Posted in Blog

Hampir Bangga Ikut Olimpiade, Tapi Lebih Banyak Belajar dari Rasa Bersalah

Perjalanan Hidup (Part 2)

Kalau Part 1 kemarin soal gimana aku tumbuh di Surabaya sambil jualan air dan jaga pegadaian, Part 2 ini lebih ke masa SMP yang… ya, biasa aja sebetulnya. Tapi dari yang biasa itu, ternyata ada beberapa hal yang sampai sekarang masih aku ingat.


Hampir Ikut Olimpiade. Hampir.

Satu hal yang sempat bikin aku hampir bangga: aku pernah terpilih jadi calon peserta Olimpiade Matematika tingkat SMP. Sudah sempat latihan bareng kakak kelas beberapa kali. Rasanya senang, nggak nyangka bisa sampai di titik itu.

Tapi ternyata nggak jadi.

Kejuaraannya batal karena kondisi politik tahun ’98 — jatuhnya rezim Soeharto bikin banyak hal ikut batal, termasuk itu. Jadi ya sudah. Selesai sebelum sempat mulai.

Dari situ aku mulai ngerti satu hal: ada momen di hidup kita yang kita pikir sudah dekat… tapi ternyata memang belum saatnya.


SPP yang Nggak Pernah Dibayar Sendiri

Satu hal yang baru aku syukuri belakangan: selama SMP, orang tuaku ternyata nggak pernah bayar SPP-ku. Semuanya ditanggung pemilik kontrakan — sebagai timbal balik karena aku jadi wakar di pegadaian milik mereka.

Waktu itu aku nggak terlalu mikirin. Sekarang kalau dipikir-pikir lagi, itu bantuan yang luar biasa. Keluarga kami bisa bernapas sedikit lebih lega karenanya.


Dua Kesalahan yang Masih Membekas

Masa SMP juga diwarnai dua kejadian yang sampai sekarang masih aku ingat. Bukan prestasi — justru sebaliknya.

Pertama, soal motor.

Waktu itu Bapak baru punya motor. Bukan motor baru, tapi itu pertama kalinya kami punya motor di rumah. Dan aku, sebagai anak SMP yang penasaran, pengen bisa naik juga.

Kakak nggak ngizinin. Tapi aku nekat coba sendiri.

Anehnya… bisa jalan.

Senang banget waktu itu. Sampai tiba di pertigaan ujung gang, dan ternyata aku belum bisa bedain feeling ngerem motor sama sepeda. Panik. Dan… brak. Nabrak pagar orang.

Motor rusak. Pagar rusak. Kami harus ganti rugi.

Yang bikin aku heran sampai sekarang: Bapak nggak marah sama sekali.

Itu justru yang bikin rasa bersalahku makin dalam. Dan bikin aku trauma naik motor sampai SMA.

Pemulihannya pelan-pelan — mulai dari disuruh teman minggirin motor dari parkiran ke depan sekretariat ekskul. Terus lama-lama terbiasa. Sampai akhirnya ada teman yang mau aku antar pulang buat ambil barang, dan bukannya nganterin, dia malah kasih kunci motornya sambil bilang, “Pake aja sendiri biar kamu berani.”

Dari kepercayaan kecil itu, pelan-pelan rasa takutku hilang. Sampai akhirnya aku bisa naik motor kopling dan keliling Surabaya cari donatur buat kegiatan sekolah.

Kedua, soal kayu rombong.

Ini yang lebih bikin aku ngerasa bersalah.

Ibuku selain kerja sebagai ART di rumah pemilik kontrakan, juga jualan gorengan tiap sore sampai sekitar jam 10 malam. Suatu hari hujan lebat. Aku disuruh antar kayu — buat tiang penyangga terpal di lokasi jualan — duluan. Bapak dan Kakak bakal nyusul sambil dorong rombong.

Kayunya sudah sampai. Tapi karena hujan deras dan ya… namanya juga masih anak-anak, aku malah kepikiran main hujan-hujanan. Kayu itu aku tinggal begitu saja, tanpa dijaga.

Pas Bapak dan Kakak tiba, kayu itu sudah hilang.

Aku nunggu dimarahin. Tapi Bapak justru bilang, “Kok ya tega, potongan kayu gitu aja dicuri.”

Bukan aku yang disalahin. Tapi pencurinya.

Dan itu… justru lebih berat dari dimarahin.

Sampai sekarang aku masih ingat momen itu. Bukan kayunya. Bukan kehilangannya. Tapi cara Bapak merespons — dengan sabar, tanpa satu pun kalimat yang menyudutkan aku.


Takdir Nyasar ke SMAN 9

Di akhir SMP, nilai Ebtanasku lumayan. Cukup buat masuk SMA atau SMK negeri.

Rencananya mau masuk SMK. Tapi bingung mau jurusan apa. SMKN 2 di Patua sempat masuk pertimbangan, tapi jurusan yang ada — Elektro, Mesin, Bangunan — nggak ada yang sreg. Kalau saat itu sudah ada jurusan Multimedia, mungkin ceritanya beda.

Akhirnya, aku main ke rumah sahabat lama waktu SD. Ibunya nyaranin, “Coba daftar SMAN 9, siapa tahu masuk.” Rencananya biar bisa satu komplek sama anaknya yang mau daftar ke SMAN 5.

Tapi takdir punya rencana lain.

Temanku nggak lolos ke SMAN 5, malah terlempar ke SMAN 6 Grahadi. Sedangkan aku — yang awalnya cuma “coba-coba” — justru lolos ke SMAN 9.

Di kampungku, nggak banyak anak yang bisa masuk SMA Negeri. Apalagi sampai tembus “SMA Komplek.” Walaupun SMAN 9 sering dianggap yang paling bawah di antara komplek — di bawah SMAN 5, 2, atau 1 — buatku saat itu ini sudah lebih dari cukup.

Kadang memang begitu. Kita nggak selalu tahu ke mana kita sebetulnya mau pergi. Tapi tiba-tiba sudah sampai di sana.

Dan dari sinilah, cerita mulai bergerak ke arah yang nggak pernah aku rencanakan sebelumnya — organisasi, pengaruh, dan cinta pertama. Tapi itu cerita untuk Part 3.
bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *