Posted in My Journey

Menebus Dosa

foto-foto dari pictweet @SSChildSurabaya
perkenalan workshop “kau mengajar” di rumah cita-cita

Minggu kemarin mudahan menjadi titik awal bagiku untuk memulai sesuatu yang baru, suatu kegiatan untuk “Menebus Dosa”, mengapa saya katakan menebus dosa karena  aku pernah melakukan suatu kesalahan yang sengaja namun tidak kusadari kalau apa yang kulakukan itu salah.

Kesalahan itu aku lakukan kira-kira 10 tahun yang lalu ketika aku pertama kali menginjak bumi Borneo (Kalimantan Timur). Saat itu ketika aku memulai karir di perusahaan media saya yang saat itu sebagai staf marketing pemasaran dari koran lokal di samarinda yang di tugasi untuk membuat sebuah rancangan pemasaran untuk pengembagan koran agar tiras koran bisa tumbuh subur dengan oplah yang tinggi. Saat itu aku yang terbiasa hidup di jalalan kota surabaya karena aku besar di kota surabaya yang penuh dengan kehidupan jalanan namun aku tak melihat satu anakpun yang bekerja di jalanan untuk berjualan koran. Berbeda sekali dengan kota surabaya yang sehari-hari aku selalu menjumpai anak-anak jalan yang jualan asongan di lampu merah perempata jalan serta jualan koran. Untuk itu aku mencoba melakukan survei kecil kecilan untuk berjualan dio lampu merah selama 3 hari berturut-turut dibantu ketiga temen kuliah ku yang muka badak (alias tahan malu/gengsi) untuk jualan dilampu merah. Selama tiga hari menjual koran di lampu merah ternyata respon pembeli luar biasa dalam waktu kurang dari setengah hari 100 ekps koran ludes hanya di satu persingpangan lampu merah.

Kemudian langkah selanjutnya kami mencari anak putus sekolah di sekitar pemukiman kumuh yang ada di samarinda, mencari anak-anak dari keluarga miskin yang mau berjualan koran. Kita tempatkan mereka di beberapa titik lampu merah yang cukup ramai. Kita kelola mereka bahkan keuntungan mereja jauh lebih besar daripada pengejec karena harga mereka harga pabrik bukan harga agen. Lambat laun jumlah anak jalanan yang menjadi penjaja koran di lampu merah semakin banyak, jadi secara tidak langsung yang menciptakan anak jalanan di kota samarinda adalah kami dari media atas dasar ide dariku. padahal saat itu samarinda akan menerapkan kota zona bebas pekerja anak seperti kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Bontang tetangganya.

Minggu kemarin saat bergabung dengan temen-temen Save Street Child Surabaya membuat diri ini teramat sangat berdosa dan ingin menebus dosa yang talah aku lakukan di Samarinda dengan menjadi volunter “pengajar keren” bersama teman-teman muda Save Street Child Surabaya. Kenapa aku mulai di Surabaya bukan di samarinda karena saat ini aku tinggal di Kota Pahlawan yang panas ini. Mudahan ini menjadi awal yang baik untukku agar menjadi manusia yang lebih baik yang bisa memberi manfaat untuk orang lain

Surabaya, 25 September 2013
Roy Febrianto
yang ingin menebus dosa