Posted in My Journey

Senja di “Harina”

Bukan tempat wisata, bukan juga sebuah café, hanya kereta api eksekutif Surabaya-Bandung, ya Kereta Api Harina Expres, seperti nama seorang perempuan memang. Temanku di komunitas SSC bernama Arina juga temanku waktu di SMA dulu namanya juga Arina. Tapi ini bukan membahas soal kedua temanku yang kebetulan namanya hampir mirip dengan kereta api Eksekutif itu. Namun ini adalah perjalananku yang tidak kusengaja, perjalanan yang tak seorangpun tahu, keluargaku pun tak tahu teman-temanku tak tahu, yang tahu hanya Allah dan seorang teman “kecilku” yang kebetulan sedang KKN di Bojonegoro yang akhir-akhir ini aku semakin dekat dengannya justru saat dia jauh dariku.
16.00 WIB. Start
Aku berangkat naik “harina” meninggalkan kota yang semakin hari semakin sejuk. Mungkiin tak lama lagi kota Surabaya ga akan kalah dari sejuknya kota malang karena hadirnya berbagai taman yang berada di seluruh pelosok kota Surabaya. Aku lama tidak melakukan perjalanan. Perjalanan terakhirku di bulan oktober tahun lalu memberikanku pengalaman – pengalaman untuk menemukan keajaiban keajaiban yang ada di sekitar selama kita yakin akan Kebesaran-Nya. Saat ini pun aku melakukan perjalanan juga ingin merasakan keajaiban-keajaiban yang sama saat aku ke Samarinda beberapa bulan lalu.

Awal perjalanku di temani Koran pagi Jawa Pos yang akhir-akhir ini aku lama tidak mengikuti perkembangan beritanya. Hari ini kebetulan berita utamanya tentang perkembangan operasi Face Of pertama di Indonesia yang dimulai sejak 2006 lalu. Kulihat foto terakhir setelah operasi sepertinya akan kembali cantik seperti semula walaupun buatan manusia tak akan sesempurna buatan Illahi. Tapi syukurlah setidaknya perkembangan duni kesehatan di indonseia semakin maju. Setidaknya itulah hal positif yang kuambil dari jawapos hari ini di tengah berita bencana banjir dan gempa yang melanda Indonesia akhir-akhir ini.

Kok malah bicara soal berita sih ya…. Sory prolognya kelamaan… hehehe… aku naik di satu-satunya gerbong ekonomi ber AC dengan tarif 200ribu. Harga yang lumayan mahal untuk dompetku saat ini karena duit di dompet tersisa 430 ribu kalo di potong uang tiket 200 ribu jadi tersisa 230 ribu, mepet sekali … tapi aku percaya dengan keajaiban. Aku pernah pergi ke Berau tanpa uang sama sekali dan masih tetap bisa pulang kok… aku juga pernah ga pegang uang samasekali ketika mau berangkat ke Samarinda eh nggak tahunya beberapa jam sebelum berangkat aku dapat kiriman transfer dari orang yang tak ku duga. Jadi dengan modal 230ribu aku rasa cukup untuk bisa kembali ke Surabaya dengan keajaiban-Nya tentunya.

Di dalam kereta saat aku mulai menulis ini waktu menunjukkan pukul 17.00 waktu setempat aku tak tahu aku berada dimana? Kulihat di luar baru saja aku meninggalkan Lamongan. Makanya di judul aku tulis “Senja di Harina” karena aku mulai menulis ini sambil menikmati senja di dalam kereta api eksekutif ini walau aku naik gerbong ekonomi hehehehe….

Ditemani dengan Cappucino
Sudah sekian lama aku tak naik kereta api. Terakhir aku naik kereta api saat itu kalau ga salah tahun 2007 saat pulang dari Lamongan ke Surabaya bersama bude dengan naik kereta api aku lupa namanya yang pasti saat itu tarifnya Rp.1500,- ya ga salah lagi memang seribu lima ratus rupiah sudah sampai Surabaya dari desa kelahiranku Kabupaten Lamongan . tapi apa yang kurasakan selama satu setengah jam perjalanan itu rasanya ingin muntah, sumpek, sesak, berjubel dengan pedagang ayam yang baunya minta Ampun…, bahkan dalam hati aku masih ingat aku bergumam “ enggak lagi deh naik kereta api”. Tapi sekarang entah kenapa setelah perusahaan kereta api mulai berbenah dan aku mendengar cerita dari saudara iparku (istri kakakku) yang dari blitar yang mengatakan bahwa “kereta api sekarang lebih nyaman ndari pada dulu” membuat aku jadi ingin merasakan naik kereta api lagi , dan sekarang secara tidak terduga dan tanpa kurencanakan sebelumnya aku merasakan kereta api lagi walau kelas ekonomi tapi sudah lebih nyaman daripada dulu. Bahkan saat ini ada “pramugari” yang cantik juga layaknya pesawat yang ikut melayani. Walau hidangannya bukan gratis karena untuk menikmati segelas cappucino aku harus merogoh kocek Rp.12.000/gelasnya cukup untuk menemaniku menulis di kereta di waktu senja, ya “Senja di Harina”

-Roy –
Ditulis di dalam kereta Harina dibaca dimana saja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *