Sejak kecil, saya selalu suka membaca komik. Hobi ini bahkan terus berlanjut hingga sekarang, saat usia saya sudah menginjak kepala empat. Saya lahir tahun 1984, dan meskipun usia saya kini 40 tahun, saya tetap menikmati dunia komik seperti dulu. Ketika masih kecil, saya sering membaca “Kungfu Boy” dengan tokoh utamanya, Chinmi, juga “Dragon Ball” — meski untuk yang satu ini, saya lebih sering menikmati versi animenya. Ada pula “Detektif Conan” yang masih menemani hingga sekarang, dan tentu saja “One Piece”, sebuah karya besar dari Jepang yang terus saya ikuti.
Di era digital saat ini, hobi saya membaca komik semakin dimudahkan dengan kehadiran aplikasi seperti Webtoon. Di sana, saya mulai mengenal berbagai komik Korea yang biasa disebut manhwa, komik Jepang yang disebut manga, dan komik Tiongkok yang dikenal sebagai manhua. Pengetahuan ini saya dapat karena hingga sekarang, saya tetap setia mengikuti cerita-cerita komik dari berbagai negara. Tak hanya itu, saya juga menikmati karya-karya lokal, seperti “Grey & Jingga” karya Sweta Kartika dan “Pupus Putus Sekolah” karya Kurnia Harta.

Kenapa saya begitu menyukai komik? Karena saya tumbuh bersama mereka. Ketika tinggal di Samarinda, saya sering menyewa komik untuk dibaca dalam 2-3 hari sebelum dikembalikan. Hal serupa saya lakukan saat pindah ke Surabaya, mulai dari SMP hingga SMA. Waktu itu, membeli komik terasa terlalu mahal bagi saya, sehingga menyewa menjadi solusi terbaik. Saya tak keberatan membaca komik yang plastik pembungkusnya sudah robek, karena yang terpenting adalah cerita di dalamnya.
Dari komik, saya belajar banyak hal. Entah itu kisah roman, fiksi, hingga cerita yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu komik yang sangat berkesan bagi saya adalah “Pupus Putus Sekolah”. Karya lokal ini bisa kalian baca di Webtoon. Saya tak akan mengulas ceritanya secara detail — silakan baca sendiri jika penasaran. Namun, ada pelajaran besar yang ingin saya bagikan setelah membaca komik ini: dunia pendidikan itu sangat luas, dan belajar bisa dilakukan di mana saja, dengan siapa saja.
Komik ini membuka mata saya. Kadang kita merasa tahu segalanya, tetapi sebenarnya kita tidak tahu apa-apa. Contohnya, ada kisah tentang Bagus yang diminta mencuci piring. Bagi sebagian orang, pekerjaan ini mungkin dianggap remeh. Namun, jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, mencuci piring bisa menjadi peran yang sangat dihargai di dapur. Tidak semua koki suka mencuci piring, dan keberadaan seseorang yang bersedia melakukannya bisa menjadi sangat berarti.
Ada juga karakter Tomas, anak yang cerdas karena ia suka mencicipi makanan di dapur. Lewat Tomas, kita diajak melihat bahwa kecerdasan itu bisa muncul dari rasa ingin tahu dan pengalaman, bukan hanya dari teori di buku. Selain itu, ada cerita tentang ayah Bagus yang dianggap bodoh oleh banyak orang, bahkan oleh Bagus sendiri. Namun, Tomas memberikan sudut pandang berbeda: label “bodoh” atau “pintar” yang diberikan orang kota hanyalah pandangan sepihak yang tidak perlu terlalu dianggap.
Yang paling menyentuh adalah karakter Mak Luwe dengan kutipannya, “Hidup itu susah, tapi orang-orang baik bisa bikin hidup jadi lebih gampang.” Kalimat ini begitu sederhana, tetapi penuh makna. Ia mengingatkan kita untuk tidak pernah lelah menjadi orang baik. Kebaikan, sekecil apa pun, selalu punya dampak besar bagi kehidupan orang lain.
Melalui komik, saya belajar bahwa pelajaran hidup bisa datang dari mana saja. Komik bukan hanya hiburan; ia juga bisa menjadi guru yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Jadi, jangan pernah berhenti belajar — di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja.
