Posted in My Journey

Menikmati Sunrise di pantai Pampuma

image

Ga ada angin ga ada hujan, tiba-tiba Qowy, salah satu temen dari SSChild Surabaya mengajak kami pengajar ambengan batu untuk jalan-jalan ke Pantai Pampuma di Jember. Kebetulan juga sih ada temen kita yang kerja di jember yaitu mas Andy yang siap menjadi penunjuk jalan ke sana. Rencana awal sih yang mau berangkat qowy, Saad, Fahmi, aku dan mbak Mhee. Kami berencana berangkat naik kereta Api tapi karena waktunya terlalu mepet, tiket kereta pun habis terpaksa kita naik bus. Malam sebelum berangkat mbak Mhee sudah memastikan ga ikut berangkat kalau naik bus, tapi qowy masih sempet ngabari, kalo dia tetep ikut tapi ga tahu kenapa pagi hari menjelang Berangkat, dia membatalkan untuk berangkat. Coba dia bilangnya malam mungkin kita semua batal berangkat, tapi karena paginya kita sudah siap, maka perjalanan pun berlanjut walau hanya bertiga, Aku, Fahmi, dan Saad. Sebelum berangkat kita berkumpul dulu di tempat kostnya qowy untuk ambil Tenda yang sudah disewanya semalam untuk ngecamp di pantai Pampuma. Sampai di kostnya eh dia malah membelikan kita snack untuk cemilan kita, padahal dianya sendiri ga ikut.

image

Kami bertiga pun akhirnya berangkat menuju terminal Purabaya (bungurasih) untuk parkir motor dan berlanjut naik bus berangkat ke Jember. Sampai di terminal, bus yang tarif biasa sudah berangkat dan adanya bus patas dengan tarif sedikit lebih mahal, Rp52.000,-. Sedang tarif bus biasa hanya Rp.35.000,-. Di dalam Bus fahmi duduk bersebelahan dengan seorang bule kebangsaan Jerman, yang ternyata mereka hendak ke gunung Bromo. Kita lupakan sejenak soal bule dari Jerman itu, toh yang duduk bersebelahan bukan aku tapi Fahmi, entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti aku menikmati perjalananku di bus sambil tidur-tiduran di iringi lagu Mp3 dari hp. Kira-kira jam 1an kita sampai di terminal jember, sambil menunggu mas Andy menjemput di terminal kami makan siang dulu di terminal. Yang membuat kami terkejut ada seorang penjual jagung rebus yang menawarkan jagungnya hanya 1000 rupiah, sementara di surabaya jagung rebus masih dijual dengan harga 3000 rupiah, murah juga ya hidup di jember. Setelah kita makan Mas Andy dan kedua temannya akhirnya datang menjemput kami di terminal. Dan kita berenam pun langsung menuju ke pantai, setelah sebelumnya Mas Andy dan kedua temennya mampir makan siang mie kopyok khas jember yang harganya ga kalah murahnya juga. Sesampai di Jember kita mendirikan Tenda di bibir pantai deket parkiran mobil.

image

Malamnya harinya sambil mendengarkan suasana dentuman ombal di malam hari membuat hati tenang, jauh dari hiruk pikuk suara kendaraan di jalan. Baru kali ini aku bermalam di tepi pantai sambil mendengarkan suara ombak bersahut-sahutan. Sensasinya memang berbeda dengan di gunung, kalo di gunung suara jangkrik dan udara menusuk kulit biasa menghampiri, sedang di tepi pantai dengan tiupan angin yang cukup kencang namun dinginnya tidak setajam udara gunung. Sambil menikmati irama ombak yang bersahut-sahutan kami membuat api unggun dengan membakar kayu di sekitar pantai.

image

Posted in coretanku

Kejutan Kecil untuk Kakak Les

image
Selamat kak qowy...

Siang itu aku asyik bermain dengan teman teman gang 3 ketika kakak-kakak Les datang ke tempat kami. Ya, kami memanggilnya kakak les, kakak-kakak dari save street child surabaya ( uh.. susahnya mengeja ) yang biasa mengajari kami tiap hari selasa dan kamis. Hari itu hari minggu, nggak biasanya kakak-kakak les hari minggu datang, kukira ada kegiatan belajar, tapi ternyata tidak. Hari itu yang datang ada kak saad, kak ira, kak reny, kak mee,mas roy dan kak puspita yang datang terlambat. Mereka menyuruh kami membuat tulisan ucapan selamat untuk wisuda-nya kak Qowy. Aku ga tahu apa itu “wisuda” yang aku tahu untuk ucapan selamat kak Qowy.

Setelah tulisan ucapan kami untuk kak Qowy selesai, kami diajak oleh kakak-kakak les menuju tempat Kak Qowy dengan naik motor. Waktu itu yang ingin ikut banyak seperti mbak putri dan mbak nikita juga pengen ikut, tapi karena ga muat hanya 8 anak yang diajak. Dimas, aldo, putra, arya, riana, amel, keysha, dan karin.

Sampai di tempat mbak qowy, kami sempet mutar-mutar cari tempat parkir. Wah rame banget, ada yang jual bunga, ada yang jual minuman dingin, setelah ku tahu, oh ini toh tempatnya kak qowy di wisuda. Tiba di sana kami gak langsung ketemu kak qowy. Kami masih mencarinya ditengah ribuan orang yang diwisuda dan keluarganya yang hadir.

Kak Saad dan Mas Roy masuk ke dalam untuk nyari Kak Qowy di tengah kerumunan orang sementara kami menunggu di depan. Gak berapa lama kak Saad dan Mas Roy datang mengajak kami ke tempat foto dan disitu kita foto-foto bareng, “Selamat buat Kak Qowy yang udah jadi Sarjana, doakan semoga kami juga bisa seperti Kak Qowy”.

Foto-foto ga hanya di luar kami pun masuk ke ruangan tempat kak qowy di wisuda. Di situ kami juga foto-foto sambil bermain kejar-kejaran, ga lama mas roy menyuruh kami mengumpulkan tutup botol air mineral untuk di jadikan prakarya katanya.

image
Ini adalah hasil tutup botol yang berhasil kami kumpulkan untuk prakarya hero hore

Kami di suruh mengumpulkan tutup botol, dan yang paling banyak ngumpulkan tutup botol ditraktir minum es sama mas roy dan ternyanta pemenangnya adalah putra karena berhasil mengumpulkan 62 tutup botol sedang arya berhasil mengumpulkan 60 tutup botol, aldo berhasil mengumpulkan 45 tutup botol sedang aku hanya berhasil mengumpulkan 25 tutup botol.

Setelah selesai dari tempat kak Qowy kami di ajak makan-makan sama kakak lesnya yang traktir kak Saad, terima kasih kak Saad semoga rejekinya lancar. Dan hari minggu ini pun cukup membuatku senang. Semoga kakak-kakak Lesnya tidak bosan dengan kami dan mau terus mengajar di Ambengan batu.

Dari Anak Merdeka Ambengan Batu

Posted in inspirasi

semut kecil

Dia menyebut dirinya seperti itu “semut kecil” di tumblrnya…, ga heran sih kalo liat anaknya yang kecil mungil and unik, ya “unik” mengapa kukatakan unik? karena anaknya bukan seperti gadis-gadis lain yang biasa kukenal (mainstrem) bahkan dia sendiri  menyebut dirinya anti mainstrem.
image

Memang sih sebelum aku mengenal dia lebih dekat, dia orangnya cuek, jutek, dan sepertinya susah sekali untuk masuk kedalam zona pertemanannya, namun setelah beberapa kali pertemuan dan mengenalnya ternyata she is beautifull, bukan hanya dari fisiknya saja namun dari kepribadiannya. Aku mengenalnya dari sebuah komunitas peduli anak jalanan di kota Surabaya. Saat ini dia aktif mengajar di salah satu wilayah belajar komunitas dari tersebut.

Kenapa aku ingin menulis sosok tentang dirinya? entahlah yang pasti hanya karena janjiku padanya untuk menuliskannya di blog pribadiku tak lebih, hehehe… sudah kutepati lho ya. Apakah aku suka dia entahlah, apakah aku jatuh cinta dengannya akupun tak tahu. aku belum berani berkata aku suka dia karena kedekatan kami layaknya kedekatan seorang kakak dan adiknya, layaknya kedekatan seorang sahabat dengan sahabat lainnya, tak ada perasaan yang spesial diantara kami, entah dia.

Baru-baru ini kami terlibat acara bareng dengannya dalam sebuah event lounching buku seorang kawannya yang dia dikenal via tumbler. Dia sangat ngefans sekali dengan penulisnya, dia paling semangat kalo cerita soal tulisan-tulisan kawannya itu di tumbler. Dia memang suka membaca dan menulis, aku juga suka tulisan-tulisannya di tumbler. Sebenernya tulisan-tulisannya ga kalah bagus dengan kawannya yang baru launching buku itu hanya saja, kepercayaan dirinya saja masih kalah jauh.

Tahun ini juga menjadi tahun spesial untuknya, karena pada tanggal 27 sept kemarin, dia baru saja menamatkan studi S1nya di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA dulunya IAIN Sunan Ampel Surabaya). Acara wisudanya tepat satu hari menjelang acara launching buku kawannya itu di Surabaya. Sayang sekali aku ga hadir di acara wisudanya, selain karena pekerjaanku yang baru pulang jam 3 sore, hari itu juga sudah janji dengan kawannya itu sang penulis itu.

Hm… sebenarnya banyak sekali sesuatu yang ingin aku tuliskan tentang dirinya tapi aku takut nanti dia ke-geeran lagi hehehe… aku rasa itu saja dulu yang dapat aku tuliskan tentang dirinya. Saranku buat dia agar tetap selalu barkarya dan memberi manfaat untuk semua

Dari seorang teman
Roy

Posted in My Journey

Cerita dari Delta

IMG_9462Waktu menunjukkan pukul 22.00 waktu Surabaya, saat aku pulang dari nonton film di bioskop plaza Surabaya kulihat seorang gadis kecil yang berusia belum genap 10 tahun, dan bocah laki-laki yang belum genap 5 tahun, sedang tidur tanpa alas di lantai plaza yang cukup dingin menurutku. Disampingnya ada gelas plastik untuk tempat uang receh bagi siapapun yang iba dan memberikan recehan padanya juga beberapa lembar Koran yang belum laku tampak tergeletak digunakan sebagai bantal. Saat pertama kali berjumpa aku sempat berikir kemana ibunya, kok tega sampai larut malam kok anaknya dibiarkan tidur di emperan mall, hingga akhirnya aku bergabung dengan komunitas yang peduli dengan nasib mereka, ya komunitas itu bernama Save Street Child Surabaya.

Komunitas SSC Surabaya inilah yang mengenalkanku pada Rahma gadis kecil yang kujumpai pertama kali di Plaza Surabaya waktu itu. Dan ternyata bocah laki-laki yang disampingnya yang cukup aktif adalah adiknya bernama Fano. Aku bergabung menjadi volunter SSC Surabaya sebagai tenaga pengajar yang dikenal dengan sebutan Pengajar Keren dari program KAU Mengajar (Kami Ada Untuk Mengajar). Salah satu program yang digagas SSC Surabaya yang bertujuan untuk kepedulian terhadap dunia pendidikan anak-anak terutama bagi mereka anak-anak jalanan. Ya karena mereka hampir tidak memiliki waktu untuk belajar dirumah ataupun untuk mengikuti bimbingan belajar yang harganya terbilang mahal untuk kondisi perekonomian keluarga mereka.

Sejak bergabung dengan SSC Surabaya aku mulai mengenal siapa Rahma, karena 2 kali semingu tiap selasa dan Rabu jam 19.00 malam, aku turut serta mengajar di wilayah Delta (sebutan untuk Plaza Suabaya) sebagai pengajar keren, awalnya yang mengajar di delta hanya kami berlima bersama Mas Gito, Mas Andy, Mas John, dan si cantik Mbak Aurora di temani dengan pengajar lama yang keibuan Mbak Anis. Sebelum mengajar di Delta kami berlima sebenarnya sudah saling kenal karena dipertemukan di Open Rekrutmen Pengajar Keren SSC Surabaya, yang kebetulan kami berempat yaitu aku, Mas John , Mas Andy juga Mbak Aurora adalah satu kelompok. Seiring berjalannya waktu kakak-kakak pengajar yang turut perpartisipasi di Delta semakin banyak diantaranya ada Bang Jo, Mbak Reny, Mbak Okta, Mbak Wundri, Mbak Intan, Mbak Aulia, Mbak Qowy, Mbak Puspita, Mbak Lala, Mas Indra, Mas Sandy, Mas Fahmi, Mas Ghosy, dan masih banyak lagi yang aku ga kenal namanya satu persatu.

Bersama sahabat-sahabat seperjuangan itulah, aku mulai mengenal siapa sosok Rahma. Seorang gadis kecil yang gigih di usianya yang masih belia, walau kadang sedikit rewel seperti anak-anak pada umumnya. Dan kadang jika dia mulai rewel dan ga mau belajar, kami kakak – kakak pengajar yang laki-laki kadang ga sanggup menghadapi tingkahnya tapi Mbak Aurora yang mungkin sama-sama perempuan sanggup meluluhkan hati Rahma dan mau belajar. Lain Rahma lain lagi dengan adiknya Fano, bocah laki-laki yang super aktif itu paling susah untuk diam, dia mau belajar jika suasana hatinya mau belajar, walau akhir-akhir ini sudah bisa menulis angka 1-10 dengan benar. Bahkan kadang-kadang kakak pengajar yang baru bergabung sering dibuat kerepotan dengan tingkahnya yang ga bisa diam. Sebenarnya ada salah satu pengajar yang mampu menakhlukkan hati Fano, dia salah satu Pengajar Keren yang akhir-akhir ini jarang ngajar. Mungkin karena kesibukannya bekerja atau yang lain aku tak tahu. Yang pasti setiap aku ke Delta yang dicari Fano adalah kakak tersebut bukan kakak pengajar yang lain.

Kelas Delta… ya, mungkin itulah seklumit cerita tentang kelas Delta yang kini hanya mengajar 2 adik, Rahma dan Fano. Sebelumnya ada 4 anak bersaudara dari Ambengan Batu yang ikut meramaikan kegiatan belajar di Delta ini, mereka adalah Putri, Amel, Arya dan Putra dan 3 anak lainnya namun seiring dibukanya kelas baru di dekat rumah mereka, sehingga mereka ikut belajar di Ambengan Batu. Kini di Delta mulai sepi, namun kami tetap datang untuk bertemu Rahma dan Fano sambil tetap belajar sambil bermain. Terima kasih untuk kakak-kakak pengajar yang turut meramaikan Delta.

-Roy-

Pengajar Keren Delta yang masih belum merasa keren.

Posted in My Journey

Senja di “Harina”

Bukan tempat wisata, bukan juga sebuah café, hanya kereta api eksekutif Surabaya-Bandung, ya Kereta Api Harina Expres, seperti nama seorang perempuan memang. Temanku di komunitas SSC bernama Arina juga temanku waktu di SMA dulu namanya juga Arina. Tapi ini bukan membahas soal kedua temanku yang kebetulan namanya hampir mirip dengan kereta api Eksekutif itu. Namun ini adalah perjalananku yang tidak kusengaja, perjalanan yang tak seorangpun tahu, keluargaku pun tak tahu teman-temanku tak tahu, yang tahu hanya Allah dan seorang teman “kecilku” yang kebetulan sedang KKN di Bojonegoro yang akhir-akhir ini aku semakin dekat dengannya justru saat dia jauh dariku.
16.00 WIB. Start
Aku berangkat naik “harina” meninggalkan kota yang semakin hari semakin sejuk. Mungkiin tak lama lagi kota Surabaya ga akan kalah dari sejuknya kota malang karena hadirnya berbagai taman yang berada di seluruh pelosok kota Surabaya. Aku lama tidak melakukan perjalanan. Perjalanan terakhirku di bulan oktober tahun lalu memberikanku pengalaman – pengalaman untuk menemukan keajaiban keajaiban yang ada di sekitar selama kita yakin akan Kebesaran-Nya. Saat ini pun aku melakukan perjalanan juga ingin merasakan keajaiban-keajaiban yang sama saat aku ke Samarinda beberapa bulan lalu.

Awal perjalanku di temani Koran pagi Jawa Pos yang akhir-akhir ini aku lama tidak mengikuti perkembangan beritanya. Hari ini kebetulan berita utamanya tentang perkembangan operasi Face Of pertama di Indonesia yang dimulai sejak 2006 lalu. Kulihat foto terakhir setelah operasi sepertinya akan kembali cantik seperti semula walaupun buatan manusia tak akan sesempurna buatan Illahi. Tapi syukurlah setidaknya perkembangan duni kesehatan di indonseia semakin maju. Setidaknya itulah hal positif yang kuambil dari jawapos hari ini di tengah berita bencana banjir dan gempa yang melanda Indonesia akhir-akhir ini.

Kok malah bicara soal berita sih ya…. Sory prolognya kelamaan… hehehe… aku naik di satu-satunya gerbong ekonomi ber AC dengan tarif 200ribu. Harga yang lumayan mahal untuk dompetku saat ini karena duit di dompet tersisa 430 ribu kalo di potong uang tiket 200 ribu jadi tersisa 230 ribu, mepet sekali … tapi aku percaya dengan keajaiban. Aku pernah pergi ke Berau tanpa uang sama sekali dan masih tetap bisa pulang kok… aku juga pernah ga pegang uang samasekali ketika mau berangkat ke Samarinda eh nggak tahunya beberapa jam sebelum berangkat aku dapat kiriman transfer dari orang yang tak ku duga. Jadi dengan modal 230ribu aku rasa cukup untuk bisa kembali ke Surabaya dengan keajaiban-Nya tentunya.

Di dalam kereta saat aku mulai menulis ini waktu menunjukkan pukul 17.00 waktu setempat aku tak tahu aku berada dimana? Kulihat di luar baru saja aku meninggalkan Lamongan. Makanya di judul aku tulis “Senja di Harina” karena aku mulai menulis ini sambil menikmati senja di dalam kereta api eksekutif ini walau aku naik gerbong ekonomi hehehehe….

Ditemani dengan Cappucino
Sudah sekian lama aku tak naik kereta api. Terakhir aku naik kereta api saat itu kalau ga salah tahun 2007 saat pulang dari Lamongan ke Surabaya bersama bude dengan naik kereta api aku lupa namanya yang pasti saat itu tarifnya Rp.1500,- ya ga salah lagi memang seribu lima ratus rupiah sudah sampai Surabaya dari desa kelahiranku Kabupaten Lamongan . tapi apa yang kurasakan selama satu setengah jam perjalanan itu rasanya ingin muntah, sumpek, sesak, berjubel dengan pedagang ayam yang baunya minta Ampun…, bahkan dalam hati aku masih ingat aku bergumam “ enggak lagi deh naik kereta api”. Tapi sekarang entah kenapa setelah perusahaan kereta api mulai berbenah dan aku mendengar cerita dari saudara iparku (istri kakakku) yang dari blitar yang mengatakan bahwa “kereta api sekarang lebih nyaman ndari pada dulu” membuat aku jadi ingin merasakan naik kereta api lagi , dan sekarang secara tidak terduga dan tanpa kurencanakan sebelumnya aku merasakan kereta api lagi walau kelas ekonomi tapi sudah lebih nyaman daripada dulu. Bahkan saat ini ada “pramugari” yang cantik juga layaknya pesawat yang ikut melayani. Walau hidangannya bukan gratis karena untuk menikmati segelas cappucino aku harus merogoh kocek Rp.12.000/gelasnya cukup untuk menemaniku menulis di kereta di waktu senja, ya “Senja di Harina”

-Roy –
Ditulis di dalam kereta Harina dibaca dimana saja

Posted in inspirasi

Sebulan tanpa gadged & sosial media bisakah…?

Mulai hari ini ya… mulai hari ini tanggal 20 januari 2014 aku coba untuk off dulu untuk sementara dari jejaring sosial semacam facebook, twitter, instagram, bahkan untuk sementara aku akan puasa dulu menggunakan yang namanya smartphone/gadged dan otomatis WA, Line, Wechat, plus BBM juga ga aktif. Entah bisakah aku melakukan itu.. karena aku sudah terbiasa aktif di jejaring sosial itu dan itu semua menjadi seperti candu dan aku ingin mengurangi candu itu dengan hidup seperti layaknya hidup bersosialisasi dengan tatap muka.

Aku tidak menghilang aku masih bisa dihubungi via sms atau telepon genggam karena itu adalah alat komunikasi wajib untuk mencari nafkah, dan sifatnya pun hanya sementara. Satu bulan ya satu bulan atau tepatnya 30 hari dari tanggal 20 januari hari ini sampai tanggal 19 februari nanti. Seseorang yang kebetulan lagi dekat denganku (kenapa ga kubilang kekasih, karena dia belum jadi kekasihku dan belum halal untukku) bertanya kenapa nggak sekalian sampai tanggal 22 februari saja yang kebetulan adalah hari ulang tahunnya. Mungkin dia mengira aku mau membuat surprise untuk dirinya menjelang ulang tahunnya tapi sayangnya bukan itu, surprise untuknya aku sudah menyiapkan sesuatu di hari itu. Namun ini adalah surprise untukku apa yang akan terjadi 30 hari kedepan dengan tanpa komunikasi lewat dunia maya, apakah aku akan kehilangan sahabat, folower di twitter, atau teman di fb ataukah justru makin mengakrabkan persahabatan kami tanpa dunia maya.

Aku juga ingin melihat perubahan yang terjadi dalam diri ini apakah aku tetap bisa eksis di mata teman-teman walau tanpa melalui sosial media. Apakah keberadaanku benar-benar dibutuhkan dalam dunia nyata yang sesungguhnya ataukah hanya jadi pelengkap. Banyak hal-hal yang akan aku rubah di tahun ini bahkan ada 2 keinginanku di tahun ini cukup besar yang ingin aku lakukan yaitu menikah dan berangkat Umroh, beberapa minggu lalu aku berniat untuk daftar Umroh namun Allah masih belum mengijinkan, aku masih disuruh untuk menolong orang lain dulu sebelum aku pantas menghadap ke rumah Allah yang ada di mekkah sana. Sampai saat ini aku tetap mau berusaha untuk terus berihktiar agar 2 keinginanku itu dapat terkabul di tahun ini. Terus memantaskan diri untuk menjadi lelaki soleh idaman para gadis solehah. dan juga memantaskan diri untuk bisa berangkat ke rumah Allah di Mekah.

Untuk lepas dari internet untuk sementara aku masih belum bisa tapi pelan-pelan akan aku kurangi, apabila urusanya bukan pekerjaan sebisa mungkin tak kugunakan jaringan internet. Dalam 30 hari kedepan akan aku coba tuliskan apapun yang bisa aku kerjakan tanpa sosial media, melalui blog pribadiku ini yang jarang sekali orang membukanya. Karena aku hanya ingin menulis apapun yang ingin aku tulis yang ada di kepala dan yang ada di hati cie….

20 januari 2014
~roy~

Posted in puisi

Who Is Me…?

Siapa saya ? itu tidak penting…
Yang terpenting  apa yang saya lakukan baik untuk orang lain
Siapa saya ? itu tidak penting…
Yang terpenting  apa yang aku lakukan membuat orang lain bahagia
Siapa saya ? itu tidak penting…
Yang terpenting  apa yang saya berikan bermanfaat untuk orang lain
Siapa saya ? itu tidak penting…
Yang terpenting  apa yang saya lakukan membuat orang lain tersenyum
Apa profesi saya ? itu tidak penting
Yang terpenting  yang saya dapatkan halal…
berapa penghasilan saya? Itu tidak penting
yang terpenting berapa yang bisa saya berikan agar kemiskinan hilang dari muka bumi
Siapa saya…? bukan siapa siapa….

Posted in Blog

Cinta

Sudah lama aku kehilangan cinta
Sejak seseorang meninggalkanku
Satu persatu orang meninggalkanku
Atau aku yang meninggalkan mereka
Satu persatu aku pun tak tahu
Saat ini aku sendirian
Atau aku sendiri yang merasa kesepian
Ditengah pedulinya sahabatku
Selama ini aku meninggalkan cinta
Selama ini aku menyerahkan cinta
Namun kali ini aku ditinggalkan cinta
Mampukah aku menemukan cinta
Yang telah lama kulupakan…

Posted in renungan

“Kisah Tokoh Muhammadiyyah yang Membaca Qunut Shubuh dan Tokoh NU yang Tidak Membaca Qunut Shubuh”

kiaiKeakraban dan keharmonisan para tokoh pendahulu dari kalangan NU dan Muhammadiyyah sudah terjalin semenjak dahulu, hanya saja kita kurang mengetahui tentangnya. Walau berbeda organisasi hingga berbeda dalam tata cara amaliah ibadahnya, kedua organisasi itu mampu menunjukkan eksistensinya sehingga sekarang.

Kisah berikut begitu menginspirasi kita semua tentang arti sebuah perbedaan, persaudaraan dan penghormatan. Kisah yang dialami oleh dua tokoh utama Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyyah, KH. DR. Idham Chalid dengan Buya Hamka (Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah).

Syahdan, dulu KH. Idham Chalid (Pimpinan PBNU) pernah satu kapal dengan Buya Hamka (tokoh Muhammadiyah) dengan tujuan yang sama menuju tanah suci Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Tidak ada kisah istimewa dari kedua tokoh berbeda paham tersebut hingga waktu shalat Shubuh menjelang.

Di saat hendak melakukan shalat Shubuh berjamaah, KH. Idham Chalid dipersilakan maju untuk mengimami. Secara tiba-tiba, pada rakaat kedua, KH. Idham Chalid meninggalkan praktek Qunut Shubuh, padahal Qunut Shubuh bagi kalangan NU seperti suatu kewajiban. Semua makmun mengikutinya dengan patuh. Tak ada nada protes yang keluar walau ada yang mengganjal di hati.

Sehingga seusai salat Buya Hamka bertanya: “Mengapa Pak Kyai Idham Chalid tidak membaca Qunut.”

Jawab KH. Idham Chalid: “Saya tidak membaca doa Qunut karena yang menjadi makmum adalah Pak Hamka. Saya tak mau memaksa orang yang tak berqunut agar ikut berqunut.”

Keesokan harinya, pada hari kedua, Buya Hamka yang giliran mengimami shalat Shubuh berjamaah. Ketika rakaat kedua, mendadak Buya Hamka mengangkat kedua tangannya, beliau membaca doa Qunut Shubuh yang panjang dan fasih. Padahal bagi kalangan Muhammadiyah Qunut Shubuh hampir tidak pernah diamalkan.

Seusai shalat, KH. Idham Chalid pun bertanya: “Mengapa Pak Hamka tadi membaca doa Qunut Shubuh saat mengimami salat?”

“Karena saya mengimami Pak Kyai Idham Chalid, tokoh NU yang biasa berqunut saat shalat Shubuh. Saya tak mau memaksa orang yang berqunut untuk tidak berqunut,” jawab Buya Hamka merendah.

Akhirnya kedua ulama tersebut saling berpelukan mesra. Jamaah pun menjadi berkaca-kaca menyaksikan kejadian yang mengharukan, air mata tak dapat mereka tahan.

Lihatlah, betapa kebesaran jiwa mereka terbukti melalui kisah ini, betapa besar jiwa kedua pemimpin umat Islam Indonesia itu. Coba kita bandingkan dengan saat ini, dimana masing-masing pengikutnya merasa dirinya yang paling benar dan kadang memaksakan pendapatnya atas yang lain.

Di masa sekarang, sering terjadi pertengkaran bahkan permusuhan hanya karena soal-soal kecil antara orang-orang NU dan orang-orang Muhammadiyah seperti soal Qunut, melafalkan niat shalat dengan ushalli, tahlilan, ziarah kubur, maulidan, manaqiban dan lainnya. Padahal itu semua sama sekali tidak menyangkut ihwal prinsip dalam akidah, tapi hanya menyangkut ihwal yang sunnah, mubah atau makruh, bukan terkait hal yang diharamkan.

(Kisah ini juga tertulis dalam buku “99 Detik Menunggang Harimau Lapar”, pada bab kedua tentang silaturahim dan persaudaraan).

sumber
https://www.facebook.com/gusdurhumor

Posted in My Journey

Menebus Dosa

foto-foto dari pictweet @SSChildSurabaya
perkenalan workshop “kau mengajar” di rumah cita-cita

Minggu kemarin mudahan menjadi titik awal bagiku untuk memulai sesuatu yang baru, suatu kegiatan untuk “Menebus Dosa”, mengapa saya katakan menebus dosa karena  aku pernah melakukan suatu kesalahan yang sengaja namun tidak kusadari kalau apa yang kulakukan itu salah.

Kesalahan itu aku lakukan kira-kira 10 tahun yang lalu ketika aku pertama kali menginjak bumi Borneo (Kalimantan Timur). Saat itu ketika aku memulai karir di perusahaan media saya yang saat itu sebagai staf marketing pemasaran dari koran lokal di samarinda yang di tugasi untuk membuat sebuah rancangan pemasaran untuk pengembagan koran agar tiras koran bisa tumbuh subur dengan oplah yang tinggi. Saat itu aku yang terbiasa hidup di jalalan kota surabaya karena aku besar di kota surabaya yang penuh dengan kehidupan jalanan namun aku tak melihat satu anakpun yang bekerja di jalanan untuk berjualan koran. Berbeda sekali dengan kota surabaya yang sehari-hari aku selalu menjumpai anak-anak jalan yang jualan asongan di lampu merah perempata jalan serta jualan koran. Untuk itu aku mencoba melakukan survei kecil kecilan untuk berjualan dio lampu merah selama 3 hari berturut-turut dibantu ketiga temen kuliah ku yang muka badak (alias tahan malu/gengsi) untuk jualan dilampu merah. Selama tiga hari menjual koran di lampu merah ternyata respon pembeli luar biasa dalam waktu kurang dari setengah hari 100 ekps koran ludes hanya di satu persingpangan lampu merah.

Kemudian langkah selanjutnya kami mencari anak putus sekolah di sekitar pemukiman kumuh yang ada di samarinda, mencari anak-anak dari keluarga miskin yang mau berjualan koran. Kita tempatkan mereka di beberapa titik lampu merah yang cukup ramai. Kita kelola mereka bahkan keuntungan mereja jauh lebih besar daripada pengejec karena harga mereka harga pabrik bukan harga agen. Lambat laun jumlah anak jalanan yang menjadi penjaja koran di lampu merah semakin banyak, jadi secara tidak langsung yang menciptakan anak jalanan di kota samarinda adalah kami dari media atas dasar ide dariku. padahal saat itu samarinda akan menerapkan kota zona bebas pekerja anak seperti kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Bontang tetangganya.

Minggu kemarin saat bergabung dengan temen-temen Save Street Child Surabaya membuat diri ini teramat sangat berdosa dan ingin menebus dosa yang talah aku lakukan di Samarinda dengan menjadi volunter “pengajar keren” bersama teman-teman muda Save Street Child Surabaya. Kenapa aku mulai di Surabaya bukan di samarinda karena saat ini aku tinggal di Kota Pahlawan yang panas ini. Mudahan ini menjadi awal yang baik untukku agar menjadi manusia yang lebih baik yang bisa memberi manfaat untuk orang lain

Surabaya, 25 September 2013
Roy Febrianto
yang ingin menebus dosa