Posted in My Journey

Cerita dari Delta

IMG_9462Waktu menunjukkan pukul 22.00 waktu Surabaya, saat aku pulang dari nonton film di bioskop plaza Surabaya kulihat seorang gadis kecil yang berusia belum genap 10 tahun, dan bocah laki-laki yang belum genap 5 tahun, sedang tidur tanpa alas di lantai plaza yang cukup dingin menurutku. Disampingnya ada gelas plastik untuk tempat uang receh bagi siapapun yang iba dan memberikan recehan padanya juga beberapa lembar Koran yang belum laku tampak tergeletak digunakan sebagai bantal. Saat pertama kali berjumpa aku sempat berikir kemana ibunya, kok tega sampai larut malam kok anaknya dibiarkan tidur di emperan mall, hingga akhirnya aku bergabung dengan komunitas yang peduli dengan nasib mereka, ya komunitas itu bernama Save Street Child Surabaya.

Komunitas SSC Surabaya inilah yang mengenalkanku pada Rahma gadis kecil yang kujumpai pertama kali di Plaza Surabaya waktu itu. Dan ternyata bocah laki-laki yang disampingnya yang cukup aktif adalah adiknya bernama Fano. Aku bergabung menjadi volunter SSC Surabaya sebagai tenaga pengajar yang dikenal dengan sebutan Pengajar Keren dari program KAU Mengajar (Kami Ada Untuk Mengajar). Salah satu program yang digagas SSC Surabaya yang bertujuan untuk kepedulian terhadap dunia pendidikan anak-anak terutama bagi mereka anak-anak jalanan. Ya karena mereka hampir tidak memiliki waktu untuk belajar dirumah ataupun untuk mengikuti bimbingan belajar yang harganya terbilang mahal untuk kondisi perekonomian keluarga mereka.

Sejak bergabung dengan SSC Surabaya aku mulai mengenal siapa Rahma, karena 2 kali semingu tiap selasa dan Rabu jam 19.00 malam, aku turut serta mengajar di wilayah Delta (sebutan untuk Plaza Suabaya) sebagai pengajar keren, awalnya yang mengajar di delta hanya kami berlima bersama Mas Gito, Mas Andy, Mas John, dan si cantik Mbak Aurora di temani dengan pengajar lama yang keibuan Mbak Anis. Sebelum mengajar di Delta kami berlima sebenarnya sudah saling kenal karena dipertemukan di Open Rekrutmen Pengajar Keren SSC Surabaya, yang kebetulan kami berempat yaitu aku, Mas John , Mas Andy juga Mbak Aurora adalah satu kelompok. Seiring berjalannya waktu kakak-kakak pengajar yang turut perpartisipasi di Delta semakin banyak diantaranya ada Bang Jo, Mbak Reny, Mbak Okta, Mbak Wundri, Mbak Intan, Mbak Aulia, Mbak Qowy, Mbak Puspita, Mbak Lala, Mas Indra, Mas Sandy, Mas Fahmi, Mas Ghosy, dan masih banyak lagi yang aku ga kenal namanya satu persatu.

Bersama sahabat-sahabat seperjuangan itulah, aku mulai mengenal siapa sosok Rahma. Seorang gadis kecil yang gigih di usianya yang masih belia, walau kadang sedikit rewel seperti anak-anak pada umumnya. Dan kadang jika dia mulai rewel dan ga mau belajar, kami kakak – kakak pengajar yang laki-laki kadang ga sanggup menghadapi tingkahnya tapi Mbak Aurora yang mungkin sama-sama perempuan sanggup meluluhkan hati Rahma dan mau belajar. Lain Rahma lain lagi dengan adiknya Fano, bocah laki-laki yang super aktif itu paling susah untuk diam, dia mau belajar jika suasana hatinya mau belajar, walau akhir-akhir ini sudah bisa menulis angka 1-10 dengan benar. Bahkan kadang-kadang kakak pengajar yang baru bergabung sering dibuat kerepotan dengan tingkahnya yang ga bisa diam. Sebenarnya ada salah satu pengajar yang mampu menakhlukkan hati Fano, dia salah satu Pengajar Keren yang akhir-akhir ini jarang ngajar. Mungkin karena kesibukannya bekerja atau yang lain aku tak tahu. Yang pasti setiap aku ke Delta yang dicari Fano adalah kakak tersebut bukan kakak pengajar yang lain.

Kelas Delta… ya, mungkin itulah seklumit cerita tentang kelas Delta yang kini hanya mengajar 2 adik, Rahma dan Fano. Sebelumnya ada 4 anak bersaudara dari Ambengan Batu yang ikut meramaikan kegiatan belajar di Delta ini, mereka adalah Putri, Amel, Arya dan Putra dan 3 anak lainnya namun seiring dibukanya kelas baru di dekat rumah mereka, sehingga mereka ikut belajar di Ambengan Batu. Kini di Delta mulai sepi, namun kami tetap datang untuk bertemu Rahma dan Fano sambil tetap belajar sambil bermain. Terima kasih untuk kakak-kakak pengajar yang turut meramaikan Delta.

-Roy-

Pengajar Keren Delta yang masih belum merasa keren.

Posted in My Journey

Senja di “Harina”

Bukan tempat wisata, bukan juga sebuah café, hanya kereta api eksekutif Surabaya-Bandung, ya Kereta Api Harina Expres, seperti nama seorang perempuan memang. Temanku di komunitas SSC bernama Arina juga temanku waktu di SMA dulu namanya juga Arina. Tapi ini bukan membahas soal kedua temanku yang kebetulan namanya hampir mirip dengan kereta api Eksekutif itu. Namun ini adalah perjalananku yang tidak kusengaja, perjalanan yang tak seorangpun tahu, keluargaku pun tak tahu teman-temanku tak tahu, yang tahu hanya Allah dan seorang teman “kecilku” yang kebetulan sedang KKN di Bojonegoro yang akhir-akhir ini aku semakin dekat dengannya justru saat dia jauh dariku.
16.00 WIB. Start
Aku berangkat naik “harina” meninggalkan kota yang semakin hari semakin sejuk. Mungkiin tak lama lagi kota Surabaya ga akan kalah dari sejuknya kota malang karena hadirnya berbagai taman yang berada di seluruh pelosok kota Surabaya. Aku lama tidak melakukan perjalanan. Perjalanan terakhirku di bulan oktober tahun lalu memberikanku pengalaman – pengalaman untuk menemukan keajaiban keajaiban yang ada di sekitar selama kita yakin akan Kebesaran-Nya. Saat ini pun aku melakukan perjalanan juga ingin merasakan keajaiban-keajaiban yang sama saat aku ke Samarinda beberapa bulan lalu.

Awal perjalanku di temani Koran pagi Jawa Pos yang akhir-akhir ini aku lama tidak mengikuti perkembangan beritanya. Hari ini kebetulan berita utamanya tentang perkembangan operasi Face Of pertama di Indonesia yang dimulai sejak 2006 lalu. Kulihat foto terakhir setelah operasi sepertinya akan kembali cantik seperti semula walaupun buatan manusia tak akan sesempurna buatan Illahi. Tapi syukurlah setidaknya perkembangan duni kesehatan di indonseia semakin maju. Setidaknya itulah hal positif yang kuambil dari jawapos hari ini di tengah berita bencana banjir dan gempa yang melanda Indonesia akhir-akhir ini.

Kok malah bicara soal berita sih ya…. Sory prolognya kelamaan… hehehe… aku naik di satu-satunya gerbong ekonomi ber AC dengan tarif 200ribu. Harga yang lumayan mahal untuk dompetku saat ini karena duit di dompet tersisa 430 ribu kalo di potong uang tiket 200 ribu jadi tersisa 230 ribu, mepet sekali … tapi aku percaya dengan keajaiban. Aku pernah pergi ke Berau tanpa uang sama sekali dan masih tetap bisa pulang kok… aku juga pernah ga pegang uang samasekali ketika mau berangkat ke Samarinda eh nggak tahunya beberapa jam sebelum berangkat aku dapat kiriman transfer dari orang yang tak ku duga. Jadi dengan modal 230ribu aku rasa cukup untuk bisa kembali ke Surabaya dengan keajaiban-Nya tentunya.

Di dalam kereta saat aku mulai menulis ini waktu menunjukkan pukul 17.00 waktu setempat aku tak tahu aku berada dimana? Kulihat di luar baru saja aku meninggalkan Lamongan. Makanya di judul aku tulis “Senja di Harina” karena aku mulai menulis ini sambil menikmati senja di dalam kereta api eksekutif ini walau aku naik gerbong ekonomi hehehehe….

Ditemani dengan Cappucino
Sudah sekian lama aku tak naik kereta api. Terakhir aku naik kereta api saat itu kalau ga salah tahun 2007 saat pulang dari Lamongan ke Surabaya bersama bude dengan naik kereta api aku lupa namanya yang pasti saat itu tarifnya Rp.1500,- ya ga salah lagi memang seribu lima ratus rupiah sudah sampai Surabaya dari desa kelahiranku Kabupaten Lamongan . tapi apa yang kurasakan selama satu setengah jam perjalanan itu rasanya ingin muntah, sumpek, sesak, berjubel dengan pedagang ayam yang baunya minta Ampun…, bahkan dalam hati aku masih ingat aku bergumam “ enggak lagi deh naik kereta api”. Tapi sekarang entah kenapa setelah perusahaan kereta api mulai berbenah dan aku mendengar cerita dari saudara iparku (istri kakakku) yang dari blitar yang mengatakan bahwa “kereta api sekarang lebih nyaman ndari pada dulu” membuat aku jadi ingin merasakan naik kereta api lagi , dan sekarang secara tidak terduga dan tanpa kurencanakan sebelumnya aku merasakan kereta api lagi walau kelas ekonomi tapi sudah lebih nyaman daripada dulu. Bahkan saat ini ada “pramugari” yang cantik juga layaknya pesawat yang ikut melayani. Walau hidangannya bukan gratis karena untuk menikmati segelas cappucino aku harus merogoh kocek Rp.12.000/gelasnya cukup untuk menemaniku menulis di kereta di waktu senja, ya “Senja di Harina”

-Roy –
Ditulis di dalam kereta Harina dibaca dimana saja

Posted in inspirasi

Sebulan tanpa gadged & sosial media bisakah…?

Mulai hari ini ya… mulai hari ini tanggal 20 januari 2014 aku coba untuk off dulu untuk sementara dari jejaring sosial semacam facebook, twitter, instagram, bahkan untuk sementara aku akan puasa dulu menggunakan yang namanya smartphone/gadged dan otomatis WA, Line, Wechat, plus BBM juga ga aktif. Entah bisakah aku melakukan itu.. karena aku sudah terbiasa aktif di jejaring sosial itu dan itu semua menjadi seperti candu dan aku ingin mengurangi candu itu dengan hidup seperti layaknya hidup bersosialisasi dengan tatap muka.

Aku tidak menghilang aku masih bisa dihubungi via sms atau telepon genggam karena itu adalah alat komunikasi wajib untuk mencari nafkah, dan sifatnya pun hanya sementara. Satu bulan ya satu bulan atau tepatnya 30 hari dari tanggal 20 januari hari ini sampai tanggal 19 februari nanti. Seseorang yang kebetulan lagi dekat denganku (kenapa ga kubilang kekasih, karena dia belum jadi kekasihku dan belum halal untukku) bertanya kenapa nggak sekalian sampai tanggal 22 februari saja yang kebetulan adalah hari ulang tahunnya. Mungkin dia mengira aku mau membuat surprise untuk dirinya menjelang ulang tahunnya tapi sayangnya bukan itu, surprise untuknya aku sudah menyiapkan sesuatu di hari itu. Namun ini adalah surprise untukku apa yang akan terjadi 30 hari kedepan dengan tanpa komunikasi lewat dunia maya, apakah aku akan kehilangan sahabat, folower di twitter, atau teman di fb ataukah justru makin mengakrabkan persahabatan kami tanpa dunia maya.

Aku juga ingin melihat perubahan yang terjadi dalam diri ini apakah aku tetap bisa eksis di mata teman-teman walau tanpa melalui sosial media. Apakah keberadaanku benar-benar dibutuhkan dalam dunia nyata yang sesungguhnya ataukah hanya jadi pelengkap. Banyak hal-hal yang akan aku rubah di tahun ini bahkan ada 2 keinginanku di tahun ini cukup besar yang ingin aku lakukan yaitu menikah dan berangkat Umroh, beberapa minggu lalu aku berniat untuk daftar Umroh namun Allah masih belum mengijinkan, aku masih disuruh untuk menolong orang lain dulu sebelum aku pantas menghadap ke rumah Allah yang ada di mekkah sana. Sampai saat ini aku tetap mau berusaha untuk terus berihktiar agar 2 keinginanku itu dapat terkabul di tahun ini. Terus memantaskan diri untuk menjadi lelaki soleh idaman para gadis solehah. dan juga memantaskan diri untuk bisa berangkat ke rumah Allah di Mekah.

Untuk lepas dari internet untuk sementara aku masih belum bisa tapi pelan-pelan akan aku kurangi, apabila urusanya bukan pekerjaan sebisa mungkin tak kugunakan jaringan internet. Dalam 30 hari kedepan akan aku coba tuliskan apapun yang bisa aku kerjakan tanpa sosial media, melalui blog pribadiku ini yang jarang sekali orang membukanya. Karena aku hanya ingin menulis apapun yang ingin aku tulis yang ada di kepala dan yang ada di hati cie….

20 januari 2014
~roy~

Posted in puisi

Who Is Me…?

Siapa saya ? itu tidak penting…
Yang terpenting  apa yang saya lakukan baik untuk orang lain
Siapa saya ? itu tidak penting…
Yang terpenting  apa yang aku lakukan membuat orang lain bahagia
Siapa saya ? itu tidak penting…
Yang terpenting  apa yang saya berikan bermanfaat untuk orang lain
Siapa saya ? itu tidak penting…
Yang terpenting  apa yang saya lakukan membuat orang lain tersenyum
Apa profesi saya ? itu tidak penting
Yang terpenting  yang saya dapatkan halal…
berapa penghasilan saya? Itu tidak penting
yang terpenting berapa yang bisa saya berikan agar kemiskinan hilang dari muka bumi
Siapa saya…? bukan siapa siapa….

Posted in Blog

Cinta

Sudah lama aku kehilangan cinta
Sejak seseorang meninggalkanku
Satu persatu orang meninggalkanku
Atau aku yang meninggalkan mereka
Satu persatu aku pun tak tahu
Saat ini aku sendirian
Atau aku sendiri yang merasa kesepian
Ditengah pedulinya sahabatku
Selama ini aku meninggalkan cinta
Selama ini aku menyerahkan cinta
Namun kali ini aku ditinggalkan cinta
Mampukah aku menemukan cinta
Yang telah lama kulupakan…

Posted in renungan

“Kisah Tokoh Muhammadiyyah yang Membaca Qunut Shubuh dan Tokoh NU yang Tidak Membaca Qunut Shubuh”

kiaiKeakraban dan keharmonisan para tokoh pendahulu dari kalangan NU dan Muhammadiyyah sudah terjalin semenjak dahulu, hanya saja kita kurang mengetahui tentangnya. Walau berbeda organisasi hingga berbeda dalam tata cara amaliah ibadahnya, kedua organisasi itu mampu menunjukkan eksistensinya sehingga sekarang.

Kisah berikut begitu menginspirasi kita semua tentang arti sebuah perbedaan, persaudaraan dan penghormatan. Kisah yang dialami oleh dua tokoh utama Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyyah, KH. DR. Idham Chalid dengan Buya Hamka (Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah).

Syahdan, dulu KH. Idham Chalid (Pimpinan PBNU) pernah satu kapal dengan Buya Hamka (tokoh Muhammadiyah) dengan tujuan yang sama menuju tanah suci Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Tidak ada kisah istimewa dari kedua tokoh berbeda paham tersebut hingga waktu shalat Shubuh menjelang.

Di saat hendak melakukan shalat Shubuh berjamaah, KH. Idham Chalid dipersilakan maju untuk mengimami. Secara tiba-tiba, pada rakaat kedua, KH. Idham Chalid meninggalkan praktek Qunut Shubuh, padahal Qunut Shubuh bagi kalangan NU seperti suatu kewajiban. Semua makmun mengikutinya dengan patuh. Tak ada nada protes yang keluar walau ada yang mengganjal di hati.

Sehingga seusai salat Buya Hamka bertanya: “Mengapa Pak Kyai Idham Chalid tidak membaca Qunut.”

Jawab KH. Idham Chalid: “Saya tidak membaca doa Qunut karena yang menjadi makmum adalah Pak Hamka. Saya tak mau memaksa orang yang tak berqunut agar ikut berqunut.”

Keesokan harinya, pada hari kedua, Buya Hamka yang giliran mengimami shalat Shubuh berjamaah. Ketika rakaat kedua, mendadak Buya Hamka mengangkat kedua tangannya, beliau membaca doa Qunut Shubuh yang panjang dan fasih. Padahal bagi kalangan Muhammadiyah Qunut Shubuh hampir tidak pernah diamalkan.

Seusai shalat, KH. Idham Chalid pun bertanya: “Mengapa Pak Hamka tadi membaca doa Qunut Shubuh saat mengimami salat?”

“Karena saya mengimami Pak Kyai Idham Chalid, tokoh NU yang biasa berqunut saat shalat Shubuh. Saya tak mau memaksa orang yang berqunut untuk tidak berqunut,” jawab Buya Hamka merendah.

Akhirnya kedua ulama tersebut saling berpelukan mesra. Jamaah pun menjadi berkaca-kaca menyaksikan kejadian yang mengharukan, air mata tak dapat mereka tahan.

Lihatlah, betapa kebesaran jiwa mereka terbukti melalui kisah ini, betapa besar jiwa kedua pemimpin umat Islam Indonesia itu. Coba kita bandingkan dengan saat ini, dimana masing-masing pengikutnya merasa dirinya yang paling benar dan kadang memaksakan pendapatnya atas yang lain.

Di masa sekarang, sering terjadi pertengkaran bahkan permusuhan hanya karena soal-soal kecil antara orang-orang NU dan orang-orang Muhammadiyah seperti soal Qunut, melafalkan niat shalat dengan ushalli, tahlilan, ziarah kubur, maulidan, manaqiban dan lainnya. Padahal itu semua sama sekali tidak menyangkut ihwal prinsip dalam akidah, tapi hanya menyangkut ihwal yang sunnah, mubah atau makruh, bukan terkait hal yang diharamkan.

(Kisah ini juga tertulis dalam buku “99 Detik Menunggang Harimau Lapar”, pada bab kedua tentang silaturahim dan persaudaraan).

sumber
https://www.facebook.com/gusdurhumor

Posted in My Journey

Menebus Dosa

foto-foto dari pictweet @SSChildSurabaya
perkenalan workshop “kau mengajar” di rumah cita-cita

Minggu kemarin mudahan menjadi titik awal bagiku untuk memulai sesuatu yang baru, suatu kegiatan untuk “Menebus Dosa”, mengapa saya katakan menebus dosa karena  aku pernah melakukan suatu kesalahan yang sengaja namun tidak kusadari kalau apa yang kulakukan itu salah.

Kesalahan itu aku lakukan kira-kira 10 tahun yang lalu ketika aku pertama kali menginjak bumi Borneo (Kalimantan Timur). Saat itu ketika aku memulai karir di perusahaan media saya yang saat itu sebagai staf marketing pemasaran dari koran lokal di samarinda yang di tugasi untuk membuat sebuah rancangan pemasaran untuk pengembagan koran agar tiras koran bisa tumbuh subur dengan oplah yang tinggi. Saat itu aku yang terbiasa hidup di jalalan kota surabaya karena aku besar di kota surabaya yang penuh dengan kehidupan jalanan namun aku tak melihat satu anakpun yang bekerja di jalanan untuk berjualan koran. Berbeda sekali dengan kota surabaya yang sehari-hari aku selalu menjumpai anak-anak jalan yang jualan asongan di lampu merah perempata jalan serta jualan koran. Untuk itu aku mencoba melakukan survei kecil kecilan untuk berjualan dio lampu merah selama 3 hari berturut-turut dibantu ketiga temen kuliah ku yang muka badak (alias tahan malu/gengsi) untuk jualan dilampu merah. Selama tiga hari menjual koran di lampu merah ternyata respon pembeli luar biasa dalam waktu kurang dari setengah hari 100 ekps koran ludes hanya di satu persingpangan lampu merah.

Kemudian langkah selanjutnya kami mencari anak putus sekolah di sekitar pemukiman kumuh yang ada di samarinda, mencari anak-anak dari keluarga miskin yang mau berjualan koran. Kita tempatkan mereka di beberapa titik lampu merah yang cukup ramai. Kita kelola mereka bahkan keuntungan mereja jauh lebih besar daripada pengejec karena harga mereka harga pabrik bukan harga agen. Lambat laun jumlah anak jalanan yang menjadi penjaja koran di lampu merah semakin banyak, jadi secara tidak langsung yang menciptakan anak jalanan di kota samarinda adalah kami dari media atas dasar ide dariku. padahal saat itu samarinda akan menerapkan kota zona bebas pekerja anak seperti kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Bontang tetangganya.

Minggu kemarin saat bergabung dengan temen-temen Save Street Child Surabaya membuat diri ini teramat sangat berdosa dan ingin menebus dosa yang talah aku lakukan di Samarinda dengan menjadi volunter “pengajar keren” bersama teman-teman muda Save Street Child Surabaya. Kenapa aku mulai di Surabaya bukan di samarinda karena saat ini aku tinggal di Kota Pahlawan yang panas ini. Mudahan ini menjadi awal yang baik untukku agar menjadi manusia yang lebih baik yang bisa memberi manfaat untuk orang lain

Surabaya, 25 September 2013
Roy Febrianto
yang ingin menebus dosa

Posted in inspirasi

menjadi nara sumber (arsip catatan fb)

Sabtu kemarin, aku disuruh mengisi materi tentang desain dan perwajahan halaman di salah satu kampus swasta di samarinda. Tepat  pukul 09.00 kakakku memintaku untuk mengisi acara di kampus tersebut tentang materi yang memang menjadi kerjaanku sehari-hari. Sebenarnya sih bukan masalah jika meminta jauh hari sebelumnya, tapi ini untuk acara jam 11.00. Yup, hanya 2 jam persiapanku untuk mengumpulkan materi plus menyiapkan mental untuk berbicara di depan para mahasiswa yang biasanya kritis…

Kalo untuk kakaku sih mungkin bukan hal yang sulit karena dia sudah biasa mengisi materi tentang jurnalistik. Aku tahu karena banyak sekali plakat dan piagam penghargaan yang menghiasi rumahnya yang isinya rata-tara ucapan terima kasih telah mengisi acara-acara tersebut. Namun untukku walau bukan yang pertama tapi cukup membuatku sedikit tegang karena belum terbiasa untuk bicara di depan audiens. Tapi kalo didepan monitor komputer alias chating kerjaan sehari-hari hehehe…

Aku masih ingat ketika pertama kali bicara didepan umum, saat itu aku bicara di depan anak-anak kelas 1 SMA saat menjadi panitia di acara MOS (Masa Orientasi Siswa)  di SMA dulu, ketika mau bicara suara ini hilang entah kemana sampai akhirnya partnerku yang mengambil alih, jika ingat itu jadi malu afwan ya rin…

Nah kembali ke acara kemarin, karena itu bukan pertama kalinya aku bicara didepan umum plus aku juga bukan anak SMA lagi yang masih lugu bingung harus ngapain so waktu yang tersisa kugunakan untuk browsing tentang materi yang akan disampaikan, toh kalaupun ada pertanyaan pasti tak jauh-juh dari apa yang kukerjakan sehar-hari. Akhirnya setelah sampai di kampus untungnya acaranya agak molor setengah jam jadi aku masih diberi kesempatan oleh Allah untuk mempersiapkan mentalku. Alhamdulillah aku dapat melewatinya dengan baik, entah apakah cukup baik bagi mahasiswa yang mendengarkan. Yang pasti aku sudah melakukan yang terbaik. tidak seperti aku yang saat SMA dulu hehehe…

Entah kenapa setiap ada acara seperti itu selalu aku yang ditunjuk untuk maju, seperti halnya ketika ada anak baru yang mau bekerja sebagai layout, selalu aku yang disuruh training, padahal aku ga jago-jago amat. Mungkin temen-temenku kurang bisa dalam mentransfer ilmu, kurang bisa komunikatif untuk mengajari sekalipun dia lebih jago. Bahkan kemarin aku sempet mau dikirim ke bontang hanya untuk melatih anak layout karena disana sudah terbit harian baru Bontang Post tapi untuk mengerjakan layout halaman utama masih dikerjakan di Balikpapan dan Samarinda karena tenaga layout disana dirasa masih belum mampu. Aku juga sering kali mendapat komentar dari anak2 sekolah atau kuliah yang sering magang di kantor, katanya aku lebih baik ngajarnya ketimbang guru mereka  dikelas chie… jadi GE-ER bisa melayang nih… hehehe…

Ternyata transfer ilmu itu tidak mudah ( kalo mudah apa gunanya FKIP hehehe…) buktinya untuk training seseorang aja temen-temenku angkat tangan walau hanya sekedar mengajari apa yang biasa dikerjakan. Seorang guru aja kadang ada yang disukai oleh murid ada yang tidak kerena cara menyampaikan materi yang dirasa kurang sesuai dengan yang diinginkan sang murid. Seorang da’i saja ada yang memiliki masa banyak ada juga yang hanya segelintir karena cara penyampaiannya yang kurang komunikatif. Sejak kejadian kemarin aku mulai berfikir untuk kembali belajar berbicara di depan umum lagi walau yang kuhadapi sehari-hari hanya komputer.

Jadi inget hadist Nabi yang mengatakan: Rasulullah SAW bersabda : Apabila wafat seorang hamba (manusia) maka terputuslah segala amalannya kecuali 3 perkara: shodaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang salih yg mendoakannya. (HR Muslim), Karena aku belum terlalu kaya jadi amal jariahku mungkin sebatas kemampuanku, dan aku juga masih bujang masih belum memiliki anak soleh yang dapat mendoakan aku, doakan ya semoga cepet nikah plus dapat anak yang soleh agar dapat mendoakanku nantinya hehehehe…. Jadi hanya ilmu yang kukuasai ini semoga bermanfaat walau ilmu desain bukan ilmu agama dan mudahan bisa berdakwah lewat desain amin….

apakah kamu sudah sanggup mentransfer ilmu kalian…?

roy febrianto, 22 Nov 2010

Posted in coretanku

buka hatimu (arsip catatan dari Fb)

Yup seperti lagunya armada band….,

Aku sering di suruh seorang temen untuk membuka hatiku terhadap semua temen yang deket dengan aku, agar aku tak sendirian terus… alias menjomblo, agar ada yang sedikit “ngurusin” katanya. Tapi… ternyata itu ga mudah walau aku mencoba untuk beberapa kali berkenalan dengan berbagai temen wanita usulan temen namun hatiku rasanya masih terikat dengan seseorang yang jelas-jelas menolakku dengan alasan klisye “aku menganggapmu sebagai kakak”…

its oke….

but I don’t believe…., dengan apa yang kudengar dari tetangganya yang juga temanku. Biasanya aku selalu mendengar kabar itu dari dia, tentang pekerjaan, temen baru, dosen yang menjengkelkan bahkan temen yang diam-diam menyukainya namun dia sengaja mempermainkannya… biasanya aku selalu tahu kabar itu bukan dari orang lain, tapi kenapa untuk urusan yang satu ini dia ga carita padaku. Aku tahu… mungkin dia melakukan ini agar tak menyakitiku, tapi justru aku merasa…

Buka Hatimu….

Yup mungkin sudah saatnya aku membuka hati, terutama untuk perempuan-perempuan yang baik yang ada di sekitarku, walau untuk memulainya itu cukup sulit. Aku mencoba untuk suka seseorang tapi kok kayaknya nggak ngrespon ya…. apa pedekate-ku yang salah atau aku terlalu menganggap teman terhadapnya jadi seperti just friend. Walau kadang aku pengen memberi perhatian labih tapi aku ga pengen terlalu mencolok kalo aku suka dengan seseorang itu (kalo gitu gimana “dia” bisa tahu perasaanmu…) hehehe… yah biarlah

air tetap mengalir, walau sedikit berharap…

But I believe…

Jika Allah telah menentukan jodohku, aku takkan mampu untuk mengulurnya adan aku juga tak kan mampu untuk mempercepatnya sekalipun aku bersikeras, so usaha sudah pasti karena ini juga salah satu kewajiban, tapi bila belum dipertemukan ya… tunggu saja sambil berikhtiar sambil berdo’a….

-roy febrianto-