan di dengkul kita, atau pantat…
Rezeki itu saat kita masih diberi kesadaran penuh untuk bisa bersikap
waras..

Rezeki itu,
Ketika alis, ketika bulu mata, ya segitu-gitu aja, nggak tumbuh pesat
seperti rambut ;
karena bila alis dan bulu mata seperti rambut, nggak tahu gimana jadinya..
tata wajah dan estetikanya bakal berubah sama sekali.. dan entah, mungkin
orang di sekeliling kita bisa saja menganggap kita seperti anak gorila
lepas dari bapaknya…

Rezeki itu,
Ketika kita makan tempe, rasanya senikmat tempe, bukan keras seperti batu.
..

Rezeki itu,
Saat hati kita merasa damai..
Saat perasaan terasa tenang..

Rezeki itu..
Kalau kita mau ngupil, yang masuk ke hidung telunjuk, dan bukan jempol
kaki..

Rezeki itu kalau apa yang ada dalam pikiran selaras dengan kehendak badan
:
Ingin rasanya tertawa saat merenungkan, bagaimana sedihnya kalau kita mau
salaman, yang terjadi malah kita memukul orang.. bagaimana kalau kehendak
akal kita nggak sejalan dengan apa yang dimaui anggota badan..

Rezeki itu,
Kalau kita sadar kita numpang, yang punya tumpangan memberi kebebasan
sepenuhnya kepada kita untuk berbuat sesuka hati..
Dan di bumi ini kita numpang. Badan dan pikiran kita pun numpang, karena
sejuta persen sahamnya bukan punya kita. Makanya kita nggak pernah tahu
kapan si Empunya saham itu mau melikuidasi kita dari dunia.. suka-suka
Dia…Lha wong Dia yang punya..

Rezeki itu,
Saat kita masih diberi nafas entah berapa ribu kali embusan setiap hari,
dan udara sebagai stok dan aset termahal buat kita untuk bisa bertahan
hidup, tak pernah dimintai bayaran oleh yang Punya.. Tak terbayangkan
materi apa yang bisa menggantikan udara…

Rezeki itu,
Saat kita masih bisa sakit gigi..
Saat kita masih mampu duduk, berdiri, berlari,

Rezeki itu,
Ketika dikumpulkan seluruh orang terhebat di dunia, didukung kemampuan
superteknologi dan ultrakomputer sekalipun, tetap tak bisa kita
menghitungnya…

Rezeki itu,
Terlalu kecil bila hanya diartikan materi..

Wallahu A’lam


Ade M

-vied-

sekedar perenungan diambil dari salah satu milis