Posted in inspirasi

Komik Lokal Pupus Putus Sekolah

Sejak kecil, saya selalu suka membaca komik. Hobi ini bahkan terus berlanjut hingga sekarang, saat usia saya sudah menginjak kepala empat. Saya lahir tahun 1984, dan meskipun usia saya kini 40 tahun, saya tetap menikmati dunia komik seperti dulu. Ketika masih kecil, saya sering membaca “Kungfu Boy” dengan tokoh utamanya, Chinmi, juga “Dragon Ball” — meski untuk yang satu ini, saya lebih sering menikmati versi animenya. Ada pula “Detektif Conan” yang masih menemani hingga sekarang, dan tentu saja “One Piece”, sebuah karya besar dari Jepang yang terus saya ikuti.

Di era digital saat ini, hobi saya membaca komik semakin dimudahkan dengan kehadiran aplikasi seperti Webtoon. Di sana, saya mulai mengenal berbagai komik Korea yang biasa disebut manhwa, komik Jepang yang disebut manga, dan komik Tiongkok yang dikenal sebagai manhua. Pengetahuan ini saya dapat karena hingga sekarang, saya tetap setia mengikuti cerita-cerita komik dari berbagai negara. Tak hanya itu, saya juga menikmati karya-karya lokal, seperti “Grey & Jingga” karya Sweta Kartika dan “Pupus Putus Sekolah” karya Kurnia Harta.

Kenapa saya begitu menyukai komik? Karena saya tumbuh bersama mereka. Ketika tinggal di Samarinda, saya sering menyewa komik untuk dibaca dalam 2-3 hari sebelum dikembalikan. Hal serupa saya lakukan saat pindah ke Surabaya, mulai dari SMP hingga SMA. Waktu itu, membeli komik terasa terlalu mahal bagi saya, sehingga menyewa menjadi solusi terbaik. Saya tak keberatan membaca komik yang plastik pembungkusnya sudah robek, karena yang terpenting adalah cerita di dalamnya.

Dari komik, saya belajar banyak hal. Entah itu kisah roman, fiksi, hingga cerita yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu komik yang sangat berkesan bagi saya adalah “Pupus Putus Sekolah”. Karya lokal ini bisa kalian baca di Webtoon. Saya tak akan mengulas ceritanya secara detail — silakan baca sendiri jika penasaran. Namun, ada pelajaran besar yang ingin saya bagikan setelah membaca komik ini: dunia pendidikan itu sangat luas, dan belajar bisa dilakukan di mana saja, dengan siapa saja.

Komik ini membuka mata saya. Kadang kita merasa tahu segalanya, tetapi sebenarnya kita tidak tahu apa-apa. Contohnya, ada kisah tentang Bagus yang diminta mencuci piring. Bagi sebagian orang, pekerjaan ini mungkin dianggap remeh. Namun, jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, mencuci piring bisa menjadi peran yang sangat dihargai di dapur. Tidak semua koki suka mencuci piring, dan keberadaan seseorang yang bersedia melakukannya bisa menjadi sangat berarti.

Ada juga karakter Tomas, anak yang cerdas karena ia suka mencicipi makanan di dapur. Lewat Tomas, kita diajak melihat bahwa kecerdasan itu bisa muncul dari rasa ingin tahu dan pengalaman, bukan hanya dari teori di buku. Selain itu, ada cerita tentang ayah Bagus yang dianggap bodoh oleh banyak orang, bahkan oleh Bagus sendiri. Namun, Tomas memberikan sudut pandang berbeda: label “bodoh” atau “pintar” yang diberikan orang kota hanyalah pandangan sepihak yang tidak perlu terlalu dianggap.

Yang paling menyentuh adalah karakter Mak Luwe dengan kutipannya, “Hidup itu susah, tapi orang-orang baik bisa bikin hidup jadi lebih gampang.” Kalimat ini begitu sederhana, tetapi penuh makna. Ia mengingatkan kita untuk tidak pernah lelah menjadi orang baik. Kebaikan, sekecil apa pun, selalu punya dampak besar bagi kehidupan orang lain.

Melalui komik, saya belajar bahwa pelajaran hidup bisa datang dari mana saja. Komik bukan hanya hiburan; ia juga bisa menjadi guru yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Jadi, jangan pernah berhenti belajar — di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja.

Posted in renungan

Belajar dari Viral “Candaan/Hinaan” Gus Miftah kepada Penjual Es Teh

Beberapa hari terakhir, media sosial ramai membahas peristiwa yang melibatkan Gus Miftah, seorang pendakwah yang dikenal luas. Dalam ceramahnya, ia melontarkan pernyataan yang dianggap netizen sebagai hinaan terhadap penjual es teh. Meski Gus Miftah kemudian mengklarifikasi bahwa itu hanya candaan dalam konteks dakwah, dan ia pun telah meminta maaf kepada pihak yang bersangkutan, kejadian ini meninggalkan sejumlah pelajaran penting untuk kita renungkan.

1. Ucapan adalah cerminan kebiasaan

Apa yang keluar dari lisan seseorang seringkali mencerminkan lingkungan dan kebiasaan yang mereka jalani. Dalam kasus ini, banyak yang menilai bahwa candaan Gus Miftah bisa jadi merupakan refleksi dari kata-kata yang sering ia dengar di lingkungannya. Sebagai pendakwah yang aktif berdakwah di tempat-tempat seperti diskotik, klub malam, dan lokasi lainnya yang identik dengan kultur bebas, tidak heran jika bahasa yang biasa digunakan oleh orang-orang di sana sedikit banyak berpengaruh pada dirinya. Ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih berhati-hati menjaga lingkungan yang dapat memengaruhi pola pikir dan ucapan kita.

2. Viral: Jalan pintas untuk pansos

Fenomena viral kerap menjadi “tangga emas” bagi banyak pihak untuk menaikkan popularitas atau engagement di media sosial. Dalam kasus ini, tidak sedikit akun yang memanfaatkan isu tersebut untuk tujuan tertentu—baik untuk membantu penjual es teh maupun sekadar mencari perhatian. Bahkan akun-akun desain grafis turut membuat konten seputar “branding” es teh. Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial menjadi arena yang dinamis, namun seringkali diwarnai motif beragam, termasuk pansos.

3. Cara Allah mengangkat dan menjatuhkan derajat manusia

Kejadian ini juga menjadi pelajaran tentang kehendak Allah dalam menentukan nasib seseorang. Penjual es teh yang awalnya mungkin dianggap sederhana kini mendapat simpati besar dan bahkan peluang untuk maju berkat peristiwa ini. Sebaliknya, seseorang yang berada di posisi terhormat bisa tergelincir oleh kesombongan atau ucapan yang tidak dijaga. Ini menjadi pengingat untuk selalu rendah hati, karena sebagaimana Iblis dihukum karena kesombongannya, kita pun bisa mengalami hal serupa jika lupa diri.

4. Adab lebih utama daripada ilmu

Ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan keangkuhan. Dalam Islam, adab (akhlak) adalah hal mendasar yang bahkan mendahului ilmu. Seorang alim tanpa adab tidak akan dihormati, sedangkan seseorang dengan adab yang baik akan selalu dikenang meski ilmunya terbatas. Dalam konteks ini, ucapan yang terkesan merendahkan menunjukkan bahwa kecerdasan atau ilmu seseorang tidak cukup tanpa sikap yang santun. Sebagai seorang pendakwah yang seharusnya menjadi teladan, menjaga adab saat berbicara, terutama di depan publik, adalah kewajiban. Hal ini mengingatkan kita untuk selalu mengedepankan kelembutan, tidak hanya dalam kata-kata tetapi juga dalam perbuatan. Rasulullah SAW sendiri adalah contoh sempurna bagaimana ilmu dan adab berpadu dalam setiap dakwahnya.

5. Berita viral sebagai pengalihan isu

Tidak dapat dipungkiri, banyak kasus viral yang kemudian dimanfaatkan sebagai pengalihan perhatian dari isu yang lebih serius. Dalam situasi ini, perbincangan hangat seputar “candaan” Gus Miftah bisa jadi menutupi perhatian masyarakat terhadap kasus penembakan siswa oleh oknum polisi di Semarang, atau isu-isu krusial lainnya. Fenomena ini mengingatkan kita untuk tetap bijak memilah mana yang harus menjadi fokus utama.


Kesimpulan
Kasus ini menjadi pelajaran besar, tidak hanya bagi Gus Miftah tetapi juga bagi kita semua. Menjaga ucapan, mengutamakan adab, dan selalu rendah hati adalah kunci agar kita tetap dihormati dan menjadi pribadi yang lebih baik. Viral di media sosial boleh jadi mencuri perhatian, tetapi jangan sampai melalaikan kita dari isu yang lebih penting dan prinsip-prinsip dasar kehidupan.

Posted in renungan

“Belajar dari Kisah Umar dan Sepotong Tulang”

Tulisan ini dibuat menanggapi insiden ricuhnya deklarasi #2019gantipresiden di surabaya tanggal 26 agustus 2018. Mungkin sudah terlambat untuk dipublikasikan tapi bisa dijadikan pelajaran untuk kedepannya.

Hari minggu 26 Agustus 2018 lalu terjadi satu insiden saat deklarasi #2019gantipresiden wilayah jawatimur yang rencananya di adakan di tugu pahlawan dan berakhir ricuh dengan golongan yang tidak setuju dengan acara tersebut.

Mungkin sebagian umat muslim masih ingat cerita klalifah Umar bin khotob meluruskan Amr bin Ash dengan sepotong tulang dengan kekuasaanya untuk menggusur rumah reyot milik yahudi tua guna pembangunan masjid untuk kepentingan umat islam. Disitu umar bin khatab mengingatkan Amr bin Ash dengan mengirimkan sepotong tulang dan diberi garis lurus dari pedangnya untuk mengingatkan jangan pernah menggunakan kekuasaan walau untuk kepantingan umat islam tapi sampai mengorbankan orang lain sekalipun itu orang Yahudi.

Apa persamaan deklarasi #2019gantipresiden dengan kisah itu?
1. Acara deklarasi banyak merugikan banyak orang dengan hanya menguntungkan 1 pihak saja.
Siapa saja yang dirugikan ?
1. Masyarakat yang jualan di tugu pahlawan dan CFD di beberapa tempat seperti di tugu pahlawan, bungkul, jl. Tunjungan dan MER.
2. Masyarakat yang olahraga setiap minggu di CFD
3. Beberapa komunitas sosial yang punya aksi sosial seperti donasi lombok dll di acara CFD
4. Polisi yang bertugas ekstra bila terjadi kerusuhan.
5. Pengguna lalu lintas yang terpaksa harus cari jalan alternatif.

Kisah Umar yang dirugikan hanya 1 orang yahudi saja, bukan umat islam. tapi umar begitu marah karena ketidakadilan.

Disini saya tidak membela para cebonger atau menolak deklarasi #2019gantipresiden cuman cara yang digunakan kurang santun mengingat ini kota surabaya, kota yang sangat kondusif untuk tidak terlibat praktis dengan isu politik. Dan tempat yang akan digunakan sebagai deklarasi adalah tugu pahlawan icon perjuangan kota surabaya. Dimana icon kota surabaya sangat bersejarah dan tidak pantas ditunggangi oleh kelompok kelompok politik yang haus kekuasaan.

Andai lokasinya di hotel atau kalo memang kurang besar bisa menggunakan Gelora Bung Tomo yang lokasinya di ujung barat kota surabaya mungkin insiden kerusuhan ini tidak bakal terjadi. Karena kalo lokasinya di gelora bung tomo acara CFD di berbagai tempat tidak perlu diliburkan. Karena tak ada yang dirugikan ya ga ada yang protes dengan deklarasi #2019gantipresiden.

Jadi kalo ingin melakukan deklarasi politik, sebisa mungkin tidak mengganggu kepentingan publik, jika kepentingan publik diganggu, bukan salah publik untuk membubarkan acara tersebut.

-roy-

#antipolitikpraktis

Posted in coretanku

My Blog Im Sorry

Tanpa terasa, saat aku buka blog ini ada notifikasi dari WordPress yang mengucapkan selamat karena sudah 6 tahun aku menggunanakan layanan blog darinya. walaupun dalam perjalanannya aku hampir samasekali tak pernah menengoknya. aku mengenal Blog 6 tahun lalu saat rame-ramenya blog bisa menghasilkan uang. Tapi aku yang awalnya juga menginginkan itu dari blog ternyata wordpress memberikan ruang yang lain ruang yang membebaskan aku bercerita apapun.bercerita tentang kegelisahan kegembiraan atau hanya sekedar menyadur informasi dari situs lain. maaf…. sekali lagi maaf aku sangat jarang berkunjung ke blog ini padahal nih blog adalah sarana curhatku yang paling tepat.

1 karena jarang pengunjung yang kedua semua tulisanku yang disini menggambarkan perjalananku mulai dari titik nol, sejak 6 tahun yang lalu aku mengenal blog.

Tulisan tersebut terakhir tahun 2013

Dan sekarang aku ingin melanjutkan tulisanku lagi. Saat ini desember 2018 yang artinya sudah 5 tahun sejak tulisan ini dibuat dan berarti aku memulai nulis di wordpress sudah 11 tahun… waw… apa yang telah terjadi setelah 11 tahun aku melupakan tentang menulis, apakah aku sudah jauh berkembang dalam berfikir atau justru aku semakin jauh tertinggal dengan teman temen yang baru memulai menulis.

Buatku menulis hanya sebagai pelarian, ya pelarian. Bagi seorang wartawan menulis sama seperti mencari uang, tidak menulis tidak bisa makan, bagi sebagian orang menulis adalah cara menyampaikan pendapat terserah mau dibaca orang atau tidak, mau di terima orang atau tidak. Bagi seorang entrepreneur menulis adalah jejak, yaitu jejak dia menuliskan mimpi, menuliskan ide dan gagasan hingga menjadi sesuatu yang memberi nilai jual.

Tapi bagiku menulis adalah sebuah pelarian dimana aku bisa menulis banyak hal, mulai yang konyol dan absurd sampai yang serius menjurus ideologi cara berfikir kapitalis yang hanya memikirkan keuntungan.

So, I’m really sorry

Posted in inspirasi

Jadi Inspirasi

Rasanya masih belum pantas diri ini untuk menjadi inspirasi bagi orang lain, masih terlalu banyak cela, terlalu buruk, terlalu bodoh untuk memberikan inspirasi untuk orang lain. Rasanya pengalaman yang aku miliki belum ada apa apanya, bahkan profesi yang aku geluti belum menjadikanku expert di bidangnya. Lalu untuk apa aku mengikuti kelas inspirasi yang katanya memberikan inspirasi untuk anak-anak yang sekolah di pelosok untuk tetap gigih dalam belajar dan mencapai cita-cita. Jawabnya karena aku ingin mencari inspirasi dari mereka adik-adik yang terus berjuang, terus belajar di tengah kondisi sekolah yang masih jauh dari kesempurnaan, mereka terus berusaha meraih mimpi mereka dengan kondisi apa adanya dan penuh keterbatasan. Aku mencari inspirasi dari mereka-mereka anak-anak muda relawan pengajar dan relawan fasilitator dalam mengemas kegiatan sosial yang fun namun tetap mendidik.

imageSehari menginspirasi selamanya memberi artiSehari menginspirasi selamanya memberi artiSehari menginspirasi selamanya memberi arti
Sehari menginspirasi selamanya memberi arti

Di kelas inspirasi ini aku mengenal anak-anak muda yang berjiwa sosial tinggi yang kreatif dan pantang menyerah, pengalaman yang sama juga aku peroleh dari komunitas Save Street Child Surabaya ternyata juga bisa membantuku untuk ikut berperan aktif di dunia pendidikan terutama untuk menghadapi anak-anak.

image

Posted in inspirasi

Memulai joging

Aku Joging? Kayaknya ga ada yang percaya deh. Aku sendiri masih belum percaya kalo aku mau bangun pagi terus olahraga. Kalo sholat subuh sih pasti, cuman biasanya tidur lagi. Kalo kakakku semenjak menikah setiap selesai sholat subuh dia udah mulai rajin baca Quran, tapi untuk aku, yang sholat subuhnya harus menunggu mood dulu kayaknya berat untuk keluar cari angin dan sekedar joging. Tapi dua hari ini aku coba untuk memulai memperbaiki pola hidup sehat.

Posted in My Journey

Tulisan Pertama diawal tahun 2017

Hari ini adalah hari pertama setelah sekian lama aku tidak menulis, aku berharap tulisan ini akan berlanjut ditengah kesibukanku membangun usaha pribadiku yang dulu sempat terhenti. Ya tiga tahun lalu aku sempat merintis usaha percetakan yang hanya berumur kurang dari 6 bulan karena aku harus ke Samarinda selain karena ada project kalender tahuan dari salah satu sekolah di sana, aku juga ingin menyelesaikan beberapa urusan yang tertinggal disana. Saat  itu aku sebenarnya sudah mulai enjoy dengan usaha baruku, punya kios sendiri ngontrak kios fotocopy kecil-kecilan. Saat itu kiosku kuberi nama Viedart Advertising. Ternyata nama yang kuanggap keren malah blunder. Yah karena tempatnya di kampung tak ada yang tau apa itu advertising. Ditambah nama viedart yang tak lain adalah nicknameku yang biasa kupakai untuk chating di internet. Orang malah bener-bener asing. Ga ada yang tahu itu kios apaan. Masih inget aku hari pertama uang yang kudapat waktu itu hanya 20.000, itupun bukan dari jualan desain tapi kudapat dari pulsa yang kebetulan usahanya adikku yang nebeng daripada etalasenya kosong. Saat ini aku memulai lagi tapi dari online, tanpa tempat hanya bermodalkan social media instagram dan beberapa follower yang lumayan tapi mereka aktif dan cukup dekat dengan aku. Jadi ketika aku posting tentang kerjaanku ada beberapa teman yang pesan. Yah Alhamdulillah walau tak banyak tapi omset dari jualan online dapat membantu mencukupi kebutuhan rumah dan kebutuhan pribadiku. Oh iya nama kubuat lebih familiar mudah diucapkan dan yang pasti cukup nyleneh dan bikin orang geleng kepala dan berkomentar “bisa aja”. Nama lapakku adalah Cendol – cetak n desain online-
hehehe logo-cendol-online-merahgimana cukup mudah diucapkan kan? pasti bikin kalian geleng geleng kepala sambil berkata “bisa aja”.

Tulisan ini mungkin akan menjadi awal aku menulis kembali dan mungkin akan menjadi rangkaian tulisan perpisahan. Karena aku tak tahu tinggal berapa lama aku hidup di dunia ini. Saat aku menulis tulisan ini kondisi kesehatanku sedang turun, sepertinya penyakit lama ku sedang kambuh. Tapi aku percaya di sisa usiaku ini aku masih bisa bermanfaat untuk orang lain dan membesarkan usahaku tersebut. Aku yakin masih bisa berkarya untuk seratus tahun lagi. Atau paling tidak karyaku bisa berguna untuk seratus tahun kedepan. Sepertinya  kondisiku ini benar-benar drop, batukku tak mau berhenti, keringat dingin terus mengucur. Rasanya hari ini cukup sampai disini. Sampai jumpa besok, mudahan besok aku masih bisa menulis dan bertemu kalian walau hanya memalui tulisan.

Surabaya, 4 Januari 2017

Roy Fibrianto

Posted in My Journey

Menikmati Sunrise di pantai Pampuma

image

Ga ada angin ga ada hujan, tiba-tiba Qowy, salah satu temen dari SSChild Surabaya mengajak kami pengajar ambengan batu untuk jalan-jalan ke Pantai Pampuma di Jember. Kebetulan juga sih ada temen kita yang kerja di jember yaitu mas Andy yang siap menjadi penunjuk jalan ke sana. Rencana awal sih yang mau berangkat qowy, Saad, Fahmi, aku dan mbak Mhee. Kami berencana berangkat naik kereta Api tapi karena waktunya terlalu mepet, tiket kereta pun habis terpaksa kita naik bus. Malam sebelum berangkat mbak Mhee sudah memastikan ga ikut berangkat kalau naik bus, tapi qowy masih sempet ngabari, kalo dia tetep ikut tapi ga tahu kenapa pagi hari menjelang Berangkat, dia membatalkan untuk berangkat. Coba dia bilangnya malam mungkin kita semua batal berangkat, tapi karena paginya kita sudah siap, maka perjalanan pun berlanjut walau hanya bertiga, Aku, Fahmi, dan Saad. Sebelum berangkat kita berkumpul dulu di tempat kostnya qowy untuk ambil Tenda yang sudah disewanya semalam untuk ngecamp di pantai Pampuma. Sampai di kostnya eh dia malah membelikan kita snack untuk cemilan kita, padahal dianya sendiri ga ikut.

image

Kami bertiga pun akhirnya berangkat menuju terminal Purabaya (bungurasih) untuk parkir motor dan berlanjut naik bus berangkat ke Jember. Sampai di terminal, bus yang tarif biasa sudah berangkat dan adanya bus patas dengan tarif sedikit lebih mahal, Rp52.000,-. Sedang tarif bus biasa hanya Rp.35.000,-. Di dalam Bus fahmi duduk bersebelahan dengan seorang bule kebangsaan Jerman, yang ternyata mereka hendak ke gunung Bromo. Kita lupakan sejenak soal bule dari Jerman itu, toh yang duduk bersebelahan bukan aku tapi Fahmi, entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti aku menikmati perjalananku di bus sambil tidur-tiduran di iringi lagu Mp3 dari hp. Kira-kira jam 1an kita sampai di terminal jember, sambil menunggu mas Andy menjemput di terminal kami makan siang dulu di terminal. Yang membuat kami terkejut ada seorang penjual jagung rebus yang menawarkan jagungnya hanya 1000 rupiah, sementara di surabaya jagung rebus masih dijual dengan harga 3000 rupiah, murah juga ya hidup di jember. Setelah kita makan Mas Andy dan kedua temannya akhirnya datang menjemput kami di terminal. Dan kita berenam pun langsung menuju ke pantai, setelah sebelumnya Mas Andy dan kedua temennya mampir makan siang mie kopyok khas jember yang harganya ga kalah murahnya juga. Sesampai di Jember kita mendirikan Tenda di bibir pantai deket parkiran mobil.

image

Malamnya harinya sambil mendengarkan suasana dentuman ombal di malam hari membuat hati tenang, jauh dari hiruk pikuk suara kendaraan di jalan. Baru kali ini aku bermalam di tepi pantai sambil mendengarkan suara ombak bersahut-sahutan. Sensasinya memang berbeda dengan di gunung, kalo di gunung suara jangkrik dan udara menusuk kulit biasa menghampiri, sedang di tepi pantai dengan tiupan angin yang cukup kencang namun dinginnya tidak setajam udara gunung. Sambil menikmati irama ombak yang bersahut-sahutan kami membuat api unggun dengan membakar kayu di sekitar pantai.

image

Posted in coretanku

Kejutan Kecil untuk Kakak Les

image
Selamat kak qowy...

Siang itu aku asyik bermain dengan teman teman gang 3 ketika kakak-kakak Les datang ke tempat kami. Ya, kami memanggilnya kakak les, kakak-kakak dari save street child surabaya ( uh.. susahnya mengeja ) yang biasa mengajari kami tiap hari selasa dan kamis. Hari itu hari minggu, nggak biasanya kakak-kakak les hari minggu datang, kukira ada kegiatan belajar, tapi ternyata tidak. Hari itu yang datang ada kak saad, kak ira, kak reny, kak mee,mas roy dan kak puspita yang datang terlambat. Mereka menyuruh kami membuat tulisan ucapan selamat untuk wisuda-nya kak Qowy. Aku ga tahu apa itu “wisuda” yang aku tahu untuk ucapan selamat kak Qowy.

Setelah tulisan ucapan kami untuk kak Qowy selesai, kami diajak oleh kakak-kakak les menuju tempat Kak Qowy dengan naik motor. Waktu itu yang ingin ikut banyak seperti mbak putri dan mbak nikita juga pengen ikut, tapi karena ga muat hanya 8 anak yang diajak. Dimas, aldo, putra, arya, riana, amel, keysha, dan karin.

Sampai di tempat mbak qowy, kami sempet mutar-mutar cari tempat parkir. Wah rame banget, ada yang jual bunga, ada yang jual minuman dingin, setelah ku tahu, oh ini toh tempatnya kak qowy di wisuda. Tiba di sana kami gak langsung ketemu kak qowy. Kami masih mencarinya ditengah ribuan orang yang diwisuda dan keluarganya yang hadir.

Kak Saad dan Mas Roy masuk ke dalam untuk nyari Kak Qowy di tengah kerumunan orang sementara kami menunggu di depan. Gak berapa lama kak Saad dan Mas Roy datang mengajak kami ke tempat foto dan disitu kita foto-foto bareng, “Selamat buat Kak Qowy yang udah jadi Sarjana, doakan semoga kami juga bisa seperti Kak Qowy”.

Foto-foto ga hanya di luar kami pun masuk ke ruangan tempat kak qowy di wisuda. Di situ kami juga foto-foto sambil bermain kejar-kejaran, ga lama mas roy menyuruh kami mengumpulkan tutup botol air mineral untuk di jadikan prakarya katanya.

image
Ini adalah hasil tutup botol yang berhasil kami kumpulkan untuk prakarya hero hore

Kami di suruh mengumpulkan tutup botol, dan yang paling banyak ngumpulkan tutup botol ditraktir minum es sama mas roy dan ternyanta pemenangnya adalah putra karena berhasil mengumpulkan 62 tutup botol sedang arya berhasil mengumpulkan 60 tutup botol, aldo berhasil mengumpulkan 45 tutup botol sedang aku hanya berhasil mengumpulkan 25 tutup botol.

Setelah selesai dari tempat kak Qowy kami di ajak makan-makan sama kakak lesnya yang traktir kak Saad, terima kasih kak Saad semoga rejekinya lancar. Dan hari minggu ini pun cukup membuatku senang. Semoga kakak-kakak Lesnya tidak bosan dengan kami dan mau terus mengajar di Ambengan batu.

Dari Anak Merdeka Ambengan Batu

Posted in inspirasi

semut kecil

Dia menyebut dirinya seperti itu “semut kecil” di tumblrnya…, ga heran sih kalo liat anaknya yang kecil mungil and unik, ya “unik” mengapa kukatakan unik? karena anaknya bukan seperti gadis-gadis lain yang biasa kukenal (mainstrem) bahkan dia sendiri  menyebut dirinya anti mainstrem.
image

Memang sih sebelum aku mengenal dia lebih dekat, dia orangnya cuek, jutek, dan sepertinya susah sekali untuk masuk kedalam zona pertemanannya, namun setelah beberapa kali pertemuan dan mengenalnya ternyata she is beautifull, bukan hanya dari fisiknya saja namun dari kepribadiannya. Aku mengenalnya dari sebuah komunitas peduli anak jalanan di kota Surabaya. Saat ini dia aktif mengajar di salah satu wilayah belajar komunitas dari tersebut.

Kenapa aku ingin menulis sosok tentang dirinya? entahlah yang pasti hanya karena janjiku padanya untuk menuliskannya di blog pribadiku tak lebih, hehehe… sudah kutepati lho ya. Apakah aku suka dia entahlah, apakah aku jatuh cinta dengannya akupun tak tahu. aku belum berani berkata aku suka dia karena kedekatan kami layaknya kedekatan seorang kakak dan adiknya, layaknya kedekatan seorang sahabat dengan sahabat lainnya, tak ada perasaan yang spesial diantara kami, entah dia.

Baru-baru ini kami terlibat acara bareng dengannya dalam sebuah event lounching buku seorang kawannya yang dia dikenal via tumbler. Dia sangat ngefans sekali dengan penulisnya, dia paling semangat kalo cerita soal tulisan-tulisan kawannya itu di tumbler. Dia memang suka membaca dan menulis, aku juga suka tulisan-tulisannya di tumbler. Sebenernya tulisan-tulisannya ga kalah bagus dengan kawannya yang baru launching buku itu hanya saja, kepercayaan dirinya saja masih kalah jauh.

Tahun ini juga menjadi tahun spesial untuknya, karena pada tanggal 27 sept kemarin, dia baru saja menamatkan studi S1nya di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA dulunya IAIN Sunan Ampel Surabaya). Acara wisudanya tepat satu hari menjelang acara launching buku kawannya itu di Surabaya. Sayang sekali aku ga hadir di acara wisudanya, selain karena pekerjaanku yang baru pulang jam 3 sore, hari itu juga sudah janji dengan kawannya itu sang penulis itu.

Hm… sebenarnya banyak sekali sesuatu yang ingin aku tuliskan tentang dirinya tapi aku takut nanti dia ke-geeran lagi hehehe… aku rasa itu saja dulu yang dapat aku tuliskan tentang dirinya. Saranku buat dia agar tetap selalu barkarya dan memberi manfaat untuk semua

Dari seorang teman
Roy